Hari Remaja Puteri di Jerman | Seri Uni Jerman | DW | 04.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Hari Remaja Puteri di Jerman

Jika di Indonesia terdapat Hari Kartini yang diperingati sebagai hari persamaan hak perempuan, maka di Jerman terdapat suatu hari di mana anak-anak perempuan diterjunkan ke pekerjaan yang dianggap maskulin.

Girl's Day di Kantor Kanselir Jerman

Girl's Day di Kantor Kanselir Jerman

Melakukan eksperimen di laboratorium, berkeringat di percetakan atau berkutat dengan mesin di bengkel. Pekerjaan yang biasanya ditekuni laki-laki, sejak lama juga dilakukan perempuan. Jerman mencanangkan tanggal 26 April sebagai Girl’s Day, atau Hari Gadis Remaja.

Perempuan menjadi insinyur? Mengapa tidak? Sebenarnya tidak ada pembedaan jenis pekerjaan laki-laki dan perempuan. Semuanya sah-sah saja dilakukan kedua jenis kelamin. Itulah inti Girl’s Day di Jerman. Anggapan tradisional bahwa pekerjaan teknik hanya mampu dilakukan laki-laki sudah kuno. Untuk menyambut Girl’s Day 26 April lalu, pelajar puteri di Jerman kelas 5 hingga kelas 10 mengunjungi dan mencoba pekerjaan maskulin, seperti di bidang teknik dan ilmu pengetahuan alam. Lebih dari delapan ribu acara serupa diselenggarakan di seluruh pelosok Jerman. Salah satu di antaranya di kota Göttingen, negara bagian Niedersachsen. Mari kita temui Alina yang sedang belajar menggunakan gergaji mesin bersama instrukturnya Martin Franz:

„Benda ini sangat berbahaya. Bukan mainan.“

„Iya.“

„Coba saya ikut pegangi gergajinya.“

„Iyaaaa“

Serbuk-serbuk kayu beterbangan di udara, tapi itu tidak membuat Alina hilang konsentrasi. Dia memegang gergaji sekuat tenaganya. Dibantu pekerja kehutanan Martin Franz sebagai instrukturnya, Alina memotong batang pohon dengan gergaji mesin. Gadis berusia 11 tahun itu tahu benar, walau pun menyenangkan, pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang kuat.

„Ya, memang sedikit berat. Berat ketika memegang gergaji supaya tidak terlepas dari tangan.“

Seharian penuh Alina menyaksikan kerja petugas pemelihara tanaman. Pekerjaan yang tidak biasa untuk perempuan. Saat ini di Jerman, sebagian besar anak laki-laki tetap bercita-cita sebagai penerbang, petugas pemadam kebakaran atau montir mobil. Sedangkan anak perempuan cenderung ingin bekerja sebagai asisten dokter, penata rambut atau petugas administrasi kantor. Tujuan dicanangkannya Hari Gadis Remaja atau Girl’s Day adalah mengubah pandangan umum itu. Pada tanggal 26 April tahun ini anak perempuan diberi kesempatan untuk melihat jenis pekerjaan yang belum dikenalnya. Penyelenggara Girl’s Day Hilke Thomas dari Pusat Pendidikan Dewasa Volkshochschule di kota Göttingen menilai, upaya seperti itu penting untuk dilakukan:

“…karena anak perempuan selalu memilih pekerjaan yang menguatkan stereotype perempuan. Beberapa tahun terakhir kami kekurangan tenaga ahli di bidang teknik dan insinyur. Saya pikir sangat bagus bagi anak perempuan untuk memiliki minat mengenal pekerjaan di bidang teknik. Supaya nantinya dapat berkesempatan untuk bekerja dan mendapatkan uang.”

Kekurangan tenaga ahli hanya merupakan salah satu alasan anak perempuan harus lebih banya didukung. Potensinya juga ada, anak perempuan mendapatkan nilai yang lebih bagus dan lebih berhasil di sekolahnya. Tapi jumlah perempuan yang bekerja di bidang teknik sangat sedikit. Hanya 25 persen anak perempuan yang mengikuti pendidikan kejuruan. Dan jika mereka kuliah, anak perempuan cenderung memilih bidang studi seperti sastra, pendidikan atau ilmu sosial ketimbang fisika atau matematika.

Tak jauh dari tempat Alina mengikuti orientasi pengenalan kerja pemeliharaan tanaman, Pauline, gadis berusia 12 tahun tengah melakukan eksperimen fisika.

„Tiup balon dan gosokkan balon itu pada sebuah pintu, daun jendela, dinding, baju hangat dan rambut kamu. Amatilah, di mana balon itu akan menempel.“

Pauline melakukannya. Pertama pada pintu kayu, lalu dinding, baju hangat dan terakhir Pauline menggosokkan balon ke rambut Cynthia.

„Kuasai Fisika“ adalah tema acara Girl’s yang diadakan Universitas Göttingen dan Volkshochschule. Setelah melakukan lebih dari 20 percobaan, gadis-gadis itu merakit kamera lubang jarum dan menggunakannya, serta meneliti kerapatan suatu materi. Hal itu membuat Cynthia sangat terkesan:

„Sebenarnya saya tidak suka fisika, karena guru di sekolah tidak bagus mengajarnya. Makanya saya pikir, saya dapat berusaha supaya saya suka lagi fisika. Dan ternyata sangat menyenangkan.“

Sejak tahun 2001 „Girl’s Day“ diadakan pada Kamis keempat bulan April. Awalnya hanya 39 acara yang diadakan, tapi tahun ini lebih dari delapan ribu acara diselenggarakan untuk Hari Gadis Remaja. Tahun lalu setangah juta anak perempuan berusia sepuluh sampai 16 tahun ikut meramaikan Hari Gadis Remaja.

Saat ini acara serupa diadakan di Luxemburg, Austria, Belgia dan Belanda. sangat banyak dukungan diberikan untuk gadis remaja, bagaimana dengan anak laki-laki? Penyelenggara Hari Gadis Remaja di Universitas Göttingen Karin Ahlborn mengatakan masih terdapat diskriminasi gender di bidang teknik dan ilmu pengetahuan alam:

„Saya tidak percaya laki-laki akan ketinggalan di bidang teknik. Sampai sekarang perempuan tenaga ahli mendapat upah lebih murah dari laki-laki yang memiliki keahlian yang sama.”

Setidaknya, Hari Gadis Remaja merupakan suatu langkah awal yang sudah benar.