Gunung Agung Erupsi | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 21.11.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Gunung Agung Erupsi

Gunung Agung di Bali erupsi. Tampak gunung itu memuntahkan abu vulkanik hari Selasa (21/11), namun pihak berwenang mengatakan bahwa tingkat kewaspadaannya tetap tidak berubah.

Letusan Gunung Agung ditandai dengan asap berwarna kelabu dan abu vulkanik tipis yang membumbung dari puncak kawah. Juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional Sutopo Purwo Nugroho mengatakan letusan kecil dimulai sekitar pukul lima sore waktu setempat. Ketinggian asap maksimum sekitar 700 m di atas puncak. Abu letusan bertiup lemah ke arah Timur-Tenggara. Letusan tersebut bertekanan sedang sementara asap yang menyembur berwarna kelabu tebal.

Bandara internasional Bali tetap beroperasi. Letusan tersebut disebabkan air yang dipanaskan magma, yang disebut letusan freatik, dan bukan letusan yang umumnya lebih berbahaya dari magma itu sendiri, tambah Nugroho, dikutip dari kantor berita AP.

Letusan gunung api tersebut terjadi saat sebagian pengungsi sudah mulai pulang ke kampung halamannya di sekitar Gunung Agung dan status gunung sudah diturunkan. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, saat ini jumlah pengungsi Gunung Agung yang tersisa masih 30 ribu orang. Kini statusnya masih berada di level III atau siaga.

Masyarakat harus berada dalam zona aman

Nugroho mengatakan masyarakat harus tetap berada di luar zona eksklusi yang di dalamnya terdapat area yang meluas 7,5 kilometer dari gunung berapi. Dia mengatakan belum terjadi peningkatan tremor seismik dari gunung berapi. Sebuah eskalasi tremor dapat mengindikasikan kegiatan magma meningkat di dalam gunung.

Hampir 1.600 orang meninggal ketika Agung terakhir meletus pada tahun 1963, namun para pejabat mengatakan pada hari Selasa bahwa gemuruh letusan gunung tidak menimbulkan ancaman langsung bagi mereka yang hidup dalam di sekitarnya. Ahli vulkanologi setempat Gede Suantika menambahkan bahwa "orang-orang yang berada dalam jarak enam kilometer dari gunung (puncak) harus mengungsi".

Sektor pariwisata terganggu

Pejabat setempat memperkirakan kekhawatiran akan letusan selama beberapa bulan terakhir telah menyebabkan Bali kehilangan setidaknya 110 juta dollar AS akibat terganggunya sektor pariwisata dan produktivitas karena banyak penduduk setempat pindah ke tempat penampungan.

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 130 gunung berapi karena posisinya di "Cincin Api", sabuk batas lempeng tektonik yang mengelilingi Laut Pasifik dimana aktivitas seismik yang sering terjadi terjadi.

Pada tahun 2010 Gunung Merapi - dianggap sebagai salah satu gunung berapi yang paling aktif dan berbahaya di dunia - meletus, menewaskan lebih dari 300 orang. Sementara, 280.000 orang terpaksa mengungsi.

ap/vlz (ap/afp)

Laporan Pilihan