Garuda Indonesia Batalkan Pemesanan B737 MAX 8 | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 22.03.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Penerbangan

Garuda Indonesia Batalkan Pemesanan B737 MAX 8

Garuda berdalih hilangnya kepercayaan konsumen memaksa perusahaan membatalkan rencana pembelian pesawat B737 MAX 8 dari Boeing. Langkah Garuda itu dinilai berpotensi menyeret Boeing ke jurang krisis.

Raksasa kedirgantaraan Amerika Serikat Boeing mendapat pukulan lanjutan usai Garuda Indonesia membatalkan pemesanan sebanyak 49 pesawat tipe B737 Max 8. Garuda berdalih konsumen sudah kehilangan kepercayaan pada jet komersil teranyar milik Boeing tersebut.

B737 Max 8 memiliki salah satu rekor keselamatan terburuk dalam sejarah penerbangan setelah mencatat dua kali kecelakaan maut dalam enam bulan pertama sejak peluncuran.

"Kami telah mengirimkan surat kepada Boeing meminta pembatalan pemesanan," kata Jurubicara Garuda, Ikhsan Rosan. Saat ini maskapai pelat merah itu masih menunggu jawaban dari pihak Boeing. Analis pasar sempat mengkhawatirkan, keputusan Garuda akan memicu maskapai lain untuk membatalkan pemesanannya.

Tonton video 01:06

Black Box Ditemukan, Pencarian Fokus Pada Tubuh Utama Lion Air

"Pada prinsipnya kami bukan ingin menggantik Boeing, tapi menukar pesawat dengan model lain," kata Presiden Direktur Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra kepada Detikcom.

Selain Garuda, maskapai Rusia Aeroflot juga mengancam bakal membatalkan pemesanan sebanyak 20 B737 MAX 8 jika Boeing gagal memastikan keselamatan penumpang. Pesawat pertama sebenarnya direncakanan bakal mulai beroperasi pada November 2019. Sebaliknya RyanAir masih menunggu hasil investigasi dan belum akan membatalkan pemesanan.

Boeing sendiri sedang berada di ujung tanduk menyusul kecelakaan ganda B737 MAX 8 di Ethiopia dan Indonesia. Perusahaan yang bermarkas di Chicago tersebut sedang berusaha memperbarui piranti lunak pengendalian otomatis yang ditengarai menyebabkan kecelakaan. Asosiasi Pilot Maskapai American Airlines dijadwalkan mengujicoba piranti lunak yang telah diperbarui untuk B737 MAX 8 di simulator akhir bulan Maret.

Belakangan baru diketahui kedua pesawat naas tidak memiliki dua indikator keselamatan yang dijual secara ekstra oleh Boeing. Seperti yang dilaporkan New York Times, kedua sensor tersebut adalah "indikator angle of attack" dan lampu alarm "angle of attack." Berbagai media AS melaporkan Boeing berniat memasang lampu indikator angle of attack sebagai piranti standar pesawat B737 MAX 8.

Tonton video 01:04

Puing Lion Air Diamankan Untuk Investigasi

Krisis B737 MAX menempatkan Boeing dalam posisi pelik. Saat ini pihak perusahaan sudah menerima pemesanan untuk sekitar 5.870 pesawat dengan nilai lebih dari USD 400 milyar. Angka tersebut mewakili 80% dari semua pemesanan yang sedang dikerjakan oleh Boeing. Tanpa B737, Boeing diyakini bakal jatuh ke dalam krisis eksistensial.

Sejak kecelakaan di Ethiopia, saham perusahaan anjlok sebanyak 12%. Akibatnya Boeing kehilangan USD 28 milyar pada nilai pasarnya.

Shukhor Yusuf, Kepala Biro Konsultan Penerbangan Endau Analytics di Malaysia, meyakini langkah Garuda berpotensi diikuti oleh maskapai lain. "Pembatalan itu mungkin bukan yang terakhir. Ada kemungkinan rival Garuda, Lion Air, yang memesan banyak pesawat 737 MAX 8 akan mengambil langkah serupa," kata dia.

Awal Maret silam Lion Air mengumumkan penundaan pengiriman empat pesawat B737 MAX 8 menyusul kecelakaan di Ethiopia. Pesawat yang sedianya akan dioperasikan mulai 2019 tersebut termasuk bagian dari pemesanan akbar Lion Air senilai USD 22 milyar pada 2011 silam.

rzn/hp (afp, nyt, guardian, themoscowtimes)

Tonton video 01:06

Lion Air JT610 Alami Kerusakan Speed Indicator