Film Tanpa Gambar Ceritakan Sejarah Papua di Berlinale | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 29.02.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Berlinale

Film Tanpa Gambar Ceritakan Sejarah Papua di Berlinale

Bagaimana sebuah film bisa bercerita tanpa gambar? Film Expedition Content tentang ekspedisi di Papua Barat, yang hanya berisi rekaman suara, disambut hangat oleh publik di Berlinale.

Kategori Forum Extended di Festival Film Berlinale terkenal sebagai kategori yang menampilkan film-film bersifat eksperimental dan mendobrak batasan dengan tema-tema kontroversial, seperti rasisme, kapitalisme atau penjajahan.

Salah satu dari 26 film Forum Expanded yang tahun ini diputar pada Berlinale ke-70 adalah Expedition Content karya pembuat film dan antropolog Veronika Kusumaryati beserta rekannya, Ernst Karel.

Film ini terdiri dari komposisi arsip suara yang dibuat oleh Michael Rockefeller dalam ekspedisi Peabody-Harvard tahun 1961 di Lembah Baliem, Papua Barat, yang ketika itu masih wilayah jajahan Belanda. Ekspedisi ini didanai oleh sejumlah keluarga terkaya di Amerika Serikat, seperti keluarga Rockefeller, yang pada tahun 2005 menghibahkan arsip ekspedisi ini ke Museum Antropologi Harvard.

Mendapat sambutan positif

Tiket pemutaran perdana film Expedition Content di bioskop Arsenal 1 di Potsdamer Platz ini pun habis terjual. Selama hampir 78 menit penonton hanya disuguhkan layar hitam layaknya film belum dimulai. Sesekali ada teks transkrip atau terjemahan dari dialog yang terdengar.

Berlinale 2020 | Pembuat film Expedition Content, Veronika Kusumaryati (Rizki Lazuardi)

Veronika Kusumaryati di acara tanya jawab setelah penayangan perdana film Expedition Content di Berlinale 2020.

Film ini juga terdiri dari sejumlah lagu yang dinyanyikan oleh anggota suku Dani, serta bebunyian yang kala itu akrab terdengar dalam kehidupan keseharian di Lembah Baliem: Anak-anak yang bermain, hujan deras, perempuan yang sedang mencuci ubi, tangis dan raungan pada sebuah prosesi penguburan, interaksi antara peneliti dan orang-orang Dani.

"Ini seperti format sandiwara radio. Menggabungkan rekaman yang terdiri dari lagu-lagu dan rekaman yang berisi informasi," ujar Veronika Kusumaryati, yang pertama kali menemukan arsip rekaman ini di Harvard pada tahun 2015.

Rekaman suara yang dibuat oleh Michael Rockefeller berdurasi total 37 jam. Veronika menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk meriset dan menerjemahkan rekaman di Papua itu.

Setelah film selesai diputar, banyak penonton memberikan pujian kepada Veronika dan filmnya yang berformat tidak biasa ini. "Penonton di Berlin sangat sophisticated dan terbuka terhadap ide-ide baru," ujar Veronika. "Banyak yang datang dari kampus atau dunia seni. Beberapa belum biasa jadi tidak tinggal lama, tapi banyak yang tinggal dan memberikan apresiasi serta pertanyaan-pertanyaan," lanjutnya.

Membagi kebudayaan Papua

Dengan film ini Veronika Kusumaryati ingin memberikan kontribusi bagi Papua Barat yang situasinya ia nilai menyedihkan dan rumit. "Film ini menunjukkan bahwa Papua mempunyai budaya yang berharga tetapi banyak yang ditinggalkan. Banyak lagu sudah dilupakan. Kata-kata tertentu sudah tidak dikenal lagi."

Setelah putar perdana di Berlinale, film Expedition Content direncanakan akan ditayangkan di Festival Film Papua di Wamena bulan Agustus mendatang. "Ini milik orang Papua dan kami akan mengembalikannya," ujar Veronika. Setelah itu, kemungkinan film ini juga akan dipertunjukkan di Jakarta dan Yogyakarta.

Bersama rekan-rekannya, pembuat film yang mendapatkan gelar S3 di Universitas Harvard ini juga ingin membuat arsip-arsip dari ekpedisi Peabody tahun 1961 bisa diakses secara online.

"Dengan begitu orang bisa lebih memahami situasi di Papua karena banyak keputusan dan persepsi tentang Papua dibuat tanpa memahami Papua sendiri. Sebagai antropolog dan pembuat film, saya ingin membagi kebudayaan. Termasuk kebudayaan Papua," ujarnya. (ae)