Genjot Harga, OPEC Turunkan Produksi Minyak | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 18.12.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Genjot Harga, OPEC Turunkan Produksi Minyak

Guna menstabilkan kembali harga minyak yang anjlok, dalam konferensi di Aljazair, OPEC memutuskan untuk menurunkan kuota produksi minyak.

Presiden OPEC Chakib Khelil

Presiden OPEC Chakib Khelil

Perhimpunan negara penghasil minyak OPEC memutuskan untuk memangkas kuota produksi minyaknya. Para anggota OPEC menyetujui akan mengurangi produksi dua juta barrel per hari. Kesepakatan ini diambil untuk mendongkrak kembali harga minyak yang kini tengah anjlok.

„Kami berharap, bahwa dengan ini harga minyak dapat distabilkan kembali— paling tidak mungkin bisa sedikit lebih tinggi dari harga saat ini untuk membangun dalam periode ini arah yang ingin dituju – yaitu menaikan harga setidaknya menjadi 70 dollar AS atau sekitar 80 dollar AS,“ demikian ujar Chakib Khelil mantab. Pemimpin OPEC itu sukses memaksakan kehendaknya: di waktu mendatang akan lebih sedikit jumlah semburan minyak mentah. Langkah tersebut diharapkan dapat kembali meningkatkan permintaan atas produksi minyak mentah, membuat minyak bumi lebih bernilai, serta menghindari lonjakan kenaikan harga yang drastis seperti pada musim panas lalu ketika harga minyak mentah mencapai 147 dollar AS per barrelnya. Kini harga minyak sekitar 50 dollar AS. Tidak mudah untuk memulihkan lagi keadaan yang sulit ini. Pakar energi carola Hoyos berujar:

“Kini ada tugas yang sangat besar. OPEC sebagai penanggung jawab menggambarkan : Bila harga minyak meningkat, mereka ambil tangga atau lambat menstabilkan, namun bila harganya tersungkur, mereka buru-buru berusaha menaikkan. Dan saya rasa itu benar yang terjadi.“

Beberapa pemimpin pemerintahan sebelumnya tidak dapat memperkirakan penurunan harga minyak dan kini mulai bertanya-tanya, apakah janji dari musim panas lalu masih dapat dipegang. Contohnya Aljazair yang memfasilitasi konferensi OPEC. Negara ini berencana menggunakan keuntungan dari penjualan minyak mentahnya untuk memperbarui sistem transportasi kereta dan infrastruktur. Bila harga minyak kembali jatuh, konsekuensi tak sedap mau tidak mau harus ditanggung, ujar Mohammed Meziane, presiden perusahaan minyak negara Sonatrach: „Jika harga minyak jatuh di bawah 30 dollarAS, maka kita pada akhirnya harus menghentikan proyek ini. Bagaimanapun juga tak dapat dilakukan meski sudah direncanakan.”

Namun pemimpin OPEC Khelil juga dengan gamblang mengungkapkan: bila harga minyak naik, semua harus mengontrol diri. Tidak hanya OPEC yang menguasai 40 persen pangsa pasar dunia, namun juga bagi eksportir penting yang tidak tergabung dalam OPEC. Begitu pula bagi Rusia misalnya, yang diundang ke pertemuan OPEC di Oran, kota kedua terbesar di Aljazair ini. Negara yang ikut menderita akibat rontoknya harga minyak ingin lebih mengeratkan kerjasama dengan OPEC dan tetap mempertahankan statusnya sebagai negara pemantau minyak. Kembali Chakib Khalil:

“Kami berharap, Rusia akan memainkan peran penting dalam menstabilkan pasar. Bagaimanapun juga ada anggota OPEC yaitu Arab Saudi yang merupakan penghasil minyak terbesar kedua di dunia. Itu artinya, ketika kini hasil produksi tersungkur, maka OPEC masih memiliki 50 persen bagian di pasar dunia.“ Namun kalangan pengamat bersikap skeptis bahwa langkah yang diambil OPEC dapat mendongkrak kembali harga minyak.(ap)