Hari PMI: Berbagi Sekantong Darah untuk Selamatkan Nyawa | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 17.09.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Eksklusif

Hari PMI: Berbagi Sekantong Darah untuk Selamatkan Nyawa

Walau tidak separah pada masa puncak pandemi beberapa bulan lalu, stok darah di PMI saat ini masih kurang. Para pendonor masih ragu untuk menyumbangkan darahnya selama pandemi corona.

Ilustrasi bank darah

Ilustrasi bank darah

Di hari jadi ke-76 yang jatuh pada 17 September, banyak tantangan yang masih dihadapi Palang Merah Indonesia (PMI). Selama pandemi, PMI harus menyediakan darah konvalesen untuk penderita COVID-19. Selain itu, keterbatasan stok darah karena para pendonor merasa ragu jadi masalah yang kentara. 

Keadaaan ini tergambar di PMI Klender Jakarta Timur. Malam itu, Rabu (15/09) pukul 22.00 WIB belasan orang masih terlihat mengantre untuk mencari darah bagi sanak saudara mereka. Salah satu keluarga penderita kanker, Sri Lestari Indah, 34, menceritakan kalau darah sangat sulit didapatkan dalam beberapa minggu terakhir.

Ia sejak Rabu malam harus putar otak untuk mencarikan stok darah A yang dibutuhkan ayahnya untuk kemoterapi. Pihak RS memberikannya surat untuk dibawa ke bank darah atau PMI untuk mendapatkan darah sesuai yang diminta.

Dari meminta bantuan tetangga, sampai kerabat ia jalani demi mendapatkan sekantong darah di PMI terdekat. "Saya sudah bawa tiga orang kerabat hanya dapat satu kantong 500 ml saja untuk dibawa ke RS. Masing-masing orang maksimal hanya boleh diambil 250 ml, tak boleh lebih," ujar Sri Lestari kepada DW Indonesia.

Setelah itu, darah tersebut belum bisa langsung dibawa ke RS namun harus menjalani proses pembersihan selama 1x24 jam sehingga proses kemoterapi pun tertunda.

Menurut Indah, keadaan seperti ini sudah berlangsung selama dua bulan terakhir, pihak RS selalu memintanya mencari tambahan darah untuk ayahnya karena stok darah di bank darah RS kosong.

"Sejak PPKM itu sulit, mungkin orang juga takut mau keluar. Pihak RS bilang mobil PMI juga yang biasanya keliling mencari darah harus terhenti selama PPKM," ujar Indah. Ia berharap, lebih banyak lagi orang yang mendonor, di samping juga upaya PMI untuk memenuhi stok darah di rumah sakit.

Kekurangan stok darah selama pandemi

Ketua Bidang Pengembangan Unit Donor Darah PMI Pusat dr. Linda Lukitari Waseso mengakui sejak adanya pembatasan kegiatan karena pandemi, stok darah berkurang banyak. Hampir di seluruh wilayah Indonesia mengalami penurunan stok darah, utamanya di daerah dengan zona merah.

"Darah itu alami tidak bisa digantikan dengan sintetis jadi karena pandemi orang takut datang ke PMI takut tertular padahal baik staf dan petugas medis pasti gunakan alat pelindung diri," kata dr. Linda kepada DW Indonesia.

Dr. Linda Lukitari Waseso dari PMI

Dr. Linda Lukitari Waseso dari PMI

Berdasarkan data PMI tahun 2020, setidaknya dibutuhkan sekitar 1000 kantong darah/hari. Apalagi dalam keadaan pandemi, kebutuhan darah pun ikut melonjak dua kali lipat karena penderita COVID-19 juga butuh darah konvalesen.

Selama pandemi, stok darah berkurang menjadi hanya 400 - 500 kantong per hari. "Juni - Juli masa terburuk bahkan yang antri darah itu total 400 per hari. Itu baru yang antre," kata dia. 

Keadaan ini secara langsung mengganggu jadwal pengobatan di RS bagi orang yang membutuhkan transfusi darah seperti penderita kanker, talasemia, dan cuci darah, sehingga banyak orang mencari donor pengganti dari pihak keluarga.

PMI melakukan jemput bola ke lapangan dengan dibantu TNI dan Polri untuk mencari donor rumah ke rumah.

"Dikarenakan ke instansi tutup, kita ke RT/RW, karena jumlah orang dibatasi komunitas yang lebih kecil di sasar, 10 orang -15 orang minimal 75 orang dapat per hari kita yang datang koordinasi dengan pak RW setempat," lanjut dr. Linda.

Dari upaya ini, ujarnya, ada kenaikan stok darah hingga 10% menjadi sekitar 700 - 800 kantong. "Walaupun ada kekurangan namun tidak terlampau jauh gapnya dengan kebutuhan."

Dorong masyarakat mendonorkan darah

Pendiri Yayasan Blood For Life, Valencia Mieke Randa, mengakui saat ini memang sulit mencari pendonor darah karena berbagai macam sebab, mulai dari PPKM, takut keluar rumah, ada yang belum sembuh dari COVID-19, hingga harus menunggu dua minggu setelah vaksinasi COVID-19.

Blood For Life memiliki data standby donor yang diperkirakan mencapai 180.000 pendonor dari seluruh Indonesia. Ketika ada kebutuhan, jelasnya, para standy donor ini bisa langsung datang kapan pun dibutuhkan darahnya.

"Kami selalu mengimbau orang supaya mau mendonorkan darahnya karena saat ini banyak sekali orang yang butuh darah. Kami selalu mengedukasi orang supaya mau berbagi darah ke orang lain, karena sekantong darah itu tidak akan buat kita miskin, tidak akan bikin kita kehilangan apa pun. Malah sekantong darah itu bisa menyelamatkan satu nyawa." 

Ia berharap, masa pandemi semua orang bisa saling membantu. Jika tidak dengan uang, bantuan bisa dalam bentuk apa pun, bahkan dengan sekantong darah.

Berawal dari 2009, kini komunitas Blood For Life sudah memiliki lebih dari 40 ribu pengikut di media sosial dengan 60 relawan di 22 provinsi di Indonesia. Jumlah pendonor tetap Blood For Life sendiri pun bertambah dari hanya 44 orang di tahun 2009, kini sudah punya 180.000 pendonor.

Salah satu pendonor Dwinita Ayu (41) mengatakan dia tergerak mendonor sejak beberapa tahun silam karena mendonor membuat hatinya bahagia. Sejak pandemi ia mengaku jarang mendonor karena belum berani ke luar. "Biasanya donor setiap ada orang yang butuh tapi sejak pandemi belum berani lagi," katanya. (ae)

Laporan Pilihan