Hak Mendapatkan Air Bersih | Fokus | DW | 22.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Hak Mendapatkan Air Bersih

Di akhir Forum Air Dunia di Meksiko City, terutama NGO mendesak penyusunan undang-undang bagi hak untuk mendapatkan air bersih.

Bagi banyak penduduk dunia, air merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya.

Bagi banyak penduduk dunia, air merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya.

"Hak untuk mendapatkan Air Bersih“. Ini mungkin terdengar sangat janggal, tapi tidak bagi banyak orang di negara-negara miskin. 40 persen dari penduduk dunia mempunyai akses air bersih yang terbatas atau tidak mempunyai sistem pembuangan air yang memadai. 1,2 miliar orang kesulitan mendapatkan air.

Tema mengenai hak mendapatkan air dapat diangkat dalam Forum Air Dunia ini berkat usaha para pengkritik globalisasi. Sejalan dengan berlangsungnya forum ini, mereka mengadakan berbagai aksi di Meksiko City memprotes privatisasi air. Salah satu dari mereka adalah Menteri Pengairan Bolivia Abel Mamani dan Ketua Yayasan France Libertés, Danielle Mittérrand. Mereka menuntut dihentikannya privatisasi pengadaan air dan jaminan kebutuhan dasar air sebanyak 40 liter bagi tiap orang setiap harinya.

Dalam Forum Air Sedunia tiga tahun lalu di Kyoto, Jepang, tema mengenai hak mendapatkan air bersih tidak disinggung. Menurut Jamie Pittock dari World Water Forum ( WWF), Forum Air Dunia tahun ini merupakan satu kesempatan bagus untuk tercapainya satu kemajuan.

Pittock: "Saya pikir, tema ini tidak dianggap serius oleh berbagai negara dengan beberapa alasan. Pertama, ini merupakan satu proses yang tidak resmi, yang tidak mempunyai kekuatan hukum. Kesepakatan akhir yang dicapai forum merupakan sesuatu yang tidak mempunyai arti banyak. Dalam kesepakatan ini tidak dicantumkan laporan hasil kemajuan yang dicapai beberapa tahun terakhir dan juga tidak dijanjikannnya sesuatu yang baru. Saya pikir, penduduk dunia mempunyai hak untuk bertanya, apakah uang yang dikeluarkan untuk membiayai para wakil dari 130 negara untuk menghadiri forum ini bermanfaat atau tidak, jika orang mengetahui, bahwa forum ini tidak menghasilkan apa-apa.“

Kritik juga semakin tajam dilontarkan kepada Bank Dunia. Proyek pengairan yang didanai Bank Dunia hanya mendatangkan keuntungan bagi para kontraktor dan industri pertanian yang berorientasi ekspor. Sementara dalam banyak kasus, penduduk kecil menjadi korban.

Untuk membangun proyek pengadaan air bersih di seluruh dunia, diperlukan biaya sebesar 15 miliar Dollar. Saat ini baru sekitar 2,5 miliar Dollar yang tersedia. Sebenarnya uang untuk proyek tersebut tersedia, demikian menurut Jean Pierre Elong Abassi dari Persatuan Kota-kota dan Pemerintah Komunal.

Abassi: "2,5 miliar Dollar diinvestasikan dalam sektor air, dan 5 milliar Dollar dibelanjakan untuk membeli makanan anjing dan kucing. Ada sesuatu yang salah! Kita memerlukan banyak uang, dan uang tersebut seharusnya datang dari setiap orang, baik pengguna air maupun masyarakat internasional. Bantuan pembangunan harus didesentralisasikan. Selain itu, kita juga memerlukan dana dari investor swasta.“

Mengenai investor swasta ada sesuatu yang menarik juga, di masa depan kerja sama dengan apa yang disebut pelaku global akan ditingkatkan.

Pittock: "Ironisnya, perusahan multinasional lah yang menyadari, bahwa kita memerlukan managemen air yang lebih baik, sementara pemerintah tidak. Perusahan seperti Bank HSBC contohnya, telah mempunyai garis haluan, yaitu memeriksa investasi-investasi bagi infrastruktur air, apakah satu proyek akan berguna atau tidak. Perusahaan Coca Cola memandang masalah managemen air sebagai sesuatu yang penting. Kami melihat, bahwa pelaku ekonomi telah mengambil tanggung jawab, sementara pemerintah hanya tinggal diam.“

Hak manusia untuk mendapatkan air tidak lagi akan dipertanyakan. Dalam Forum Air Dunia di Meksiko, telah tercapai satu langkah maju, bahwa hak mendapatkan air akan dikukuhkan dalam kerangka PBB.