Gelombang Panas Picu Gagal Panen di Bangladesh | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 02.06.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ketahanan Pangan

Gelombang Panas Picu Gagal Panen di Bangladesh

Bencana gelombang panas membersitkan ancaman kelangkaan pangan di Bangladesh. Suhu yang tinggi berpadu dengan tingkat kelembapan yang rendah dan melumat sawah petani, serta menghancurkan hasil panen.

Petani di Bangladesh mengolah biji padi

Petani di Bangladesh mengolah biji padi

Di atas lahan sawahnya di timur laut Bangladesh, Shafiqul Islam Talukder berdiri menggenggam setangkai padi yang meranggas hanya menyisakan sekam, tanpa biji. 

Petaka datang April silam, ketika gelombang panas menyapu Bangladesh selama dua hari berturut-turut. Hasil panen yang seharusnya menafkahi keluarga Shafiq hingga penghujung tahun, lenyap dalam sekejap, ratap petani berusa 45 tahun itu. 

"Mimpi saya memanen sudah sirna,” kata dia. "Saya tidak tahu lagi bagaimana bisa membiayai keluarga untuk tahun ini. Saya menginvestasikan semua tabungan untuk menanami lima hektar sawah dengan bibit unggul. Sekarang semuanya berakhir,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.

Gelombang panas yang memadukan suhu tinggi dengan tingkat kelembapan dan curah hujan yang rendah, menghancurkan ribuan hektar sawah di lumbung padi Bangladesh. Lebih dari 36 distrik terdampak ketika suhu menyentuh angka 36 derajat Celcius selama dua hari di bulan April, menurut Institut Penelitian Padi Bangladesh (BRRI). 

Tonton video 06:52

Bangladesh Diterjang Dampak Perubahan Iklim

Suhu rata-rata di Bangladesh pada bulan April biasanya tidak lebih dari 33 derajat Celcius. Data resmi menunjukkan sekitar 68.000 hektar sawah hancur atau berada dalam kondisi rusak. Lebih dari 300.000 petani dikabarkan ikut terdampak.

Negeri seribu sungai itu tergolong rajin disambangi bencana alam seperti banjir, kekeringan atau badai. Tapi gelombang panas merupakan hal baru, kata Entomolog BRRI, Nazmul Bari. "Kami belum pernah mencatat syok semacam ini sebelumnya,” kata dia.

"Suhunya meningkat dari hari ke hari dan tidak ada hujan. Jadi kelembapan di udara sangat rendah. Inilah penyebab gelombang panas ekstrem ini.”

Ketahanan pangan terancam

Romij Uddin, Guru Besar Agronomi di Universitas Pertanian Bangladesh, menjelaskan tanaman padi sangat rentan terhadap gelombang panas. Suhu ekstrem yang melanda di bulan April misalnya mengganggu musim penyerbukan, dan siklus alami reproduksi padi.

"Suhu sangat krusial bagi proses penyerbukan dan temperatur yang tinggi pada fase ini bisa memicu ketidaksuburuan,” kata dia. 

Saat ini sepertiga dari 160 juta penduduk Bangladesh dikategorikan mengalami kerentanan pangan. Artinya mereka tidak bisa menjamin pola makan bernutrisi atau makan makanan yang aman untuk dikonsumsi, menurut Program Pangan PBB. 

Saleemul Huq, Direktur Pusat Perubahan Iklim dan Pembangunan Internasional di Dhaka, memprediksi jika insiden gelombang panas terus terjadi, tahun ini Bangladesh akan kehilangan 20% panen padi. "Kita harus mewaspadai gelombang panas,” katanya.

Huq dan pakar pertanian lain mengimbau pemerintah memastikan pasokan air irigasi bagi pertanian, dan agar petani menggunakan bibit padi yang tahan panas. 

Sazzadur Rahman, Direktur Fisiologi di BRRI, mengatakan pihaknya sedang mengembangkan padi varietas baru yang lebih kebal cuaca ekstrem. Menurutnya sejauh ini hasil penelitian bersifat menjanjikan.

"Padinya berkembang baik dan cepat. Varietas yang kami kembangkan akan mampu mentolelir suhu hingga 38 derajat Celcius,” kata dia. "Gelombang panas akan mengancam ketahanan pangan, dan kita harus berusaha mencegah bencana ini.”

Mosabber Hossain (Reuters) rzn/hp/pkp

Dampak kenaikan suhu rata-rata Bumi sebesar 1,5 atau 2 derajat Celcius di tas level pre-industri

Dampak kenaikan suhu rata-rata Bumi sebesar 1,5 atau 2 derajat Celcius di tas level pre-industri

Laporan Pilihan