Fenomena Langka Gerhana Bulan Biru Kemerahan dan Mitos Gempa Bumi | SOSBUD: Laporan seputar seni, gaya hidup dan sosial | DW | 29.01.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosbud

Fenomena Langka Gerhana Bulan Biru Kemerahan dan Mitos Gempa Bumi

Sebuah fenomena kosmik yang tidak terlihat dalam 36 tahun - "Super Blue Blood Moon" yang langka - mungkin akan terlihat sekilas pada 31 Januari 2018 di bagian barat Amerika Utara, Asia, Timur Tengah, Rusia dan Australia.

Deutschland Mondfinsternis (Reuters/H. Hanschke)

Fenomena gerhana bulan.

Kejadian ini menimbulkan keramaian karena gerhana tersebut menggabungkan tiga peristiwa bulan yang tidak biasa, yaitu supermoon ekstra besar, bulan biru dan gerhana bulan total. Selain itu banyak rumor yang beredar mengaitkan fenomena gerhana bulan dengan gempa bumi.

Gerhana bulan dan gempa bumi

Sudah lama gerhana bulan dikait-kaitkan dengan terjadinya gempa. Apalagi gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 juga terjadi 2 pekan sebelum supermoon 10 Januari 2005. Pun dengan gempa 9 SR di Jepang pada 11 Maret 2011.

Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja menegaskan, tidak ada kaitan antara kedua fenomena alam tersebut. "Tidak ada kaitannya. Itu suatu perkiraan orang dihubung-hubungkan orang," ujar Danny.

Senada, Kepala Bagian Humas BMKG, Hary Tirto Djatmiko, menegaskan kedua hal tersebut terlalu jauh untuk dikaitkan. "Sejauh ini tidak ada kaitannya. Yang satu fenomena astronomi yang satu fenomena terkait geologi. Jadi dua hal yang berbeda," kata Hary kepada Liputan6.com.

Tiga peristiwa lunar sekaligus

"Ini trifekta astronomis," kata Kelly Beatty, editor senior majalah Sky and Telescope. Bulan biru terjadi saat ada bulan purnama kedua dalam satu bulan. Biasanya bulan biru terjadi setiap dua tahun delapan bulan.

Bulan purnama ini juga yang ketiga dalam rangkaian "supermoon" yang terjadi saat bulan dalam posisi terdekat dengan Bumi di orbitnya. Titik ini disebut titik lintasan dan membuat bulan terlihat 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang.

Selama gerhana, bulan akan masuk melalui bayangan Bumi, dan secara perlahan mengubah cahaya putih menjadi oranye atau merah. "Cahaya merah yang Anda lihat adalah sinar matahari yang melewati dan dipantulkan atmosfer Bumi ke ruang angkasa sampai bulan," kata Alan MacRobert dari majalah Sky and Telescope.

"Dengan kata lain, sinar ini berasal dari sinar matahari pagi dan sore yang saat itu meyoroti bumi," terangnya.

Sejajarnya matahari, bulan, dan Bumi akan berlangsung selama satu jam 16 menit dan akan terlihat sebelum matahari terbit di seluruh Amerika Serikat bagian barat dan Kanada.

Negara-negara yang menyaksikan gerhana

Negara-negara yang berada di Timur Tengah, Asia, Rusia bagian timur, Australia, dan Selandia Baru dapat melihatnya pada malam hari, saat bulan muncul.  Di Indonesia sendiri, secara keseluruhan, peristiwa gerhana dari fase awal hingga akhir akan terjadi selama sekitar enam jam pada 31 Januari 2018 mulai pukul 17.00 WIB sampai 23.00 WIB.

Pada fase purnama sekitar pukul 20.30 WIB, gerhana bulan total akan berada pada fase puncak. Peristiwa tersebut akan berlangsung kurang lebih 77 menit, di mana masyarakat di seluruh wilayah Indonesia akan melihat bulan berubah warna menjadi merah.

Tidak seperti gerhana matahari, gerhana bulan ini bebas dilihat mata manusia tanpa mengunakan pelindung.

yp/hp  (afp, liputan6.com, tribunnews.com)

Laporan Pilihan