Filipina Kembali Perangi Pemberontak Komunis | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 02.01.2018

Kunjungi situs baru DW

Silakan kunjungi versi beta situs DW. Feedback Anda akan membantu kami untuk terus memperbaiki situs DW versi baru ini.

  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Filipina Kembali Perangi Pemberontak Komunis

Pemerintah Filipina mengklaim akan melanjutkan operasi militer buat meredam pemberontakan Komunis yang telah berlangsung sejak 1969. Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama hari raya Natal.

Militer Filipina menyiapkan serangan lanjutan untuk meredam pemberontakan Komunis setelah kesepakatan gencatan senjata selama masa libur Natal berakhir pada Selasa (2/1). Sebelumnya pemerintah dan kelompok pemberontak mendeklarasikan masa tenang secara terpisah untuk menyambut hari raya umat Kristen tersebut.

"Ketika gencatan senjata berakhir pada pukul 11:59 malam ini, itu artinya secara otomatis kami akan melanjutkan operasi militer," kata Arsenio Andolong, Jurubicara Departemen Pertahanan Nasional.

Andolong mengklaim gencatan senjata yang dimulai pada 23 sampai 26 Desember dan 30 Desember sampai 2 Januari "secara umum berlangsung lancar," terlepas dari adanya insiden kecil antara kedua pihak yang bertikai.

Pada 25 Desember pemberontak Komunis menyerang sebuah satuan militer di selatan provinsi Davao Oriental dan mencoba menyulik seorang gerilayawan pro pemerintah pada keesokan harinya, kata Andolong.

Jurubicara militer, Kolonel Edgard Arevalo, mengatakan kedua insiden "menunjukkan sikap palsu teroris Komunis yang menjanjikan satu hal, tapi melakukan hal yang bertolakbelakang," ujarnya. Meski demikian ia mengakui "kesepakatan gencatan senjata adalah hal baik terutama untuk pasukan kami karena mereka bisa beristirahat."

Ketegangan antara pasukan pemerintah dan pemberontak Komunis meruncing sejak Presiden Rodrigo Duterte membatalkan perundingan damai Desember silam dan mendeklarasikan kelompok pemberontak sebagai teroris. Perang yang sudah berkecamuk sejak 1969 itu sejauh ini telah menelan hampir 50.000 korban jiwa.

rzn/ap (dpa,abc)

 

Laporan Pilihan