Harapan dari Pusat Trauma Irlandia | Fokus | DW | 14.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Harapan dari Pusat Trauma Irlandia

Tak ada lagi gerakna bersenjata di Irlandia. Yang tinggal, perjuangan politik. Namun siosa-sisa kekerasan dan kebencian Katolik vs Protestan masih membekas. Pusat-pusat trauma berusaha memulihkannya.

Jalanan di Belfast

Jalanan di Belfast

"Kepemimpinan Pejuang Irlandia telah secara resmi memerintahkan dihentikannya gerakan bersenjata. Ini akan mulai berlaku sejak pukul 4 sore ini. Seluruh unit IRA telah diperintahkan untuk meletakkan senjata."

Begitulah pernyataan bersejarah, Juli 2005, yang diumumkan pemimpin Tentara Republik Iralandia, gerilyawan kemerdekaan Irlandia. Mulai saat itu, IRA, meninggalkan metode perjuangan bersenjata. Gerilyawan Katolik itu beralih sepenuhnya pada perjuangan politik. Dengan begitu terbukalah jalan bagi suatu penyelesaian menyeluruh dan langgeng bagi konflik berdarah Irlandia yang sudah berlangsung puluhan tahun itu.

Kelompok-kelompok paramiliter Protestan juga mengambil langkah yang sama, meninggalkan senjata. Lalu para politikus dari kedua belah pihak terus melakukan pembicaraan untuk merundingkan pembagian kekuasaan. Mestinya, kesepakatan mengenai hal itu akan dicapai Maret tahun depan.

Senapan telah dibungkam, pertempuran telah dihentikan. Namun masa-masa konflik berdarah yang dikenal sebagai "The Troubles" atau "Masa Pergolakan" menyisakan luka yang bagi sejumlah orang cukup lama untuk disembuhkan. Itulah yang mendorong Mina Wardle mendirikan Pusat Pemulihan Trauma.

Pusat Trauma ini berlokasi di daerah Shankill yang termasuk kawasan Protestan di Belfast, ibu kota Irlandia. Pengalaman langsung Mina Wardle mendorongnya mendirikan Pusat Trauma ini:

"Latar belakangnya , 20 tahun lalu saya merupakan korban bertubi-tubi dari konflik di Irlandia Utara. Konflik itu membuat saya selama 7 bulan jadi agrofobi, takut akan keramaian.Lalu suatu waktu saya duduk di rumah dan mwembayangkan: bagaimana kalau saya mempelajari tentang, ya – bagaimana perasaan orang-orang, bagaimana orang yang sampai tidak lagi merasakan apapun dan tidak faham apa yang terjadi pada mereka?"

Sekarang, orang-orang yang memiliki masalah seperti itu bisa datang ke Pusat Trauma yang didirikan Wardle. Mereka untuk mendapat terafi. Misalnya dengan latihan melukis. Seperti Steven yang menjalankan program itu tiga kali seminggu:

"Hal ini membuat saya tidak merasa sendirian. Kita tidak merasa terasing. Jauh lebih mudah mengatasi semua masalah jika kita bersama-sama, ketimbang dilakukan sendirian. Jadi ketika datang ke sini, kita bersama banyak sekali orang lain. Karenanya, orang lain tahu, apa masalah kita, dan mengulurkan bantuan. Kita pun akan membantu mereka."

Pembiayaan pusat trauma ini diperoleh dari bantuan Uni Eropa. Untuk berbagai proyek pembangunan kembali Irlandia Utara yang damai dan stabil Uni Eropa seluruhnya mengucurkan dana 425 juta euro, atau sekitar 5 trilyun rupiah. Pusat trauma Mina Wardle memang terbuka bagi semua orang, baik Katolik maupun Protestan. Namun letaknya di kawasan Protestan, membuat banyak warga Katolik masih enggan datang. Karenanya Pusat trauma semacam itu dibangun juga di kawasan Katolik, untuk membantu memulihkan para korban masa pergolakan yang mengalami trauma kejiwaan, yang jumlahnya ternyata tak sedikit.

Saling curiga dan sisa kebencian dari konflik Protestan-Katolik di Irlandia Utara yang berlangsung puluhan tahun memang masih dalam membekas. Terutama di Belfast Barat. Di sini warga Katolik dan Protestan benar-benar hidup terpisah. Di antara kedua kawasan, terdapat apa yang disebut garis perdamaian. Bentuknya berupa pagar tembok setinggi 10 hingga 15 meter, tak ubahnya Tembok Berlin atau Tembok Jalur Gaza.

Namun di antara gambaran kelam itu, muncul cercah-cercah harapan. Seperti Rebecca, seorang siswi berusia 15 tahun ini:

"Saya sebetulnya belum pernah mempertanyakan agama saya, sampai suatu ketika seorang teman bertanya apa agama saya. Dan saya tak mampu menjawab, karena masalah itu tak pernah terlintas di benak saya. Buat saya semua orang pada dasarnya manusia. Tidak ada perlunya membeda-bedakan orang berdasarkan agama. Semuanya sama manusia"