1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Harapan Reformasi di Iran

Jashar Erfanian4 April 2013

Bulan Juni mendatang, Iran akan menggelar pemilu presiden. Setelah menjabat dua periode, Presiden Ahmadinejad tidak bisa mencalonkan diri lagi. Bagaimana peluang reformasi?

https://p.dw.com/p/188pG
Pro-reform leader Mir Hossein Mousavi, center, speaks to his supporters during a rally in Tehran, Iran, on Monday June 15, 2009.
Arsip pemilu Iran 2009Foto: AP

Masa depan politik di Iran masih belum jelas. Kubu konservatif yang menguasai negara itu sekarang terpecah, Hampir tidak ada minggu dilalui tanpa adu kekuatan antara pendukung Presiden Mahmud Ahmadinejad dan kubu tradisionalis di bawah pimpinan Pemimpin Tertinggi Revolusi, Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei ingin memperbesar pengaruhnya dan memonopoli kekuasaan. Tapi Ahmadinejad menentang upaya itu. Pertengkaran ini membuka peluang baru bagi kekuatan yang mulai dilupakan, yaitu kubu reformasi.

Pada pemilu presiden tahun 2009, lawan-lawan politik Ahmadinejad menggalang aksi protes, ketika Ahmadinejad dinyatakan sebagai pemenang pemilu. Para penentangnya menggelar aksi protes dan menuduh Ahmadinejad melakukan manipulasi. Ratusan ribu orang berdemonstrasi dengan motto: ”Dimana suara saya”.

Para demonstran bersatu dalam apa yang dinamakan ”Gerakan Hijau”. Tokoh-tokoh politik utama saat itu adalah Mehdi Karroubi dan Mir Hossein Mousavi. Aksi demonstrasi dibubarkan dengan kekerasan oleh aparat keamanan. Gerakan protes itu hanya berlangsung sekitar enam bulan. Karroubi dan Mousavi mengalami tekanan dan dikenakan tahanan rumah. Dua partai reformis dinyatakan sebagai partai terlarang.

Stagnasi dan Sanksi

Banyak politisi oposisi, aktivis, wartawan dan blogger yang diadili dan masuk penjara. Pada saat yang sama, situasi ekonomi Iran makin memburuk karena kesalahan manajemen dan adanya sanksi internasional. Banyak warga Iran kecewa dan merasa tertekan dengan situasi saat ini. ”Saya kaget melihat orang-orang dan suasana yang tertekan di kota ini. Malah dalam penjara kehidupan rasanya lebih bebas”, kata Mahsa Amrabadi, seorang wartawan perempuan yang menjalani masa tahanan di penjara Evin yang terkenal. Ia menceritakan itu ketika sedang mendapat cuti tahanan selama beberapa hari.

Karena situasi sosial makin sulit, para aktivis gerakan reformasi memutuskan untuk ikut dalam pemilihan umum bulan Juni mendatang. Motto mereka kali ini adalah untuk mendukung ”pemerintahan yang memberi harapan, kepercayaan dan stabilitas”.

Kandidat Reformasi

Yang jadi favorit dari kubu reformasi adalah sebuah wajah lama: Mohammad Khatami, pendahulu Ahmadinejad. Baru-baru ini, 91 tokoh politik, aktivis dan anggota keluarga kelompok oposisi yang dipenjara, menulis surat terbuka yang meminta agar Khatami mencalonkan diri. Politisi reformasi Mostafa Tajzadeh, yang sejak 2009 ditahan di penjara Evin yakin Khatami punya peluang besar. ”Semua jajak pendapat menunjukkan, Khatami bisa meraih kemenangan besar dalam pemilu”.

Tapi tidak semua pendukung reformasi setuju untuk ikut pemilu. Banyak yang kecewa dengan perkembangan politik setelah 2009. Mereka menganggap, partisipasi dalam pemilu hanya berarti ”memberi legitimasi pada sistem diktatur”.

”Kita tidak boleh ikut dalam pemilu yang dimanipulasi”, kata Ardeshir Amir Arjomand, yang dulu menjadi penasehat tokoh oposisi Mir Hossein Mousavi. ”Selama Khamenei tidak mengubah politiknya, selama ia tidak mengijinkan pemilu bebas, tak ada gunanya ikut pemilu”, tandasnya.

Belum jelas, apakah Khatami atau tokoh reformasi lain akan diijinkan ikut pemilu. Calon presiden yang berhak maju dlam pemilu akan ditetapkan oleh Dewan Pengawas yang beranggotakan 12 orang. Anggotanya berhaluan konservatif. Tahun 2009, dari 475 orang yang mengajukan diri, hanya 4 kandidat yang diijinkan ikut pemilu. Dewan pengawas menolak kandidat perempuan. Banyak orang menduga, keputusan terakhir ada di tangan Ayatollah Ali Khamenei