Hadapi Demonstrasi, Thailand Siaga Penuh | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 12.03.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Hadapi Demonstrasi, Thailand Siaga Penuh

Sekitar 50.000 aparat keamanan bersenjata lengkap berjaga di seluruh pelosok ibukota Thailand itu, mengantisipasi aksi demonstrasi besar-besaran kelompok baju merah pendukung mantan PM Thaksin Shinawatra.

default

Para pendukung Thaksin sudah turun di jalanan kota Bangkok, Jum'at (12/03)

Aksi protes anti pemerintahan PM Abhisit Vejajiva yang direncanakan digelar hari Minggu (140/3), disebut-sebut akan diikuti satu juta pendukung Thaksin. Hari Jumat (12/03) ini dilaporkan puluhan ribu demonstran sudah berdatangan, dan berkumpul menjadi beberapa kelompok di lima kawasan ibukota Bangkok. Kelompok baju merah kebanyakan adalah para petani gurem, buruh dan kalangan rakyat kebanyakan.

Seorang petani dari provinsi Udon Thani di kawasan barat laut Thailand, Sombun Pansa menegaskan tuntutan para petani, “Kami ingin pemilu baru. Pemerintah saat ini tidak dipilih oleh rakyat. Tapi ditunjuk oleh kerajaan dan militer. Orang-orang di Bangkok melecehkan kami dan memandang kami sebagai orang bodoh yang tidak mampu membuat keputusan politik. Tapi mereka tidak tahu bagaimana kehidupan di desa, apa yang kami inginkan dan kami perlukan.“

Mengantisipasi aksi protes besar-besaran kelompok baju merah itu, di Bangkok hari Jumat (12/3) ini sekolah-sekolah diliburkan dan banyak kantor tutup. Tentara bersenjata lengkap berjaga di depan kantor pemerintahan, bank-bank dan kawasan bisnis. Pemerintah di Bangkok sudah memperingatkan kemungkinan pecahnya kerusuhan, termasuk juga aksi sabotase dan pemboman.

Rencana aksi protes sejuta warga itu, memicu munculnya ketegangan baru dalam konflik politik yang berlarut-larut di Thailand. Kelompok baju merah menuding, elite yang tidak dipilih rakyat yang menamakan dirinya kelompok baju kuning, dengan didukung militer dan kerajaan melakukan segala cara, untuk mencegah Thaksin kembali ke tampuk kekuasaan lewat jalan pemilu yang demokratis. Hari Jumat (12/03), ribuan pemrotes mulai melakukan aksinya di depan pangkalan militer dimana PM Abhisit menggelar rapat konsultasi keamanan, di depan markas besar polisi dan di sekitar stasiun televisi pro-pemerintah.

Thaksin Shinawatra, yang memerintah Thailand dari tahun 2001 hingga 2006 sampai digulingkan kudeta militer, didukung lapisan luas rakyat pedesaan dan warga miskin perkotaan. Programnya dinilai memperhatikan nasib rakyat kecil, antara lain dengan memberikan subsidi bagi perusahaan kecil dan menengah, membentuk dana pemberi kredit kecil bagi petani serta menciptakan sistem kesehatan yang terjangkau.

Wakil ketua perhimpunan pengemudi taksi di Bangkok, Sanong Karaket mengungkapkan nasib rakyat kecil setelah Takhsin dikudeta oleh militer. “Dengan kudeta militer, impian banyak pengemudi taksi untuk memiliki mobil sendiri langsung lenyap. Sejak saat itu yang muncul hanyalah masalah. Ekonomi macet, investasi merosot dan pengemudi taksi kehilangan penumpang. Karena itu kami menghendaki Thaksin kembali memerintah.“

Karena itulah, aksi protes sejuta warga di Bangkok bertujuan menekan pemerintah saat ini agar segera mundur. Namun pemerintah memilih menghadapinya dengan kekerasan. PM Abhisit juga sudah menyatakan, menutup kemungkinan digelarnya pemilu baru.

AS/AR/afp/dpa/rtr

Iklan