Gerakan Global Tinggalkan Energi Batubara Demi Perlindungan Iklim | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 17.11.2017
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Gerakan Global Tinggalkan Energi Batubara Demi Perlindungan Iklim

Di Konferensi Iklim COP23 di Bonn terbentuk aliansi negara-negara untuk meninggalkan energi batubara. Tapi Jerman tidak termasuk dalam gerakan itu.

Batubara saat ini memasok sekitar 40 persen kebutuhan energi di seluruh dunia. Tapi emisi CO2 batubara sangat tinggi dan bertanggung jawab untuk pemanasan bumi dan efek rumah kaca.

Di Konferensi Iklim COP23 di Bonn, beberapa negara antara lain Inggris dan Kanada memperkenalkan Aliansi Anti Batubara. Yang bergabung dalam aliansi itu antara lain Fiji, Finlandia, Denmark, Belanda, Italia, Austria, Portugal, Meksiko, Costa Rica, Selandia Baru dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Anggota aliansi itu ingin mengakhiri penggunaan energi batubara selambatnya sampai 2030.

Saat ini, ada 20 negara yang bergabung dalam aliansi yang dinamakan Powering Past Coal Alliance itu. Sampai konferensi iklim tahun 2018 di Polandia, mereka menargetkan menggaet sampai 50 negara.

Menteri Lingkungan Kanada Catherine McKenna mengatakan, meninggalkan energi batubara adalah langkah yang tepat. Karena batubara adalah "penghasil energi fosil yang paling kotor" dan bisa digantikan dengan energi terbarukan yang tidak terlalu mahal. "Pasar sudah berubah, dunia sudah berubah, batubara tak akan kembali lagi", katanya.

Peserta cilik dalam demonstrasi untuk perlindungan iklim di Bonn, November 2017

Peserta cilik dalam demonstrasi untuk perlindungan iklim di Bonn, November 2017

Desakan makin kuat untuk tinggalkan energi batubara

Jerman belum bergabung dalam aliansi global itu. Juru bicara Kementerian Lingkungan Jerman mengatakan, Jerman memang diajak bergabung, tapi hingga saat ini pemerintahan baru di Jerman belum terbentuk. "Prakarsa ini akan kita bahas lagi nanti," kata Menteri Lingkungan saat ini, Barbara Hendricks.

Saat ini, emisi gas rumah kaca di Jerman mencapai sekitar 908 juta ton CO2 per tahun. Pada tahun 2020, ditargetkan emisi CO2 bisa direduksi sampai hanya 750 juta ton. Artinya ditargetkan reduksi emisi sekitar 17 persen. Namun banyak pengamat berpendapat, target itu terlalu rendah dan Jerman seharusnya bisa melakukan lebih banyak.

"Jerman harus secepat mungkin meninggalkan energi batubara sebagai pemasok tenaga listrik, jika tidak, target iklim Jerman tidak akan tercapai,"kata pakar energi Claudia Kemfert, yang selama ini menjadi salah satu konsultan energi untuk pemerintah Jerman.

Konsep Kementerian Lingkungan untuk energi batubara

Dinas Lingkungan Jerman (Das Umweltbundesamt -UBA) sudah mengajukan proposal untuk reduksi  emisi sesuai target iklim Jerman. antara lain diusulkan agar pembangkit listrik tenaga batubara yang sudah berusia lebih dari 20 tahun tidak perlu lagi beroperasi secara penuh. selain itu, pembangkit listrik tenaga batubara yang tidak efisien lagi hendaknya berhenti beroperasi. Menurut perhitungan, penghentian operasi pembangkit listrik tenaga batubara itu mencakup kapasitas listrik minimal lima Gigawatt.

Sebelumnya, pemerintah Jerman sudah memutuskan penghentian pembangkit listrik tenaga batubara dengan kapasitas 4 Gigawatt. Berarti, secara keseluruhan Jerman akan menghentikan listrik batubara dengan kapasitas seluruhnya 9 Gigawatt. Para ahli di UBA menyatakan, dua langkah inilah yang paling murah dann paling cepat bagi Jerman untuk mencapai target reduksi emisi CO2 di sektor energi sampai tahun 2020.

Menurut jajak pendapat aktual yang dilakukan lembaga penelitian opini publik EMNID, makin banyak warga Jerman yang sekarang setuju untuk meninggalkan energi batubara. Sekitar 76 persen warga Jerman dalam jajak pendapat itu menyatakan setuju jika Jerman berngsur-angsur beralih ke sumber energi lain selain batubara demi mencapai target perlindungan iklimnya.

 

Laporan Pilihan