PBB: Gelombang Panas Sekali Dalam 50 Tahun Bakal Melanda Setiap Dekade | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 09.08.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Perubahan Iklim

PBB: Gelombang Panas Sekali Dalam 50 Tahun Bakal Melanda Setiap Dekade

Ketika kebakaran hutan dan lahan mengamuk di kawasan Laut Tengah dan Amerika Utara, PBB memprediksi kemunculan cuaca ekstrem akibat kenaikan suhu Bumi bakal kian marak dan mengancam.

Kebakaran hutan di Euboa, Yunani

Kebakaran hutan di Euboa, Yunani

Gelombang panas ekstrem yang biasanya terjadi sekali dalam 50 tahun kini diperkirakan bakal melanda sekali setiap dekade. Kesimpulan ini tercantum dalam laporan iklim PBB yang dirilis, Senin (9/8).

Fenomena ini dikabarkan sudah terjadi, seiring kenaikan suhu rata-rata Bumi yang sudah melampaui 1 derajat Celcius. Akibatnya beragam jenis cuaca ekstrem yang selama ini tergolong langka menjadi lebih marak. Manusia dinilai harus bersiap diri menghadapi lonjakan kasus gelombang panas, kekeringan atau bencana banjir.

Dalam studi teranyar, Panel Iklim PBB (IPCC) untuk pertamakalinya mengukur tingkat probabilitas terjadinya cuaca ekstrem. Menurut penghitungan ilmiah, kemungkinan munculnya hujan sekali dalam satu dekade kini 1,3 kali lipat lebih besar dan 6,7 persen lebih basah, dibandingkan sebelum era industrialisasi.

Sementara bencana kekeringan yang biasanya muncul sekali dalam satu dekade, bisa melanda sekali dalam lima atau enam tahun.

IPCC menegaskan fenomena cuaca ekstrem berkaitan erat dengan krisis iklim dan meningkatnya suhu rata-rata Bumi. Saat ini musim kering di Brasil misalnya tercatat yang paling parah dalam 91 tahun terakhir.

"Gelombang panas di Kanada, kebakaran di Kalifornia, banjir di Jerman dan Cina serta bencana kekeringan di Brasil memperjelas bahwa iklim yang ekstrem akan menimbulkan kerusakan besar," kata Paulo Artaxo, peneliti kepala dalam studi PBB.

Kebakaran hutan via citra satelit di Sakha-Yakuti, Siberia, Rusia.

Kebakaran hutan via citra satelit di Sakha-Yakuti, Siberia, Rusia.

Bumi terbakar

Saat ini Yunani menghadapi kebakaran hutan paling parah di Eropa. Suhu yang sempat menyentuh 40 derajat Celcius pada pekan lalu, kini bertengger di 35 derajat Celcius. Api dikabarkan masih membara di hari ketujuh dan kini kian menyebar ke wilayah lain.

Kebakaran paling parah tercatat di pulau Evia, di mana api memaksa ribuan warga untuk mengungsi. Lebih dari 500 petugas pemadaman diterjunkan untuk meredam kebakaran di pulau tersebut.

Pemerintah Yunani mencatat, kerusakan akibat kebakaran hutan tahun ini sudah melampaui tahun-tahun sebelumnya. Selama kebakaran selama 10 hari jelang 7 Agustus silam, sebanyak 57.000 hektar hutan hangus. Sebaliknya kawasan yang terbakar dalam periode yang sama antara 2008 hingga 2020 hanya berkisar rata-rata 1.700 hektar.

Situasi serupa tercatat di pesisir selatan Turki. Api dikabarkan menghanguskan kawasan hutan pinus alami dan lahan pertanian. Ribuan warga dipaksa meninggalkan kampung halaman yang sebagian rusak dilalap api. Turunnya hujan selama akhir pekan membawa sedikit kemudahan.

Rekor kebakaran hutan juga dicatat di Kalifornia, Amerika Serikat, di mana api menjalar di area seluas 1.875 kilometer persegi. Sejauh ini pemerintah mengatakan hanya mampu mengendalikan 21 persen api. Musim kebakaran tahun ini sudah dipastikan akan jauh melampaui kerusakan di tahun-tahun sebelumnya.

Di Rusia, kebakaran yang menyapu Siberia malah dikabarkan kian mendekat ke salah satu situs penelitian nuklir di kota Sarov. Pemerintah lokal buru-buru memberlakukan situasi darurat agar bisa mengirimkan lebih banyak petugas pemadam. Saat ini api di sekitar Sarov mewakili sebagian kecil dari kebakaran hutan nasional yang sudah melumat 3,5 juta hektar lahan.

rzn/hp (afp, rtr, dpa)

 

Laporan Pilihan