Gejala Pembaruan di Korea Utara? | Sosial | DW | 22.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Gejala Pembaruan di Korea Utara?

Kunjungan Kim Jong Il ke Cina bulan Januari lalu diberitakan panjang lebar, sehingga banyak orang menafsirkannya sebagai akan adanya gelombang perubahan baru.

Kini pemerintah Korut menanggapi harapan rakyatnya secara lebih terbuka

Kini pemerintah Korut menanggapi harapan rakyatnya secara lebih terbuka

Konon pemerintah Korea Utara merencanakan, nantinya pertambangan negeri juga dapat dikelola bersama dengan perusahaan asing. Dengan demikian rintangan terpenting bagi investasi di sektor batubara, uranium dan bahan mineral lainnya kini sudah tersisihkan. Kelompok pembaru di jajaran pemerintah kini dapat menanggapi harapan rakyat yang semakin tinggi secara terbuka. Seorang mahasiswa germanistik tanpa ragu-ragu mengemukakan impiannya sebagai usahawan di bidang otomotif dengan mengacu pada Jerman.

"Saya ingin sekali melihat pabrik mobil di Jerman seperti BMW atau Mercedes, yang sekarang jadi mobil kesukaan saya. Nanti saya juga ingin naik Mercedes atau BMW."

Seorang mahasiswi berusia 20 tahun menambahkan:

"Mestinya, Mercedes dikembangkan disini! Atau yang lebih baik!"

Keinginan serupa itu tentunya berlebihan, tetapi pada intinya realistis. Sejak berpaling dari sosialisme empat tahun lalu, Korea Utara menaikkan harga dan upah, serta memberikan lebih banyak kebebasan bagi perusahaan untuk menjalankan kebijakan sendiri. Pembaruan itu membawa hasil di luar dugaan. Korea Utara mengemukakan kini tidak lagi tergantung pada bantuan dari luar negeri.

Setelah 10 tahun, PBB menghentikan bantuan darurat yang diberikan. Dengan meningkatnya aliran listrik, di malam hari kota-kota tidak lagi dilanda kegelapan. Kepadatan lalulintas pun meningkat dan tak lama lagi Pyongyang mungkin akan terancam kemacetan. Kementrian dan sejumlah lembaga pemerintah mendirikan banyak pabrik yang bekerja seperti perusahaan swasta.

Banyak warga Korea Utara punya penghasilan kedua dengan bekerja sampingan. Malam hari mereka menyelenggarakan pasar loak di bawah sinar lampu batere. Bahkan inflasi nampaknya dapat ditekan. Motor penggerak dari keberhasilan itu nampaknya adalah Cina. Pesawat terbang penuh dengan pengusaha Cina. Pertokoan dan pasar dipenuhi dengan barang-barang Cina. Jalan-jalan penuh dengan kendaraan dari perusahaan-perusahaan Cina. Pada saat bersamaan Beijing menyalurkan minyak dan bahan pangan dengan persyaratan ringan.
Tetapi kalangan elit di Pyongyang tidak mau menjiplak keajaiban ekonomi Cina. Seorang dosen universitas mengemukakan:

"Selama ini kami adalah korban. Jadi sekarang kami mencoba mencari jalan sendiri."

Ini bukan hanya karena kebanggaan nasional. Dengan berbagai alasan, kalangan konservatif selalu hendak menahan terjadinya perubahan dan mengamankan konstelasi kekuasaan yang ada. Oleh sebab itu tahun lalu penggunaan telepon selular dilarang. Mungkin karena terlalu banyak informasi yang merembes masuk. Atas alasan yang sama pula beberapa bulan lalu banyak petugas bantuan harus meninggalkan Korea Utara. Walaupun terdapat pertanda pembaruan, tetapi sikut menyikut antara kelompok pembaru dan penentangnya masih akan terus berlangsung.