Gelombang Teror Taliban Adalah Jawaban Terhadap Strategi Militer AS | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 30.01.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Gelombang Teror Taliban Adalah Jawaban Terhadap Strategi Militer AS

Bagaimana menerangkan rangkaian serangan teror hebat yang melanda Afghanistan belakangan ini? Pengamat menilai, ini adalah reaksi terhadap strategi keras AS.

Dalam delapan hari terkahir, tiga serangan hebat kelompok ekstrimis mengguncang Kabul. Lebih 130 tewas dan lebih 200 lainnya luka-luka. Serangan pertama terjadi di Hotel Continental pada hari Sabtu, 21 Januari. Seminggu kemudian, Sabtu 28 Januari, terjadi serangan bom bunuh diri dekat Kementerian Dalam Negeri. Dua hari kemudian, Senin 29 Januari, terjadi serangan hebat ke akademi militer.

Di samping tiga serangan besar itu, masih ada serangan-serangan lain, misalnya ke kantor organisasi bantuan Save The Children di Jalalabad dan serangan militan ke selatan Kandahar. Menurut keterangan resmi, tujuh prang tewas dalam serangan itu.

Pengamat keamanan Afghanistan, eks Brigjen Mohammad Arif mengatakan kepada DW, grelombang serangan teror ini adalah jawaban atas strategi baru pasukan AS di negara itu, antara lain di provinsi Helmand, Nagarhar dan Kundus.

Afghanistan Angriff auf Intercontinental Hotel in Kabul (Reuters/M. Ismail)

Serangan terhadap Hotel Continental di Kabul, 21 januari 2018

"Biasanya Taliban memulai rangkaian serangannya setelah musim dingin, tapi sekarang kelihatannya mereka mempercepat serangan itu, sebagai reaksi atas strategi baru militer AS. Mereka ingin menunjukkan, bahwa mereka belum terkalahkan," kata Mohammad Arif.

Tekanan AS pada Pakistan tak membawa hasil?

AS dan militer Afghanistan memang sudah lebih dulu melancarkan serangannya ke kubu-kubu militan, tanpa menunggu musim dingin berlalu. Ini adalah strategi militer baru yang dicanangkan Presiden Donald Trump pada Agustus 2017.

Trump menegaskan, ia akan menambah jumlah pasukan yang dikerahkan ke Afghanistan untuk membantu aparat keamanan lokal. Dia juga menyatakan, pasukan AS akan tinggal di negara itu selama dibutuhkan. Pada saat yang sama, Trump menyalahkan Pakistan yang dinilainya masih mendukung Taliban, sehingga situasi keamanan di Afghanistan tak kunjung membaik.

Untuk menekan Pakistan, Presiden Trump mengumumkan pembekuan bantuan dana AS untuk Pakistan, sampai Pakistan menutup kawasan-kawasan yang kini jadi tempat berlinduing para militan.

Indonesiens Präsident Joko Widodo bei afghanischem Präsidenten Ashraf Ghani (Rusman - Biro Pers Sekretariat Negara)

Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kabul dan bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

Harapan untuk perdamaian makin sirna

Pengamat Afghanistan Nicole Birtsch daru yayasan penelitian politik Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP) menyatakan, serangan teror akhir-akhir ini merupakan reaksi terhadap pemboman dan operasi militer yang sedang dilancarkan militer AS bersama tentara Afghanistan.

Birtsch juga mempertanyakan efektivitas tekanan AS pada Pakistan. Karena dengan cara itu, tidak terjadi konsultasi yang setara antara AS, Afghanistan dan Pakistan. Untuk waktu dekat, tidak ada perspektif baik bagi Afghanistan, kata Britsch.

Dia memperkirakan, pada minggu-minggu mendatang, spiral kekerasan masih akan terus berlanjut. "Saya khawatir, arena banyaknya aksi kekerasan ini banyak orang, terutama di Kabul, yang sudah mengubur harapan tentang masa depan yang stabil. Mereka sekarang hanya berusaha bertahan untuk terus hidup.”

 

Laporan Pilihan