1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Musik Klasik di Era NAZI

Nadine Wojcik
10 November 2022

Sebuah film dokumenter DW menyoroti aktivitas musik di jaman NAZI. Ketika ribuan pemusik Yahudi dibantai, sejumlah pemusik klasik lainnya justru bisa berkarir. Film ini ingin menjelaskan, bukan mendakwa.

https://p.dw.com/p/4JJ6f
Anita Lasker-Wallfisch bermain selo dalam orkestra di kamp konsentrasi Auschwitz
Anita Lasker-Wallfisch pemusik Yahudi yang biografinya dijadikan tema Dokumentasi DWFoto: Privat

Film dokumenter berjudul "Music under the Swastika — The Maestro and the Cellist of Auschwitz" atau "Musik Klasik di Bawah Swastika" mengangkat biografik pemusik klasik Yahudi, Anita Lasker-Wallfisch. Ia bermain di orkestra perempuan di kamp konsentrasi Auschwitz. Dokumentasi karya Christian Berger ini menyoroti beragam situasi yang salib bertolak belakang dari tokoh yang ditampilkan.

Anita yang berusia 17 tahun saat dikrim ke kamp konsentrasi maut Auschwitz-Birkenau pada Desember 1943, tahu persis kematian sudah berada di depan mata. "Sekarang inilah stasiun terakhir kehidupan", kenang Anita Lasker-Wallfisch yang sekarang berusia 97 tahun. Tapi, satu pertanyaan dari pimpinan Orkestra Perempuan di kamp konsentrasi itu, menyelamatkan nyawanya.

Selo penyelamat nyawa

Dalam Interview untuk film dokumentasi musik "Music under the Swastika — The Maestro and the Cellist of Auschwitz" atau aslinya dalam bahasa Jerman "Klassik unterm Hakenkreuz - Maestro und die Cellistin von Auschwitz" (Buku dan Sutradara: Christian Berger), Anita Lasker-Wallfisch mengenang, alat musik selo menyelamatkan nyawanya. Ia diterima jadi pemain selo dalam orkestra perempuan kamp konsentrasi Auschwitz yang terdiri dari 56 pemusik amatir anak- anak dan remaja Yahudi.

Terutama orkestra memainkan musik mars, yang digelar setiap pagi dan sore di kamp konenstrasi perempuan, untuk menandai dimulai dan diakhirinya kerja paksa hari itu. Setiap hari mereka memainkan musik, juga saat musim dingin membeku.  "Hanya selama Nazi perlu musik, selama itu kami tidak akan dijebloskan ke kamar gas. Itu hanya mengulur waktu!"

Pemusik Yahudi dijadikan bagian propaganda NAZI

Pertanyaannya, mengapa NAZI bersusah payah memainkanmusik klasik buat tahanan Yahudi yang akhirnya akan dibunuh di kamar gas? "Ada mentalitas sesat yang sulit dimengerti. Musik dan seni, hendak dijadikan bagian dari mesin pembunuh NAZI", kata Norman Lebrecht, pakar musik dari Inggris dalam dokumentasi itu.

Para pemusik Yahudi itu hendak dimanfaatkan sebagai pembenaran dalam propaganda, bahwa di era NAZI, Jerman mengalami tumbuh kembangnya kebudayaan. Adolf Hitler juga sangat menyadari kekuatan musik. Ada sinisme realita, di saat para pemusik Yahudi dipersekusi, dibatasi haknya bahkan dibunuh, Hitler sendiri punya koleksi piringan hitam para pemusik Yahudi.

Untuk menghidupkan kembali era dramatis itu, dokumentasi musik DW memanfaatkan materil film bersejarah, yang didigitalisasi dan secara hati-hati diwarnai dengan teknik terbaru.

DW-Dokumentasi "Music under the Swastika — The Maestro and the Cellist of Auschwitz" bisa ditonton lewat kanal YouTube DW Dokudalam bahasa Jerman, Inggris, Arab, Spanyol dan Hindi, mulai 9 November 2022. (as/yf)