Masuk Musim Dingin, Harga Energi di Jerman Terus Naik | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.12.2021

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Biaya Energi

Masuk Musim Dingin, Harga Energi di Jerman Terus Naik

Harga energi melonjak tahun 2021, membuat biaya transportasi dan pemanasan ruangan lebih mahal. Salah satu alasannya adalah pemulihan ekonomi global. Selain itu, investasi untuk bahan bakar fosil sejak lama makin surut.

Foto ilustrasi musim dingin di Jerman

Foto ilustrasi musim dingin di Jerman

Menjelang akhir tahun, banyak pelanggan gas di Jerman menerima surat dari perusahaan penyalur. Beruntung kalau mereka hanya dikenakan kenaikan biaya 10 persen. Karena kebanyakan penyalur menaikkan biaya pemasokan gas sampai 30 persen.

Pemulihan ekonomi global setelah kemerosotan di masa pandemi membuat pasokan energi menjadi langka. Apalagi ketika dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan Cina, mulai beranjak meningkatkan kegiatan ekonomi. Harga minyak dan gas di pasaran bergerak naik dengan cepat, dan belum terlihat tren itu akan berakhir.

Salah satu dampaknya adalah naiknya tingkat inflasi ke rekor tertinggi di AS dan Eropa. Inflasi di Eropa mencapai 5 persen, hal yang sudah jarang dialami dan mengingatkan pada situasi tahun 1970-an dan 1980-an. Di AS, tingkat inflasi November lalu mencapai 6,8 persen, tertinggi sejak pertengahan 1982.

Turbin tenaga angin di Jerman

Banyak negara sedang melakukan transformasi energi menuju energi terbarukan

Pasokan gas turun, permintaan energi menigkat

Kenaikan tajam harga gas alam terjadi pada tahun 2021. Sejak Maret 2020, ketika pandemi virus corona mulai menyebar ke seluruh dunia, harga gas sekarang sudah berlipat ganda. Sedangkan biaya energi untuk satu megawatt/jam yang dulunya berkisar antara 15 sampai 20 euro diperkirakan akan mencapai 60 euro hingga pertengahan 2022.

Harga minyak mentah sudah lebih dulu meningkat tajam, dari sekitar 50 dolar untuk satu barel North Sea Brent pada akhir 2020 menjadi 86 dolar pada akhir Oktober 2021, sebelum turun sedikit menjadi 75 dolar awal Desember lalu.

Padahal bulan April 2020, dunia masih melihat fenomena ganjil: untuk pertama kalinya dalam sejarah harga minyak mentah West Texas Intermediate menjadi negatif. Dengan kata lain, pembeli praktis akan mendapat minyak dari dealer lebih banyak daripada yang mereka bayar. Masalahnya:  penyalur minyak tidak lagi tahu di mana harus menyimpan minyak mereka yang berlebihan, ketika kegiatan ekonomi global dihentikan oleh virus corona.

Cuaca dingin bisa dorong lagi kenaikan harga

"Musim dingin masih jauh dari selesai," kata Arne Bergvik, kepala analis di perusahaan energi Swedia Jamtkraft. Berbicara kepada Bloomberg, dia mengatakan jika musim dingin kali ini menjadi lebih dingin dari biasanya, itu bisa menyebabkan "harga energi yang tinggi untuk sisa musim ini", karena suplai gas bumi dan minyak mentah yang tersendat.

Sejak negara-negara ekonomi besar mulai pulih dari pandemi dan permintaan meningkat cepat, pasokan bahan mentah memang terbatas. Ini terutama karena selama bertahun-tahun hanya sedikit uang diinvestasikan untuk bahan bakar fosil, yang dianggap merusak iklim. Kebanyakan negara sedang mengalihkan sumber energinya ke energi terbarukan.

Awal Desember, Forum Energi Internasional mengatakan investasi dalam produksi minyak dan gas alam harus ditingkatkan menjadi $523 miliar per tahun pada akhir dekade ini untuk menghentikan kenaikan tajam lebih lanjut dalam harga energi.

(hp/ha)

Laporan Pilihan