Gencatan Senjata di Jalur Gaza Berlanjut | Fokus | DW | 27.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Gencatan Senjata di Jalur Gaza Berlanjut

Mulai Minggu (26/11) pagi kemarin, setelah beberapa bulan terjadi bentrokan akhirnya Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmud Abbas menyepakati adanya gencatan senjata di Jalur Gaza.

Remaja Palestina rayakan penarikan Israel dari Beit Lahiya, sebelah utara Jalur Gaza

Remaja Palestina rayakan penarikan Israel dari Beit Lahiya, sebelah utara Jalur Gaza

Sesuai kesepakatan Olmert dan Abbas dalam pembicaraan telefon Sabtu (25/11) malam, hingga Minggu (26/11) kemarin pukul 6 pagi waktu setempat, Israel menarik semua tentaranya dari kawasan otonomi Palestina. Meskipun demikian situasi menunjukkan gencatan senjata itu sangat rapuh. Ekstremis Palestina tetap melancarkan serangan roketnya. Sehingga Presiden Mahmud Abbas mengirimkan aparat keamanan ke Jalur Gaza untuk menghentikan serangan tersebut. Sementara itu Perdana Menteri Israel Ehud Olmert memberi petunjuk kepada militernya agar menahan diri untuk sementara waktu. Demikian dilaporkan wartawan Deutsche Welle Clemens Verenkotte dari Timur Tengah.

Suara yang tidak biasa didengar di Jalur Gaza. Lalu lintas kendaraan yang hilir mudik di Gaza City, tidak terdengar tembakan artileri di kejauhan, tidak ada suara helikopter tempur, tidak ada gemuruh panser dan buldoser Israel. Seorang warga Palestina di Beit Hanun merasa lega dengan adanya gencatan senjata, di mana kebanyakan penduduk sudah tidak lagi berharap tercapainya hal itu. Pria tua tersebut memuji kesepakatan yang dicapai Sabtu malam

“Perjanjian itu hal yang positif. Dan kami mendukung setiap penyelesaian yang menjamin hak-hak warga Palestina. Kami menentang kekerasan, tapi Israel yang selalu saja memulai kekerasan. Mereka menghancurkan rumah kami, pohon-pohon, binatang kami, orang-orang, apa saja.”

Meskipun demikian, pada hari Minggu (26/11) ketika perjanjian gencatan senjata baru saja dimulai, hingga pukul 10 pagi waktu setempat kelompok milisi Palestina Hamas dan Jihad Islam sudah menembakkan 5 roket Kassam ke kawasan Israel.

Dengan cepat dan penuh kekhawatiran bahwa gencatan senjata hanya akan bertahan beberapa jam, Perdana Menteri Ehud Olmert dan Presiden Mahmud Abbas menjamin akan tetap mempertahankan kesepakatan walaupun diawali dengan pelanggaran oleh kelompok milisi Paletina. Presiden Palestina Mahmud Abbas dan Perdana Menteri Ismail Hanija segera menjelaskan, bahwa semua organisasi militan telah memutuskan untuk menghentikan serangan.

Selanjutnya Abbas mengirimkan aparat keamanan Palestina ke utara Jalur Gaza untuk menjaga agar tidak ada lagi roket Kassam yang ditembakkan ke arah Israel. Juru bicara pemerintah Palestina dari kelompok Hamas, Hamed mengatakan: “Kami harap agar perjanjian ini berlanjut. Setelah 12 jam kami akan mengevaluasi kembali apakah Israel benar-benar melaksanakan gencatan senjata itu atau tidak.”

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menekankan, ia akan mengikuti perkembangan gencatan senjata dengan sikap sabar dan menahan diri. Kesepakatan harus diberi kesempatan. Pemerintah Israel, demikian dikatakan Olmert, tidak akan menyia-nyiakan peluang untuk munculnya kembali ketenangan.

Setelah beberapa bulan tidak bertukar cakap, hari Sabtu (25/11) malam Olmert dan Abbas melakukan pembicaraan telefon yang menentukan. Menurut juru bicara pemerintah Israel Mark Regev: “Dalam pembicaraan tersebut Mahmud Abbas diwajibkan menghentikan secara penuh semua aktivitas kekerasan di pihak Palestina. Dan itu tentu saja membuat upaya pertahanan kami untuk mencegah aksi teror, tidak diperlukan.”

Menurut keterangan Palestina, Minggu (26/11) kemarin pagi, militer Israel meninggalkan kawasan Jalur Gaza yang padat penghuni. Dan setelah roket Kassam terakhir yang ditembakkan milisi Palestina jam 10 pagi, di kawasan di sepanjang perbatasan antara Israel dan Jalur Gaza kembali berlangsung gencatan senjata.