Faktor 24 Juta Dollar Sebelum Perundingan Beijing | Fokus | DW | 30.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Faktor 24 Juta Dollar Sebelum Perundingan Beijing

Sesudah setahun macet, perundingan 6 pihak mengenai sengketa nuklir Korea Utara akan dilangsungkan lagi mulai tanggal 8 Februari mendatang di Beijing, Cina.

Demonstrasi anti atom Korut di Seoul Oktober 2006

Demonstrasi anti atom Korut di Seoul Oktober 2006

Ke-enam pihak yang terlibat proyek diplomatik panjang untuk melucuti kemampuan nuklir Korea Utara itu adalah Amerika Serikat, Cina, Rusia, Jepang dan kedua Korea: Utara dan Selatan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Ju Jiang, mengumumkan, kepastian itu diperoleh sesudah dalam upaya diplomatik intensif, Korea Utara menunjukkan kesediaan untuk berkompromi.

Namun suatu perundingan lebih dini sudah dilakukan sejak Selasa (30/01) ini di Beijing. Yakni antara Daniel Glaser, juru runding Amerika untuk urusan sanksi keuangan, dengan pejabat otoritas keuangan Korea Utara, O Kwang Chol. Hal ini dilakukan, karena Korea Utara bersikeras menuntut pencabutan sanksi keuangan Amerika Serikat terlebih dahulu, sebagai syarat untuk kembali ke meja perundingan.

Amerika memang menerapkan sanksi keuangan tersendiri. Pada September 2005, negeri itu membekukan dana Korea Utara sebesar 24 juta Dollar dari sebuah Bank Makao. Alasannya, bank itu mengedarkan Dollar palsu dan melakukan pencucian uang untuk Korea Utara. Korea bereaksi keras dengan menghentikan perundingan nuklir. Bahkan kemudian melakukan uji coba bom nuklir. Digambarkan oleh Christopher Hill, Ketua Juru Runding Amerika untuk perkara Korea:

"Sudah setahun lamanya mereka memboikot perundingan, dikarenakan pembekuan dana mereka di sebuah bank Makao senilai 24 juta Dollar. Jadi karena pembekuan dana yang sebetulnya nilainya cuma 24 juta Dollar itu mereka memboikot perundingan nuklir, bahkan kemudian melakukan uji coba peledakan bom nuklir."

Uji coba nuklir membuat Korea makin terisolasi. Dengan suara bulat, Perserikatan Bangsa Bangsa menerapan sanksi ekonomi yang keras. Masyarakat internasional seperti bersatu dalam sikap. Ini membuat Korea Utara terpaksa bersedia kembali ke meja perundingan. Masalahnya, Korea Utara tetap menunjukan sikap keras, membuat prospek penyelesaian masalahnya jadi suram.

Titik terang muncul, melalui serangkaian pembicaraan pra perundingan, yang dilakukan intensif antara ketua juru runding Amerika, Christopher Hill, dengan ketua juru runding Korea Utara, Kim Gye-Gwan, di Berlin, awal Januari ini. Selanjutnya, dilakukan pembicaraan khusus mengenai perkara ini, hari Selasa (30/01) ini di Beijing. Menurut laporan media Jepang Yomiuri Shimbun, Amerika Serikat tampaknya bersedia mencairkan sebagian dana itu. Setidaknya senilai 13 juta Dollar, yang dinilai bersih dan tak terkait dengan kegiatan keuangan ilegal Korea Utara.

Dengan itu, diharapkan perundingan 6 pihak pekan depan berlangsung lebih produktif. Dan menghasilkan kesepakatan kongkret mengenai penghentian sepenuhnya program nuklir Korea Utara. ***