Kolaborasi dengan Warga, Filantropis Jerman Sekolahkan Anak-anak Kurang Mampu di Lombok | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 25.07.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosial

Kolaborasi dengan Warga, Filantropis Jerman Sekolahkan Anak-anak Kurang Mampu di Lombok

Berawal dari kunjungan ke Indonesia 8 tahun lalu, seorang warga Jerman Arne Honrath kini membina 250 anak di yayasan Lombok. Ia juga menggalang dana dari orang tua asuh di Jerman.

Yayasan Stern für Lombok di Indonesia

Aktivitas anak-anak di Yayasan Stern für Lombok di Indonesia, Lombok, NTB

Bekunjung ke Indonesia pada 2012 silam, seorang warga Jerman bernama Arne Honrath kini berkolaborasi dengan warga lokal membina 250 anak di Yayasan Stern für Lombok. Pria yang berkunjung ke Indonesia delapan tahun lalu itu merasakan keramahan warga, sehingga muncul keinginan untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kepala Yayasan Stern für Lombok ini rutin menggalang dana dari para orang tua asuh di Jerman untuk membayarbiaya sekolah dan kursus anak-anak di yayasan yang didirikannya. Ada 150 anggota yayasan di Jerman yang menyumbang dana secara rutin setiap bulan.

Stern für Lombok

Arne Honrath yang tinggal di Jerman rutin ke Lombok setiap tahun untuk menengok yayasannya. Namun karena wabah corona, tahun ini ia belum bisa menegok anak-anak binaannya di Lombok.

“Anggota yayasan mengumpulkan uang dan bahan-bahan yang dibutukan proyek itu dan biasanya setiap tahun saya pergi ke Lombok dan membawa uang untuk melanjutkan proyek itu. Ada uang untuk bayar sekolah, SPP,” ujar Honrath kepada DW Indonesia.

Bantuan uang yang dikumpulkan jumlahnya berkisar antara 10 hingga  25 Euro atau sekitar Rp 150 – 375 ribu per orang tua asuh setiap bulan. Selain untuk biaya SPP, uang itu juga digunakan untuk membayar keperluan sekolah anak-anak, mulai dari seragam, buku hingga biaya transportasi. 

Pria Jerman yang telah mahir berbahasa Indonesia ini menjelaskan bahwa dana tersebut juga dipersiapkan untuk keperluan darurat, misalnya untuk membayar biaya operasi medis bagianak-anak yang kurang mampu.

Kursus gratis

Honrath menyebut, setiap harinya anak-anak di yayasan Lombok juga diberikan kursus gratis, seperti kursus musik, menjahit hingga belajar Bahasa Inggris dan Jerman.

Indonesien Stern für Lombok

Aktivitas belajar-mengajar yang difasilitasi Yayasan Stern für Lombok

“Ada kegiatan berkebun juga seperti membuat kompos untuk kurangi sampah di sana. Yang paling penting ada Bahasa Inggrisnya. Semua anak ikut kursus Bahasa Inggris dan juga ada kegiatan seperti bermain musik, ada piano, ada beberapa suling, ada kursus gitar, ada ruang mesin jahit, dan ada dapur yang besar,” jelasnya.

Para pengajar dan pembinanya adalah warga setempat. Honrath mengakomodasikan kebutuhan anak-anak sesuai permintaan. Sayangnya, di masa pandemi ia tak bisa berkunjung ke Lombok. Padahal seharusnya ia datang ke Lombok bulan April lalu.

Pria yang tinggal di Siegburg, Jerman, ini sudah sangat tidak sabar untuk bisa berkunjung kembali ke Lombok. Ia ingin bisa bertatap muka lagi dengan anak-anakdan mengajarkan mereka Bahasa Jerman, segera setelah pandemi mereda. (pkp/ae)