Hasil Kunjungan Annan di Teheran | Fokus | DW | 04.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Hasil Kunjungan Annan di Teheran

Setelah kunjungan ke Iran, Kofi Annan hanya memberi komentar yang sudah sering didengar: semua pihak perlu bersabar.

Ahmadinejad dan Annan dalam pertemuan hari Minggu (03/09) di Teheran

Ahmadinejad dan Annan dalam pertemuan hari Minggu (03/09) di Teheran

Sebenarnya, kesabaran pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran sudah lama habis. Eropa juga mulai kehilangan kesabaran. Memang, pada dasarnya kunjungan Kofi Annan ke Iran tidak membawa perubahan – setidaknya pada pandangan sekilas. Republik Iran, seperti yang sering dipaparkan Presiden Mahmoud Ahmadinedjad, bersikeras mempertahankan posisinya. Ahmadinejad menerangkan, pihaknya tetap terbuka untuk perundingan.

Ahmadinedjad: "Penggunaan tenaga nuklir secara damai adalah hak rakyat Iran yang tidak dapat ditawar lagi. Rakyat kami telah memutuskan untuk melaksanakannya atas dasar hukum internasional yang berlaku."

Ini memang sudah sering diutarakan Ahmadinejad dalam berbagai penampilannya di muka umum. Kofi Annan menilai, jalan perundingan masih tetap terbuka.

Kofi Annan: "Tentang masalah atom, presiden telah mengatakan berulang kali, bahwa Iran ingin berunding dan menemukan jalan keluar untuk krisis ini. Tapi ia juga berulangkali menegaskan, ia tidak akan menerima penghentian program pengayaan uranium sebelum perundingan lebih lanjut."

Dengan kata lain: Jika dialog dilanjutkan, masih ada kemungkinan Iran akan menghentikan program pengayaan uranium – paling tidak dalam jangka pendek.

Ini sungguh bukan suatu terobosan besar, melainkan suatu perubahan kecil tapi penting. Karena sebelumnya, Ahmadinedjad selalu menolak tegas penangguhan program atom Iran. Kelihatannya Iran bergerak sedikit dari posisinya.

Uni Eropa sekarang mengutus pejabat urusan luar negerinya, Javier Solana, untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut dengan Teheran. Dialog ini diharapkan dapat membuka kemungkinan perundingan selanjutnya.

Masih belum jelas alasan mengapa presiden Iran kelihatan mengubah pendiriannya. Yang jelas, ia bisa bertindak dari posisi yang kuat. Presiden Iran Ahmadfinejad saat ini menikmati simpati yang luas di Timur Tengah. Hal ini antara lain terbukti melalui hasil penelitian Institut Ibn-Khaldun di Mesir. Institut ini menanyai sekitar 1.700 responden di Mesir, siapa politisi yang paling mereka kagumi. Hasilnya: di peringkat teratas pimpinan Hisbullah Hassan Nasrallah, di peringkat kedua Presiden Iran Ahmadinejad.