1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Fusi Nuklir Alternatif bagi Bahan Bakar Fosil?

Claudia Laszczak
3 Februari 2023

Perang sebabkan orang sadar, ketergantungan pada bahan bakar fosil sangat kuat. apa solusinya? Di lain pihak, penelitian di bidang reaktor fusi nuklir sudah lama dilaksanakan. Apakah ini bisa jadi jawabannya?

https://p.dw.com/p/4N3ZJ
Symbolbild I Large Hadron Collider
Gambar simbol reaktor nuklirFoto: Stanislav Rishnyak/Zoonar/picture alliance

Matahari bisa jadi solusi bagi semua masalah energi kita. Matahari ibaratnyareaktor raksasa, di mana fusi nuklir terjadi. Saat suhu mencapai 15 juta derajat Celcius, dan di bawah tekanan sangat tinggi atom hidrogen melebur menjadi helium, dan melepas energi dalam jumlah sangat besar.

Sekarang, fusi nuklir seperti di matahari akan direplikasi di bumi. Direaktor termo nulir ini, mereka membuat matahari tiruan. 35 negara ikut serta dalam proyek ITER di Prancis selatan. Gedung reaktor sudah berdiri. Sekarang, mereka membuat konstruksi interiornya. Reaktor akan mulai beroperasi tahun 2025.

Fusi nuklir tidak sulut reaksi berrantai

Nicholas Hawker pendiri dan manajer First Light Fusion mengungkap, fusi bisa dibilang kebalikannya reaktor nuklir konvensional yang melakukan fisi nuklir. Pada fisi yang dilakukan adalah membelah elemen berat. Itu melepas energi dalam jumlah sangat besar, tapi limbahnya sangat sulit untuk ditangani. Sebaliknya, pada fusi tidak ada reaksi berrantai.

Jadi tidak ada kemungkinan untuk reaksi tak terkendali, yang menjadi penyebab pelumeran inti nuklir. Jadi apakah reaktor fusi nuklir lebih aman dibanding reaktor nuklir konvensional?

Energi atom memang tidak melepas emisi karbon dioksida, tapi memproduksi limbah radioaktif dan kecelakaan nuklir berulang kali terjadi. Namun demikian, berbagai negara di seluruh dunia terus menginvestasikan dana untuk membangun reaktor nuklir. Terutama di Asia.

Melirik Teknologi Fusi Nuklir sebagai Alternatif dari Fisi

Walaupun protes dilancarkan di beberapa negara, Komisi Uni Eropa telah mengklasifikasikan tenaga nuklir sebagai teknologi "hijau" dan transisional, yang akan membantu Eropa mencapai tujuan perlindungan iklimnya. Jadi apakah fusi nuklir akan bisa menyelamatkan iklim?

Reaktor baru di Prancis bertujuan untuk ibaratnya menciptakan matahari yang akan jadi sumber energi yang bisa diandalkan terus-menerus. Sumber energi ini tidak melepas CO2. Reaktor memproduksi lebih sedikit radiasi dan limbah nuklir dibanding instalasi konvensional.

Hidrogen yang mendorong terjadinya fusi berasal dari lautan. Tapi ada masalah lain, yang tidak ditemukan pada instalasi konvensional.

Fusi nuklir perlu energi

Gianluca Pisanello dari First Light Fusion menjelakan, pada fisi, kita harus berupaya agar reaksi tidak meluap tak terkontrol. Pada fusi, sebaliknya, kita harus menggunakan banyak energi, agar reaksi terus berlangsung. 

Biaya proyek yang awalnya diperkirakan sekitar 5 milyar Euro, kini sudah meningkat empat kali lipat. Begitu mulai berfungsi, energi dalam jumlah sangat besar akan diperlukan hanya untuk memulai fusi. Namun, bagaimana caranya agar suhu tinggi yang dihasilkan bisa mengalir dari reaktor dengan aman?

Para peneliti berusaha menemukan teknologi nuklir alternatif di seluruh dunia. Cina baru saja memulai uji coba reaktor pertama yang menggunakan bahan bakar torium, buka uranium.

Di AS, Bill Gates sedang mendorong pengembangan reaktor natrium, yang intinya bisa didinginkan dengan natrium cair, dan bukan air.

Walaupun berbagai aksi protes dan kritik tajam sudah dilontarkan, energi nuklir sekarang naik daun. Tampaknya, masa depan kita tidak akan terlepas dari energi nuklir. (ml/vlz)