Hari Air Internasional: Kamboja dan Air | Sosial | DW | 22.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Hari Air Internasional: Kamboja dan Air

Kehidupan banyak warga Kamboja kini terancam oleh ketidak-seimbangan ekologis yang disebabkan manusia.

Sungai Mekong, Kamboja

Sungai Mekong, Kamboja

Sekitar 1.200 jenis ikan hidup di Sungai Mekong yang mengalir ke danau Tonle Sap di Kamboja. Hasil penangkapan ikan Kamboja berada di posisi ke empat terbesar di dunia. Bahkan nama mata uangnya, Riel, berakar pada jenis ikan yang berada di sana. Kehidupan banyak warga Kamboja kini terancam oleh ketidak-seimbangan ekologis yang disebabkan manusia.

Suasana pasar ikan di ibukota Phnom Penh mirip dengan pasar rakyat di Indonesia. Tak jauh dari istana raja, di sekitar pasar utama ada sebagian jalan yang ditutup. Pukul 7 pagi satpam sudah hilir mudik meronda di situ. Sementara puluhan pedagang yang kebanyakan perempuan berjongkok membersihkan ikan segar di atas amparan alas plastik. Rahmatjan, sejak dini hari mencari nafkah di situ: "Setiap pagi mulai pukul 7 saya menjual ikan di sini. Desa saya jauh, 10 kilometer dari kota. Di sana saya beli ikan dari tetangga. Modal saya sehari 25 Dolar, bila ikannya terjual semua, saya dapat untung 4 Dolar.“

Empat juta orang yakni sekitar 30% populasi Kamboja berkutat dengan perdagangan ikan. Pakar perairan dari Pusat Perikanan Dunia di Phnom Penh, Eric Baran, menegaskan pentingnya ikan bagi ekonomi Kamboja.

"Dari jumlah ikan yang ditangkap, Kamboja berada di posisi keempat setelah Cina, India dan Bangladesh. Dan harus diingat, populasi Cina, India dan Bangladesh itu jauh lebih besar dari Kamboja yang populasinya hanya 12 juta orang.“

Kenyataannya, dari perairan Kamboja, lebih dari 400 ribu ton ikan ditangkap setiap tahunnya. Sekitar 50 ribu ton diekspor, baik ke negara tetangga maupun ke luar kawasan Asia. Sektor perikanan Kamboja menghasilkan 300 juta Dolar AS setahun dan merupakan 12 persen dari Produk Brutto Dalam Negeri Kamboa. Namun hal ini mulai terancam.

Perkembangan ekonomi di Kamboja juga meruncingkan persaingan untuk air. Selain bendungan listrik, juga proyek-proyek irigasi membutuhkan air. Selain itu, pengeringan lahan dan penebangan kayu di bantaran sungai demi perluasan perkebunan dan pemukiman, juga merupakan hal yang mengancam perikanan Kamboja. Sekarang saja jumlah jenis ikan sudah berkurang. Menurut para nelayan, ukuran ikan-ikan yang ditangkap sudah jauh lebih kecil dan karenanya untuk mempertahankan tingkat penghasilan maka jumlah ikan yang ditangkap jauh lebih banyak.

Chaman Choun dari Departemen Perikanan Kamboja melihat pentingnya kemajuan negaranya. Meski begitu, ia juga menyadari ancaman yang dihadapi. "Dalam mempertimbangkan keuntungan sebuah bendungan, misalnya dari segi membuka lahan kerja, penghasilan nasional, kami selalu berbenturan dengan kenyataan bahwa sangat sulit untuk mengimbangi kerugian yang juga disebabkan oleh pembanguan bendungan. Apalagi karena sampai sekarang kami tidak mampu mengubah kerusakan yang disebabkan manusia itu.“

Lebih dari 85% rakyat Kamboja hidup dari pertanian. Kehidupan mereka sangat bergantung pada lahan, lingkungan hidup dan sumber daya alam, termasuk air.