1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

121211 Strafgerichtshof Chefanklägerin

13 Desember 2011

Seorang perempuan dari Gambia akan mengetuai Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag. Bahwa ia berasal dari Afrika, dianggap sebagai salah satu keistimewaan mengapa ia dipandang cocok untuk jabatan ini.

https://p.dw.com/p/13S3A
Fatou Bom Bensouda, lahir tahun 1961 di Banjul, GambiaFoto: CC BY-SA 3.0

Fatou Bensouda menapaki karir yang luar biasa. Karena itu sudah lama ia diramal akan menggantikan Luis Moreno-Ocampo sebagai ketua Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Ia menjadi wakil Ocampo sejak 2004. Pengetahuan dan pengalamannya di lembaga peradilan internasional menjadikan ia cocok untuk pekerjaan itu.

Ia memegang sejumlah kartu truf. Sangat kompeten, berasal dari Afrika dan punya pengalaman panjang di Mahkamah Kejahatan Perang PBB. Fatou Bensouda mewakili keyakinan kuat bahwa tugas ICC adalah untuk ikut serta mencegah kejahatan terhadap kemanusiaan, terutama di Afrika.

"Para penandatangan Statuta Roma mengakui, ada hubungan penting antara keadilan dan perdamaian. Dengan mengkahiri kekebalan bagi kejahatan berat, mahkamah dapat dan akan berkontribusi bagi pencegahan kejahatan semacam itu dengan efek 'mengejutkan' yang dimilikinya", kata Bensouda.

Demi korban

Kejahatan besar seperti di Rwanda misalnya. Bensouda pernah mengetuai mahkamah kejahatan perang PBB untuk Rwanda. Berkali-kali ia menekankan bahwa apa yang ia kerjakan terutama demi korban.

Frau aus Darfur
Perempuan Afrika menyaksikan penderitaan luar biasaFoto: AP

Asal usul Afrikanya lah yang terutama membuat Fatou Bensouda dipandang cocok sebagai pengganti Luis Moreno-Ocampo, mengingat kebanyakan pelaku kejahatan yang dihadapkan ke ICC berasal dari Afrika. Tetapi, penunjukannya bukan hanya penting bagi legitimasi ICC, kata Profesor Kai Ambos, ketua departemen untuk hukum pidana internasional dan asing di Universitas Göttingen.

"Karena ia mengenal ICC dari dalam, dia wakil Ocampo, ia tahu kesalahan yang dibuat pendahulunya dan bisa berbuat lebih baik. Ia dihormati dan sangat hati-hati. Sepanjang yang saya kenal, Bensouda orang yang sangat sosial dan berinteraksi dengan sangat baik", kata Ambos.

Negara-negara Afrika, yang mendukung ICC, menyambut hangat bahwa mahkamah akan dipimpin seorang hakim yang kenal benua Afrika dengan sangat baik. Hampir semua sidang di ICC terkait dengan Afrika. Republik Demokratik Kongo, Darfur, dan Pantai Gading hanya sedikit contoh.

Lawan impunitas

Tapi bagi banyak rakyat Afrika, sulit dimengerti bahwa hanya warga Afrika yang duduk di kursi terdakwa. Ada anggapan umum di Afrika bahwa Mahkamah Pidana Internasional adalah mahkamah kulit putih untuk membalas dendam kepada orang Afrika. Fatou Bensouda membantah tegas:

"Saya mencemaskan kesan apapun bahwa Mahkamah Pidana Internasional hanya menyasar Afrika. Perjuangan untuk melawan impunitas bukanlah latihan pasca kolonialisme. Ini perjuangan yang didukung dan ikut dibentuk oleh rakyat di Afrika", kata Bensouda.

Senegal adalah negara Afrika pertama yang meratifikasi Statuta Roma tahun 1999, yang menjadi dasar pendirian ICC. Langkahnya diikuti lebih dari 30 negara Afrika. Hampir 1/3 hakim di ICC berasal dari Afrika.

Ini semua mencerminkan besarnya tanggungjawab Afrika. Karena tidak ada benua lain yang menderita begitu besar karena ketiadaan insititusi hukum dan adanya kekebalan hukum.

Lina Hoffmann/Renata Permadi Editor: Hendra Pasuhuk