1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

FAO Gelar Sidang Darurat Kelaparan di Afrika

25 Juli 2011

Bencana kelaparan di Afrika Timur mendorong FAO gelar sidang darurat untuk mencari jalan keluar dari krisis yang mengancam 12 juta manusia di enam negara tsb.

https://p.dw.com/p/122tT
Para pengungsi yang kelaparan di Somalia ditampung di kamp pengungsi sementara di Mogadishu.Foto: picture alliance/dpa

Organisasi PBB untuk bahan pangan dan pertanian-FAO, hari Senin (25/7) menggelar sidang darurat di Roma, membahas bencana kelaparan di Afrika Timur khususnya di kawasan Tanduk Afrika. Sidang darurat diserukan Perancis yang saat ini menjabat sebagai ketua kelompok negara ekonomi terkemuka G-20. Sedikitnya 12 juta orang terancam bencana kelaparan akibat kekeringan terhebat selama 60 tahun terakhir ini di Somalia, Ethiopia, Djibouti, Kenya, Sudan dan Uganda.

Organisasi bantuan melaporkan, Somalia menghadapi masalah paling parah dalam pemasokan bantuan bahan pangan. Pasalnya milisi radikal Islam, Al Shabaab yang menguasai kawasan selatan Somalia, yang dilanda bencana kelaparan paling hebat, telah mengeluarkan larangan pemasokan bantuan pangan oleh organisasi bantuan internasional. Ketua program bantuan darurat FAO untuk Afrika, Christina Amaral, mengkhawatirkan kondisinya di bulan-bulan mendatang akan semakin memburuk, jika sekarang ini masyarakat internasional tidak melakukan tindakan apapun. Amaral juga memperingatkan, tanpa akses ke selatan Somalia, masyarakat internasional ibaratnya hanya melihat puncak gunung es dari krisis tsb.

Frances Kennedy dari Program Pangan PBB-WFP di Roma juga menegaskan inti permasalahannya : “Episentrum krisisnya terletak di Somalia. Yang paling mencemaskan kami adalah bencana kelaparan di dua kawasan selatan Somalia, dimana organisasi bantuan internasional tidak mendapat akses.“

Masyarakat internasional kini berusaha melakukan perundingan dengan milisi radikal Islam Al Shabaab di Somalia, untuk memperoleh akses guna menyalurkan bantuan pangan ke kawasan krisis pangan.

Jembatan udara

Melihat gawatnya situasi dan tidak adanya jaminan keamanan bagi para petugas bantuan, WFP bahkan mempertimbangkan semacam jembatan udara, untuk mengangkut bahan bantuan menggunakan pesawat terbang ke ibukota Somalia, Mogadishu untuk kemudian didistribusikan lagi ke selatan. Namun banyak pihak yang menilai cara itu samasekali tidak efektif. Karena sebagian atau bahkan seluruh bahan bantuan dapat direbut milisi Al Shabaab.

Juga menteri bantuan pembangunan Jerman, Dirk Niebel dalam wawancara dengan televisi publik Jerman-ARD, menyatakan skeptis berkaitan bantuan lewat udara tsb. “Jika persyaratan keamanan tidak dijamin oleh milisi Al Shabaab, akan sangat sulit memasok bantuan bagi warga di sana. Melemparkan bahan pangan dari pesawat terbang, seperti yang saat ini didiskusikan, kemungkinan akan lebih menguntungkan Al Shabaab, bukannya orang yang kelaparan. Diyakini ini bukan solusi yang tepat,“ tegas Niebel.

Konflik bersenjata perparah krisis

Bencana kelaparan di Afrika Timur selain dipicu oleh musim kering terhebat selama 60 tahun terakhir, juga diperburuk dengan konflik yang melanda kawasan tsb, ditambah dengan kenaikan drastis harga bahan pangan. Diperkirakan, saat ini sekitar 3,7 juta orang di kawasan Tanduk Afrika memerlukan bantuan pangan darurat secepatnya. Untuk menanggulangi krisis tsb, Bank Dunia menjanjikan bantuan senilai sekitar 348 juta Euro, Uni Eropa menyiapkan bantuan sekitar 160 juta Euro, dan Jerman menyiapkan seluruhnya 30 juta Euro bantuan untuk Afrika Timur. FAO memperkirakan diperlukan bantuan segera senilai 84 juta Euro untuk membantu bidang pertanian di kawasan Afrika yang dilanda bencana kelaparan itu.

Agus Setiawan/rtr/dpa/dapd/dw

Editor : Dyan Kostermans