Gerakan Hijau Masih Perjuangkan Reformasi | dunia | DW | 10.06.2010
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Gerakan Hijau Masih Perjuangkan Reformasi

Para pemimpin oposisi menyerukan para pendukung mereka untuk melakukan demonstrasi, mengenang Pemilu lalu yang berujung kerusuhan, yang merupakan kerusuhan terbesar setelah Revolusi Iran 30 tahun lalu.

default

Demonstrasi para pendukung Mir Hosein Mussawi tahun 2009 lalu

Sunyi senyap di kalangan oposisi Iran, demikian penilaian media barat selama beberapa bulan terakhir. Sebagian media berpendapat, gerakan hijau gagal. Lainnya, termasuk majalah mingguan terkenal Jerman "Der Spiegel“, beranggapan, tekanan politik yang brutal dari rejim menyebabkan oposisi diam.

Meski begitu, Shirin Ebadi, pengacara Iran dan pememanag Nobel perdamaian yakin, gerakan reformasi di negaranya tetap eksis. "Gerakan demokrasi di Iran masih berlanjut, walau menghadapi kekerasan dan tekanan. Gerakan ini memiliki struktur horisontal dan berfungsi seperti jaringan sosial. Apa yang disebut 'Gerakan Hijau' tidak bisa dihancurkan, tidak bisa ditahan. Sebaliknya, ia bertambah luas setiap hari."

Setahun lalu, segera setelah pemilu, demonstran memanfaatkan waktu untuk melajukan Gerakan Hijau. Slogan-slogan mereka menunjukkan tema pokok perkembangan situasi. Awalnya di jalan-jalan terdengar teriakan "pemilu curang". Setelah aksi penangkapan pertama, massa menuntut "bebaskan semua tahanan politik". Tidak lama kemudian mereka menyerukan "Republik Iran, bebas dan merdeka".

Walaupun slogannya semakin radikal, Gerakan Hijau tidak mencita-citakan revolusi, kata pakar Iran Daryoush Homayon yang hidup sebagai eksil di Perancis. "Gerakan ini bukan perlawanan gaya klasik yang menuju pada revolusi. Gerakan reformasi ini semacam revolusi kesadaran. Kelompok-kelompok yang terlibat di dalamnya mengukuhkan, Iran tidak bisa lagi diperintah dengan kultur politik yang berkuasa. Itu yang ingin diubah."

Tuntutan itu dijawab rejim Iran dengan peningkatan represi dan penangkapan besar-besaran. Dunia mendengar laporan tentang kekerasan dan penyiksaan di penjara-penjara yang penuh sesak. Setelah wafatnya imam besar Hossein Ali Montaseri, Desember 2009, ketegangan antara oposisi dan pemerintah kembali meruncing. Montaseri merupakan semacam pembimbing bagi gerakan reformasi Iran dan salah satu pengkritik keras Presiden Mahmud Ahmadinejad.

Parlamen dan sebagian kalangan yang mapan menuntut hukuman mati bagi pendukung gerakan reformasi. Kenyataannya, beberapa dari mereka dihukum gantung. Hal ini menuntun pada perpecahan antara pemerintah dan parlemen. Menurut Daryoush Homayon, gerakan reformasi dan aparat pemerintah saling berpengaruh timbal balik. Kalau tidak ada protes, perpecahan juga bisa tidak ada. Dan jika perpecahan itu tidak terjadi, gerakan reformasi kehilangan bagian terpenting dari vitalitasnya.

Sementara itu tindakan keamanan di Iran diperketat. Koran-koran oposisi ditutup, situs-situs internet baru dan jejaring sosial seperti Facebook diblokir. Bahwa meski begitu oposisi tetap eksis, adalah berkat pemimpin oposisi Mir Hosein Mussawi dan Mehdi Karrubi, kata Daryoush Homayon. "Peran Mir Hosein Mussawi dan Mehdi Karrubi sangat penting dan bertambah penting seiring berjalannya waktu. Mereka adalah megafon gerakan, jika tidak ada peluang untuk, misalnya, demonstrasi turun ke jalan. Dalam situasi seperti itu, wawancara, pidato atau seruan mereka untuk tidak takut berunjuk rasa, sangat positif dan penting."

Belakangan, lebih dari delapan kelompok oposisi, termasuk Gerakan Hijau dari Mir Hussein Mussawi dan Partai Etemad Melli yang dipimpin Mehdi Karrubi, mengajukan permohonan untuk berunjuk rasa pada peringatan satu tahun pemilu presiden. Selama ini permohonan semacam itu tidak pernah dikabulkan.

Fahime Farsaie/Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk

Iklan