Fakta Seputar Serangan Mapolda Riau | dunia | DW | 16.05.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Terorisme

Fakta Seputar Serangan Mapolda Riau

Serangan terhadap Mapolda Riau menewaskan seorang petugas dan empat pelaku. Polisi masih memburu sejumlah tersangka lain yang dikabarkan lolos. Inilah fakta yang diketahui sejauh ini.

Kepolisian Daerah Riau mendapat serangan teror usai empat pria bersenjata tajam menyerbu Mapolda di Pekanbaru dan menewaskan seorang petugas. Polisi berhasil menewaskan empat pelaku penyerangan, sementara seorang dikabarkan melarikan diri.

Serangan di Riau memperpanjang deretan kasus terorisme yang melanda Indonesia baru-baru ini. Namun berbeda dengan teror di Surabaya, serangan di Pekanbaru dilakukan oleh kelompok Negara Islam Indonesia yang juga berafiliasi dengan ISIS.

NII termasuk kelompok teror paling tua dan sudah aktif sejak dekade 1980an. Setelah sempat mati suri menyusul geliat Jemaah Islamiyah, belakangan NII kembali hidup lewat jaringan Mujahiddin Indonesia Barat yang didirikan Abu Roban 2013 silam.

Kapolda Riau Irjen Pol Nandang mengatakan para pelaku mengendarai sebuah minibus menerobos masuk ke halaman depan mapolda. Empat penyerang menghunus pedang dan menyerbu petugas di sekitar sebelum dilumpuhkan aparat. Adapun empat tersangka dilaporkan berhasil melarikan diri.

"Empat orang gunakan pedang tajam, sudah disiapkan, betul-betul tajam. Dua anggota kena tebas di leher, alhamdulillah selamat. Satu kena di tangan, satu luka ringan dari reporter TV One dan satu orang anggota saya ditabrak dan pada saat dibawa ke RS dalam kondisi luka berat dan baru saja meninggal dunia," ungkapnya dalam jumpa pers sepertin dilansir Kompas.

Ipda Auzar meninggal dunia di RS Bhayangkara Riau setelah ditabrak pelaku.

Detik melaporkan, serangan dilakukan ketika aparat disiagakan jelang jumpa pers terkait penanganan narkoba. Kompleks yang berada di seberang kantor gubernur itu dikabarkan sudah dipenuhi petugas sejak Rabu (16/5) pagi.

Saat berita ini diturunkan kepolisian sudah menurunkan tim identifikasi TKP, Inafis, dan Gegana buat memeriksa mobil yang ditinggalkan pelaku. Polisi ingin memastikan mobil tersebut tidak menyimpan bahan peledak.

Sementara itu harian Tribunnews mempublikasikan sebuah surat yang ditemukan pada salah seorang pelaku yang tewas ditembak. Di dalamnya terdapat dua ayat Al-Quran yang memerintahkan untuk memerangi kaum kafir. "Sungguh kami akan terus memerangi kalian walaupun salah satu dari kami akan terbunuh, itu adalah hal kecil bagi kami demi tegaknya ajaran Allah di muka bumi ini. Karena kami tidak ridho diatur oleh aturan kafir."

Namun sejauh ini belum ada konfirmasi mengenai keaslian surat tersebut.

rzn/yf (detik, kompas, tribunnews, ap)

 

Laporan Pilihan