1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi mi instan
Foto: Getty Images/AFP/B. Ismoyo
EkonomiIndonesia

Gapmmi: Menaikkan Harga Mi Instan Jadi Pilihan Terakhir

4 Maret 2022

Indonesia adalah salah satu negara produsen dan konsumen mi instan terbesar di dunia. Volatilitas harga gandum dikhawatirkan akan menaikkan harga mi instan yang dibeli konsumen.

https://www.dw.com/id/gapmmi-menaikkan-harga-mi-instan-jadi-pilihan-terakhir/a-61001673

Invasi Rusia ke Ukraina diketahui telah memicu kenaikan harga sejumlah komoditas seperti emas, minyak mentah, dan biji-bijian seperti gandum, kedelai, dan jagung.

Pada hari Kamis (03/03) harga gandum berjangka Amerika Serikat naik ke level tertinggi dalam 14 tahun akibat para importir berebut pasokan menyusul penutupan pelabuhan di Ukraina dan gangguan pasokan dari Rusia. Kedua negara tersebut memasok sekitar 29% ekspor gandum global.

Bagi Indonesia yang termasuk salah satu negara produsen dan konsumen mi instan terbesar di dunia, volatilitas harga ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada harga akhir mi instan yang harus ditanggung konsumen.

Mengantisipasi lonjakan harga gandum di pasar internasional, Gabungan Pengusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mulai menyiapkan sejumlah alternatif. Mulai dari mencari pasokan impor dari negara lain, hingga kemungkinan menaikan harga makanan berbahan utama gandum.

Kepada DW Indonesia, Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan bahwa tahun 2021 Indonesia mengimpor gandum utamanya dari Australia yakni sebanyak 40,9% dan dari Ukraina 26,8%.

"Jika krisis ini berlangsung panjang, maka Indonesia harus mencari alternatif pemasok lain yang tentu sama akan dilakukan oleh negara lain," kata Adhi S. Lukman.

Naikkan harga jual jadi jalan terakhir

Adhi mengakui bahwa terhadap bidang industrinya di Indonesia saat ini, krisis Rusia dan Ukraina belum berpengaruh besar meskipun pasar spot sudah bergejolak akibat pengaruh psikologis. Namun, para pengusaha berharap krisis Rusia dan Ukraina tidak berlangsung lama sehingga keadaan pasar akan kembali normal seperti sebelum krisis.

"Stok gandum Indonesia diperkirakan cukup untuk 2 bulan ke depan. Sementara pengusaha masih wait and see, dan tetap berharap perang segera berakhir sehingga tidak berdampak besar," terangnya.

Upaya lain yang akan dilakukan pengusaha menghadapi pasokan gandum yang terbatas jika krisis berlangsung panjang adalah mencari substitusi gandum. Gapmmi selama ini memberlakukan kontrak jangka panjang terkait impor gandum. Namun, gangguan logistik akibat krisis membuat pengusaha harus mencari alternatif-alternatif lain.

Lebih lanjut Adhi mengatakan bahwa ada beberapa dampak tidak langsung yang akan dirasakan jika krisis berlangsung berkepanjangan, termasuk naiknya harga komoditi substitusi. "Global value chain akan terganggu dan kenaikan harga jual produk pangan olahan dan akan tercermin dalam inflasi. Perlu upaya efisiensi di semua lini untuk mengurangi beban," lanjutnya.

"Bila terpaksa, maka kenaikan harga jual tidak bisa dihindari. Ini jalan terakhir," imbuhnya.

Data World Instant Noodles Association (WINA) per 11 Mei 2021 dan diakses pada 3 Maret 2022 menyatakan bahwa Indonesia adalah negara pengonsumsi mi instan terbesar kedua di dunia dengan jumlah konsumsi mencapai 12.640 juta porsi pada tahun 2020. Cina berada di urutan pertama menurut daftar itu dengan jumlah konsumsi 43.350 juta porsi. Sementara Vietnam di urutan ketiga dengan 7.030 juta porsi, menyusul India dan Jepang. 

Mengurangi margin keuntungan

Sebagai negara yang sangat bergantung dengan impor gandum, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan krisis ini akan memengaruhi harga makanan di Indonesia.

"Tergantung dengan ketersediaan pasokan gandum yang ada saat ini, jika masih ada stok maka harga makanan bisa tidak naik. Tapi kalau stoknya tidak ada, ini yang harus diantisipasi," ujar Bhima kepada DW Indonesia.

Ada tiga opsi yang dapat dilakukan produsen makanan dalam negeri menghadapi lonjakan harga gandum dan produk impor lainnya. Pertama, produsen harus siap menekan margin keuntungan yang selama ini diperoleh sehingga harga jual ritel tidak ikut naik.

"Margin produksi harus ditipiskan, produsen harus melihat dulu apakah konsumen siap dengan harga jual ritel yang baru jika harga pokok produksi naik," imbuhnya.

Opsi kedua menurut Bhima, produsen perlu mempertimbangkan kualitas dan kuantitas makanan berbahan gandum seperti mengurangi ukuran makanan yang diproduksi. Sementara opsi ketiga tidak lain adalah pemberian informasi kepada konsumen bahwa harga produk akan terpaksa dinaikkan.

"Selain Amerika bagian barat masih mengalami kekeringan, waktu untuk switch import ke negara lain tidak ada. Akan lebih baik ke depan produsen makanan bisa melakukan kontrak jangka panjang untuk harga impor sehingga kondisi apa pun tetap berlaku harga awal tidak menggunakan referensi harga baru," lanjutnya.

Dampak jangka panjang

Jika konflik ini terus berkepanjangan, Bhima tidak menampik akan ada implikasi lainnya seperti penurunan pendapatan dari pajak makanan dan produk turunannya. CELIOS memprediksi bahwa kenaikan harga gandum akan menjadi tren selama setahun ke depan, sebagai dampak kenaikan harga minyak mentah yang mengakibatkan naiknya biaya pengiriman.

"Dampak dari minyak berimbas juga ke gandum. Pemerintah melalui Bulog harus mengantisipasi ini, menjual dengan harga subsidi untuk konsumsi masyarakat jika nanti terjadi kenaikan harga," jelasnya. (ae)