Flu Burung Tiba di Inggris | dunia | DW | 06.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Flu Burung Tiba di Inggris

Setelah Hungaria, kini Inggris melaporkan penemuan kasus pertama virus H5N1 di sebuah peternakan unggas milik perusahaan agraris Bernard Matthews di Suffolk.

Protes pelindung binatang atas pemusnahan 160.000 unggas di Inggris

Protes pelindung binatang atas pemusnahan 160.000 unggas di Inggris

Untuk mencegah penyebaran lebih lanjut flu burung, sekitar 160.000 ekor unggas dari peternakan itu dimusnahkan. Selain itu, pemerintah menetapkan zona beradius tiga kilometer sebagai kawasan karantina. Apakah langkah ini cukup untuk mencegah flu burung mewabah di Inggris dan bahkan Eropa?

Inggris sudah bersiap-siap mengadapi skenario terburuk, sejak kasus pertama flu burung muncul di Eropa, 2005 lalu. Kini, semua persiapan yang dilakukan mengalami uji coba dalam kehidupan nyata. Saat virus H5N1 ditemukan di salah satu peternakan unggas di timur Inggris, polisi, Kementerian Peternakan dan Departemen Kesehatan Inggris bergerak cepat. Seluruh unggas di peternakan itu dimusnahkan. Pemerintah menyebarkan informasi terpenting bagi masyarakat melalui media, seperti yang dilakukan Menteri lingkungan Inggris David Miliband:

"Bahaya bagi masyarakat dinilai minimal oleh pakar kesehatan. Menurut Lembaga Pengawasan Bahan Makanan, daging unggas yang sudah dimasak, termasuk kalkun dan telur, aman untuk dimakan.”

Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yang bermarkas di Paris, Prancis, menyatakan, virus yang ditemukan di Suffolk, Inggris, sama dengan virus H5N1 tipe Asia yang ditemukan di Hungaria dua pekan lalu. Diduga virus tersebut menyebar lewat transpor unggas. Peternakan tempat kasus flu burung ditemukan, yaitu peternakan Bernard Matthews, adalah peternakan besar yang juga memiliki cabang di Hungaria. Hipotesa ini didukung pernyataan Professor John Oxford dari Universitas Queen Mary:

"Ini mengejutkan, karena kasus flu burung ini muncul di salah satu peternakan yang tergolong aman dan bukan pada peternakan yang ternaknya tidak dikandangkan. Selain itu, kami juga tidak menduga virus akan menyebar di musim dingin. Walau begitu, kami yakin bahwa ini merupakan kasus insidental yang penyebarannya dapat diredam.“

Negara lainnya tak kalah cepat dalam menanggapi penemuan kasus flu burung di Inggris. Sejumlah langkah preventif ditetapkkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut virus H5N1. Rusia, Irlandia dan Jepang menghentikan impor unggas dari Inggris. Prancis memperketat pengawasan atas ternak unggasnya. Sementara Jerman menyatakan siap menghadapi kemungkinan penyebaran flu burung. Sejumlah peraturan dan kebijakan, misalnya kewajiban untuk mengandangkan semua ternak unggas selama musim dingin, tetap berlaku sejak kasus flu burung muncul di Jerman Februari tahun lalu.

Komisi Eropa di Brussels menyerukan negara anggotanya untuk tetap berjaga-jaga. Walau begitu, Komisaris Urusan Kesehatan Uni Eropa Markos Kyprianou yakin, negara Uni Eropa dapat mengatasi penyebaran virus mematikan H5N1.

"Kita tidak boleh lengah dan merasa bahwa penyakit flu burung sudah berhasil ditumpas, tapi kita punya sistem untuk menangani penyebaran virus ini. Kita harus tetap waspada dan kita harus siap untuk beraksi.”

Walau kasus flu burung ditemukan di sejumlah negara Eropa, namun sampai saat ini, virus mematikan H5N1 yang juga berbahaya bagi manusia, belum menelan korban jiwa di Eropa.(zer)

Iklan