Hidup Para Wartawan di Irak | Sosial | DW | 10.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Hidup Para Wartawan di Irak

Keseharian para wartawan di Irak yang penuh ancaman dan bahaya, membatasi kebebasan pers.

Kamerawan TV mengabadikan pembuatan pagar perbatasan Irak-Syria

Kamerawan TV mengabadikan pembuatan pagar perbatasan Irak-Syria

Gambaran kehidupan rakyat Irak, terutama di Bagdad, dipenuhi dengan jalanan yang ditutup dan pasukan militan bersenjata. Sehari-harinya mereka melihat hal ini sebagai hambatan, tetapi juga sering sebagai tindakan perlindungan terhadap rakyat. Karena siapa yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri, hidupnya terancam.

Kekerasan Batasi Kerja Wartawan

Juga para wartawan di Irak yang setiap harinya harus mengambil risiko dalam perjalanan menuju kantor melewati banyak rintangan jalan dan blok-blok semen di depan pintu masuk tempat kerja mereka. Zuhair Al Jazairi, direktur situs berita internet Irak yang paling banyak dikunjungi, Aswat Al-Irak atau Suara Irak, menjelaskan gambaran yang tidak biasa ini.

"Kekecauan politik dan militer di Irak dapat dilihat di media dalam berbagai macam bentuk. Pertama-tama, situasi sekarang ini membatasi kerja dari berbagai media independen, terutama institusi-institusi yang tidak dapat melindungi dirinya dengan pasukan militannya sendiri atau dengan rintangan jalan. Disamping itu, mereka tidak dapat bertahan secara finansial jika mereka tidak didukung dari luar negeri.“

Ancaman Setiap Saat

Kantor-kantor perusahaan media besar dipasangi palang di mana-mana dan para pekerjanya datang ke kantor dan pulang ke rumah dengan bus-bus yang dikawal. Perusahaan media kecil atau perusahaan media independen tidak mampu membiayai hal ini. Selain itu Al-Jaiziri menekankan, bahwa kebebasan pers juga mederita karena kurangnya keamanan dan juga situasi yang berantakan dan menjurus ke arah perang.

”Wartawan-wartawan di Irak menghadapi ancaman dari berbagai sumber setiap saat dan ancaman-ancaman ini membatasi kebebasan pers. Oleh karena itu sulit untuk menanggapi tema-tema secara obyektif dan realistis. Bahasa jurnalistik lama sekarang kembali: bukannya mengusut, melainkan melakukan manuver. Tidak ada yang berani membicarakan sesuatu dengan terbuka, banyak hal tidak disebut dengan nama sebenarnya.“

Laporan Subyektif

Semua orang berbicara tentang Irak dan situasi keamanan di sana, media Irak sendiri jarang memberikan informasi yang dapat dipercaya. Berita tentang Irak menjadi sebuah produk impor. Dan hal ini membuat banyak perusahaan media dalam negeri Irak marah. Karena kebanyakan perusahaan media tergolong kelompok-kelompok etnis atau kelompok-kelompok keagamaan tertentu, laporan sering disiarkan hanya dengan komentar yang subyektif. Menurut AlJ aiziri, negara-negara tetangga juga memainkan peranan dalam hal ini.

"Setiap negara tetangga memberi dukungan kepada media yang menjadi corong kelompok etnisnya atau saudara sekepercayaannya di Irak. Hal ini mempertajam polarisasi agama dan politik. Ini terutama dilakukan oleh negara-negara tetangga yang sudah mempunyai pengaruh yang besar di Irak melalui hubungan dengan kelompok-kelompok keagamaan atau kelompok.kelompok etnis, melalui partai-partai politik dan aliran-aliran di masyarakat.“