Frontex dan Kerjasama Keamanan Uni Eropa | Seri Uni Jerman | DW | 27.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Frontex dan Kerjasama Keamanan Uni Eropa

Suhu di Eropa saat ini mulai hangat dengan datangnya musim semi. Dengan berlalunya musim dingin dimulai kembali gelombang migrasi besar-besaran dari Afrika. Tahun lalu lewat Kepulauan Kanari saja, sekitar 30 ribu pengungsi Afrika yang mencoba mencapai Eropa melalui pulau-pulau wisata yang masuk kawasan Spanyol itu. Uni Eropa berusaha mencegah kedatangan para pengungsi ilegal tersebut.

Perahu berpenumpang imigran ilegal

Perahu berpenumpang imigran ilegal

FRONTEX adalah badan keamanan perbatasan Uni Eropa yang menjalankan operasi kerja sama di kawasan perbatasan luar Uni Eropa dan dibentuk Oktober tahun 2005. Markas besar Frontex berada di ibukota Polandia, Warsawa. Dari situ dilakukan koordinasi dan pembiayaan petugas keamanan perbatasan Uni Eropa, seperti dituturkan Fernandez Arias, Wakil direktur Badan keamanan perbatasan Uni Eropa Frontex

„Kami mengkoordinasi penugasan dengan partisipasi semua anggota Uni Eropa. Tugas ini dimaksudkan untuk mengamankan, melindungi dan mengawasi kawasan perbatasan luar Uni Eropa.“

Frontex tidak memiliki sarana operasi sendiri, tidak satu helikopter atau pun kapal laut. Di Warsawa didatangkan pakar perbatasan dari Perancis atau Finlandia. Selain itu kapal-kapal dan helikopter dari Italia, Jerman atau Spanyol.

“Jika kami merencanakan melakukan operasi, kami mengajukannya kepada semua negara Uni Eropa agar mereka mengirimkan pakar, contohnya polisi pelindung perbatasan agar terlibat dalam tugas tersebut. Mereka diharapkan mampu mengidentifikasi asal para pengungsi. Kami juga menanyakan kepada negara anggota apakah dapat membantu kami dengan perlengkapan teknik, kapal, helikopter atau lainnya. Jadi setiap negara menyuplai kami dengan tenaga personal dan sarana teknik.”

Baru kemudian operasi dapat dilakukan. Misalnya tahun lalu ketika Spanyol meminta bantuan Uni Eropa dalam membendung arus pengungsi dari Afrika. Beberapa negara anggota terlibat dalam operasi membarikade kepulauan Kanari. Bahkan kalau bisa sudah menangkap perahu pengungsi di Afrika Barat. Tapi badan keamanan perbatasan Uni Eropa Frontex tidak hanya bertugas di perbatasan luar atau pantai-pantai Selatan. Demikian ditekankan Fernandez Arias

„Kami juga terlibat dalam konsep kemananan kejuaraan piala dunia sepakbola dan olimpiade musim dingin di Turin. Kami mengkoordinir kerjasama para petugas dari berbagai negara di bandar udara atau daerah lintas perbatasan lainnya. Kami juga bertanggung jawab terhadap keamanan selama kompetisi sepak bola Eropa di Austria dan Swiss.“

Frontex juga turut andil dalam pendidikan petugas pelindung perbatasan. Badan tersebut tidak memiliki sekolah polisi sendiri, tapi mereka menetapkan standar dan kerangka pendidikan bersama. Selain itu di markas besar Frontex di Warsawa, sekitar 80 pakar dari hampir seluruh negara Uni Eropa menganalisa resiko kemungkinan ancaman teror. Menurut juru bicara Frontex Faniela Münzbergova, personil badan keamanan perbatasan Eropa tersebut akan dilipatgandakan hingga akhir tahun ini. Namun Münzbergova yang berasal dari Ceko itu mengatakan menemukan personil dalam waktu singkat bukan hal yang mudah

„Hanya sedikit tenaga personil dengan pengalaman yang diperlukan. Kebanyakan berasal dari petugas kepolisian dan pelindung perbatasan.“

Direncanakan pula sarana yang lebih baik bagi Frontex, dimana akan dibentuk pusat bank data yang antara lain menyimpan data para pakar dan sarana teknik. Peranan Frontex yang semakin besar juga terlihat dalam anggarannya. Sejak didirikan Oktober dua tahun lalu dananya meningkat enam kali lipat. Tahun ini sekitar 35 juta Euro yang disediakan Brussel bagi badan keamanan perbatasan Uni Eropa ini. Meskipun tersedia dana yang cukup untuk melakukan operasi, namun masing-masing negara Uni Eropa masih ragu-ragu untuk berpartisipasi dalam Frontex.

Keragu-raguan anggota Uni Eropa tidak hanya berpartisipasi dalam Frontex tapi juga dalam pembentukan militer bersama Eropa. Walapun impian untuk itu sudah lama ada. Di awal tahun 50-an, antara Perancis, Jerman, Italia, Belgia, Belanda dan Luxemburg telah disepakati pembentukan proyek kerjasama pertahanan bersama Eropa. Namun proyek tersebut gagal pada saat-saat terakhir di tangan parlemen Perancis. Setelah itu masih dilakukan upaya untuk membentuk kerjasama militer bersama Eropa. Terakhir dalam acara peringatan 50 tahun Perjanjian Roma, Kanselir Jerman Angela Merkel juga menyinggung kembali sasaran jangka panjang itu. "Sebagai bagian dari politik luar negeri bersama sebaiknya juga dilakukan pendekatan militer bersama.“ Ucapan Merkel dengan nada berhati-hati. Petugas urusan luar negeri Uni Eropa Javier Solana bahkan mengingatkan

„Saya pikir Uni Eropa bukan negara di atas negara dan beranjak dari hal ini juga tidak akan ada militer Eropa dalam arti harfiah. Tapi kami tentu saja dapat membina politik luar negeri dan keamanan bersama.“

Inilah yang semakin digiatkan. Karena bantuan Uni Eropa semakin diharapkan jika menyangkut masalah mengatasi konflik internasional. Semakin sering tentara dikirim ke kawasan konflik dalam rangka misi Uni Eropa. Jenderal Jean-Paul Perruche dari Perancis

„Memang benar, ambisi itu belum sejauh organisasi lainnya. Namun dengan hasil yang dicapai saat ini Erop merupakan aktor yang terpercaya dalam politik keamanan di dunia.“

Jean-Paul Perruche baru saja mengakhiri tugasnya sebagai staf militer Uni Eropa di Brussel. Uni Eropa sudah membentuk struktur kecil misalnya untuk menyiapkan sejumlah misi militer. Tapi pada akhirnya selalu harus mendapat persetujuan dan dukungan personil dari ke-27 negara anggota. Salah satu dari tugas tersebut adalah pengamanan pemilihan umum di Republik Demokrasi Kongo. Di sana memang terdapat komando Uni Eropa yang membawahi pasukan dari berbagai negara anggotanya. Dengan melihat situasi sekarang, inilah satu-satunya bentuk kerjasama militer yang memungkinkan.