Gerakan Pengadilan Islam di Somalia | Fokus | DW | 27.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Gerakan Pengadilan Islam di Somalia

Gerakan ini terus merebak. Hari Minggu (25/09) lalu mereka menguasai kota pelabuhan Kismayo di selatan negara itu

Perempuan Somaliapun menuntut keluarnya pasukan asing

Perempuan Somaliapun menuntut keluarnya pasukan asing

Menurut Gerakan Pengadilan Islam, kedatangan mereka ke Kismayo adalah atas keinginan penduduk untuk bergabung dengan wilayah kekuasaan gerakan itu, agar terwujud ketenangan dan stabilitas. Wakil pejabat urusan luar negeri dari gerakan itu, Mohammad Ali Ibrahim mengemukakan:

"Warga di sana benar-benar bersimpati pada Pengadilan Islam. Memang tidak semuanya. Mereka mengadakan perubahan dan Pengadilan Islam memberikan dukungan. Pengadilan Islam datang untuk memastikan keadaan dan untuk membangun ketertiban dan kekuasaan."

Pemerintahan peralihan di kota Baidoa di utara sudah menuduh Gerakan Pengadilan Islam telah melanggar perjanjian Khartum. Dalam perjanjian itu telah diperingatkan agar kedua pihak tidak menguasai wilayah pihak lainnya dengan kekerasan. Menteri pertahanan dari pemerintahan sementara yang berkedudukan di Kismayo telah meninggalkan kota terpenting ketiga di Somalia, sebelum jatuh ke tangan Gerakan Pengadilan Islam.

Mohammad Ali Ibrahim menuduh pemerintah bertindak bertentangan dengan kepentingan warga Somalia, dengan mendatangkan pasukan internasional. Dicanangkannya, Gerakan Pengadilan Islam akan memerangi pasukan tersebut.

"Posisi kami jelas: kami menolak campur tangan dari pasukan asing manapun. Apakah dari Afrika atau benua lain. Bagi kami pasukan itu bersifat kolonialis, pasukan invasi dan bukan pasukan perdamaian."

Menurutnya, pasukan Ethiopia berada di sekitar 7 tempat di Somalia. Mohammad Ali Ibrahim menuntut mereka untuk mundur. Gerakan Pengadilan Islam bersedia mencari penyelesaian damai dengan pemerintah di Addis Abeba, tetapi sekaligus mengancam Ethiopia, bahwa bila perlu mereka tidak ragu-ragu menggunakan kekerasan senjata.

Selain itu mengenai adanya pihak yang membandingkan Gerakan Pengadilan Islam dengan Taliban di Afghanistan, Mohammad Ali Ibrahim mengemukakan:

"Itu tidak benar. Kami orang Somalia. Afghanistan dan Taliban lain lagi, walaupun kami sama-sama Islam. Tujuan kami pun jelas, yaitu pemulihan keamanan dan stabilitas di Somalia, dan terbentuknya sebuah negara yang adil, dimana rakyat dapat menentukan pemerintahan yang diinginkan. Yang diinginkan rakyat adakah keadilan yang bertumpu pada Islam."

Taliban di Afghanistan menolak pemilu demokratis, karena menganggapnya bersifat bidaab. Apa pendapat Gerakan pengadilan Islam? Apakah suatu saat di Somalia akan diselenggarakan pemilihan parlemen?

"Insya Allah, di wilayah yang kami kuasai, akan dibentuk administrasi daerah. Bila kami berkuasa penuh atau ada kesepakatan dengan pemerintah, maka akan diselenggarakan pemilu atau pemungutan suara."