Gelombang Baru Penangkapan Aktivis di Mesir  | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 27.06.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hak Asasi Manusia

Gelombang Baru Penangkapan Aktivis di Mesir 

Sejumlah jurnalis dan pembela hak asasi manusia ditangkap dan ditahan karena mereka mengkritik pemerintahan.  Jerman dan Uni Eropa diminta untuk bertindak tegas. 

Foto ilustrasi kebebasan pers (picture-alliance/EPA/N. C. Naing)

Foto ilustrasi kebebasan pers

Pihak berwenang Mesir menangkap sejumlah aktivis atas tuduhan palsu, seperti menghasut aksi terorisme, menyebarkan berita palsu, dan penyalahgunaan  media sosial.  

Pemerintah Mesir beranggapan saat ini merupakan momen yang tepat untuk “membidik“ para kritikus, karena berkurangnya perhatian global terhadap pelanggaran hak asasi manusia akibat pandemi virus corona.

Peneliti di lembaga Human Rights Watch Mesir, Amr Magdi, menilai hal ini memungkinkan pemerintahan Presiden Abdel Fattah El-Sissi untuk melanjutkan “penindasan brutal“.

"Pemerintah Sissi merasa semakin tidak aman karena kegagalannya mengendalikan wabah COVID-19 di Mesir, sistem perawatan kesehatan negara yang lemah dan dampak ekonomi dari krisis," kata Magdi.

Selama sebulan terakhir, pihak berwenang Mesir telah menangkap dan menahan wartawan Nora Younis, Mohamed Mounir, Sanaa Seif, dan kerabat advokat HAM yang bermukim di AS, Mohammed Soltan.

Juga aktivis vokal Sanaa Seif tidak luput jadi korban bidikan. Sanaa Seif "diculik" di luar kantor kejaksaan, demikian dikatakan keluarganya kepada biro berita yang berbasis di Kairo, Mada Masr.

Kejaksaan Mesir mengeluarkan pernyataan yang menuduh di Facebook Seif telah "menyiarkan berita palsu dan rumor tentang kondisi kesehatan negara yang memburuk dan penyebaran virus corona di penjara".

Nora Younis (Al-Manassa/Twitter)

Nora Younis korban terbaru yang diciduk pemerintah Mesir

Panggilan untuk bertindak 

Gelombang penangkapan para jurnalis dan aktivis di Mesir mendorong kelompok-kelompok HAM menyerukan negara-negara barat untuk bertindak.

"Jerman, Uni Eropa, dan AS memiliki tanggung jawab untuk mengutuk serangan terhadap martabat manusia yang mendasar di Mesir," kata Magdi.

Secara khusus, Magdi merujuk kepada pemerintah Barat yang telah menyetujui transfer senjata dan perjanjian kerja sama keamanan dengan Mesir, termasuk kesepakatan senjata senilai $ 10 miliar atau setara Rp 142 triliun.

Pemerintah Jerman juga telah menyetujui penjualan senjata ke Mesir sejak Januari senilai lebih dari € 300 juta atau sekitar Rp 4,8 triliun.

"Mereka tidak hanya diam, mereka bahkan mengirim pesan dukungan," kata Magdi. "Jika kamu tidak ingin mengutuk pemerintah Sissi karena alasan apa pun yang kamu miliki, setidaknya jangan terus mengisi mesin represifnya dengan semua dukungan ini. Ini tidak bermoral dan harus dihentikan." (ha/yf )

Laporan Pilihan