190109 China Tibet Feiertag
21 Januari 2009
Di Tibet, bulan Maret dikaitkan dengan sejumlah peristiwa berdarah. Demonstrasi bulan Maret 1989 di Lhasa yang dibubarkan dengan kekerasan, tahun ini diperingati untuk ke-20 kalinya. Menjelang Olimpiade musim panas di Beijing, aksi unjuk rasa marak di Tibet. Demonstrasi yang dimulai 10 Maret itu berubah menjadi bentrokan berdarah. Menurut pemerintah eksil Tibet, 200 orang tewas dan ribuan terluka dalam bentrokan tersebut.
Justru dalam bulan Maret inilah pemerintah di Beijing menetapkan hari raya nasional yang baru. Tanggal 28 Maret ditetapkan sebagai "Hari Pembebasan Tibet dari Perbudakan". Menurut kantor berita resmi Cina Xinhua, tanggal ini dipilih karena pada tanggal 28 Maret 1959, pemimpin agama tertinggi Tibet Dalai Lama memulai eksilnya di India Utara. Selanjutnya laporan Xinhua menyebutkan, ini merupakan awal kebebasan rakyat Tibet dari kungkungan rezim feodal Dalai Lama dan para pendukungnya. Thomas Mann, presiden intergroup Tibet di Parlemen Eropa mengatakan, kebijakan ini adalah "penghinaan luar biasa bagi rakyat Tibet dan Dalai Lama."
"Apa yang mereka lakukan adalah acara propaganda besar-besaran. Saya kira, setelah Olimpiade pemerintah Cina berupaya menunjukkan, apapun yang mungkin di dunia ini dapat mereka lakukan", demikian Mann.
Pemerintah Cina berhati-hati dalam pemberian nama hari nasional baru ini. Mereka tidak menyebutnya "Hari Kebebasan Tibet" tapi "Hari Pembebasan Tibet dari Perbudakan oleh rezim feodal Dalai Lama". Penulis Tibet Tsering Woeser mengkritik keputusan pemerintah Cina. Penetapan hari peringatan ini sangat ironis dan menyedihkan, demikian Woeser yang menjalani tahanan rumah di Beijing:
"Pemerintah komunis Cina selalu berupaya menetapkan tahun 1959 sebagai garis pembatas antara Tibet yang lama dan Tibet baru. Mungkin kesannya lebih legitim, bila hari peringatan bagi pembebasan Tibet dari perbudakan ditetapkan di era Mao. Tapi, nyatanya ini ditetapkan sekarang, 50 tahun setelahnya. Ini sama sekali bertolak belakang dengan Zeitgeist, dengan pola pikir saat ini. Kita semua tahu bahwa rencana ini merujuk pada maraknya protes tahun lalu."
Dalai Lama, pemimpin agama tertinggi Tibet, sejak 50 tahun hidup di pengasingan di Dharamsala, India Utara. Di samping itu, ada 150.000 warga Tibet yang hidup di pengasingan. Warga Tibet di luar negeri membentuk pemerintahan eksil. Menurut anggota Parlemen Eropa Thomas Mann, pemerintahan eksil Tibet sudah demokratis. Bentuk pemerintahannya tidak bisa dikatakan rezim feodal:
"Beberapa tahun lalu, warga Tibet di pengasingan melakukan pemilihan langsung untuk menentukan pemerintahannya. Waktu itu, saya mengikuti pemilu di Dharamsala. Saya menyaksikan pemilihan Professor Samdhong Rinpoche sebagai perdana menteri pemerintahan eksil. Di Tibet ada pemerintahan yang dipilih rakyat dan bukan ditunjuk."
Menurut penulis Tibet Woerser, sejak tahun lalu pemerintah Cina berulang kali mencoba menampilkan gambaran warga Tibet yang puas dan bahagia. Tapi, protes yang marak bulan Maret 2008 membuktikan bahwa para penguasa di Beijing tetap gagal meyakinkan warga Tibet untuk menerima kebijakan politik Cina. Karena itu tetap terjadi ketegangan politik, bentrokan dan juga aksi kekerasan berdarah - seperti yang terjadi Maret 2008. Namun, menurut Tsering Woerser, Maret ini kejadian tersebut tak akan terulang lagi:
"Tetap ada militer di sana, dan sejumlah aparat keamanan yang mengenakan pakaian sipil. Dalam situasi yang terkontrol ini tidak ada peluang untuk mengelar demonstrasi besar-besaran. Tapi, ketidakpuasan warga Tibet tetap dapat dirasakan."
Menurut Thomas Mann, Parlemen Eropa berencana untuk membahas program yang diajukan Dalai Lama, tapi ditolak oleh Beijing. Mann menambahkan, intergroup Tibet dalam Parlemen Eropa berupaya meneruskan perdebatan ini ke parlemen nasional negara anggota Uni Eropa agar ikut menolak rencana pemerintah Cina itu. (zer)