Facebook Larang Akun Teori Konsipirasi QAnon yang Sebarkan Informasi Sesat | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 07.10.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Facebook

Facebook Larang Akun Teori Konsipirasi QAnon yang Sebarkan Informasi Sesat

Facebook mengumumkan bahwa mereka akan melarang semua akun dari kelompok yang terkait QAnon, gerakan teori konspirasi yang menyebarkan informasi keliru. Pelarangan juga akan meluas ke platform Instagram milik Facebook.

Facebook mengumumkan pada Selasa (06/10) bahwa mereka akan menghapus akun kelompok yang secara terbuka mendukung QAnon, sebuah grup teori konspirasi yang menyebarkan informasi  sesat di seluruh Amerika Serikat dan negara lain.

"Mulai hari ini, kami akan menghapus semua Laman Facebook, Grup dan akun Instagram yang mewakili QAnon, meskipun tidak berisikan konten kekerasan," kata Facebook dalam pernyataannya. Ini berbeda dari kebijakan Facebook sebelumnya, yang mengatakan bahwa grup QAnon akan dihapus hanya jika mereka menampilkan konten kekerasan.

"Kami bertujuan untuk memerangi ini secara lebih efektif dengan pembaruan yang memperkuat dan memperluas penegakan kami terhadap gerakan teori konspirasi," kata Facebook.

Di bawah peraturan baru, Facebook akan melihat berbagai faktor untuk memastikan apakah grup tersebut harus dilarang. Ini termasuk nama grup, biografinya, bagian "tentang", maupun konten yang diunggah di dalam grup atau oleh akun Instagram.

Facebook juga akan menonaktifkan akun pribadi para administrator grup ini.

"Keputusan Facebook untuk melarang QAnon dari semua platformnya sangat dibutuhkan, walau terlambat, langkah untuk membersihkan teori konspirasi berbahaya dari platform tersebut," kata Jonathan Greenblatt, CEO dari Anti-Defamation League.

"Kami berharap ini adalah upaya tulus untuk membersihkan kebencian dan antisemitisme dari platform mereka, dan bukan respons langsung terhadap tekanan dari anggota Kongres dan publik," tambahnya.

Unjuk rasa QAnon

Pendukung QAnon melakukan unjuk rasa tentang teori konspirasi corona di dunia, salah satunya kota München (12/09)

Apa it QAnon?

Gerakan QAnon, yang lahir dan besar di internet, secara keliru mengklaim bahwa dunia dijalankan oleh elite pedofil internasional yang menjalankan jaringan perdagangan anak global.

Pendukung QAnon juga percaya bahwa lingkaran elite ini - yang mencakup selebriti dan tokoh politik sayap kiri - membentuk apa yang disebut deep state, suatu bentuk pemerintahan rahasia. Mereka juga mengklaim bahwa tokoh-tokoh tersebut berupaya untuk menggulingkan Presiden AS Donald Trump yang dipandang sebagai sosok penyelamat.

Gerakan ini juga tumpang tindih dengan beberapa mitos konspirasi lainnya dan mencampurkan klaimnya dengan teori lama tentang vaksin dan teknologi seluler 5G.

QAnon juga memasukkan kiasan supremasi kulit putih dan anti-Semit serta politik sayap kanan.

QAnon bermulai pada Oktober 2017, ketika seorang pengguna anonim bernama Q mulai menyebarkan teori yang tidak masuk akal di aplikasi pesan 4chan. Gerakan ini kemudian berkembang di media sosial populer dunia, termasuk Facebook, Instagram, YouTube, dan Twitter.

Menyebarkan informasi yang salah

Gerakan QAnon berdampak besar pada situasi politik, dan sering kali mengakibatkan kekerasan di dunia nyata.

Sebuah laporan FBI tentang kelompok konspirasi tahun lalu mengatakan bahwa QAnon adalah salah satu dari beberapa gerakan yang dapat mendorong "baik kelompok maupun individu ekstremis untuk melakukan tindakan kriminal atau kekerasan."

Yang paling baru, penyebaran informasi yang salah tentang asal muasal kebakaran hutan yang melanda sepanjang Pantai Barat AS.

Facebook mengatakan telah "melihat konten QAnon lain yang berhubungan dengan berbagai bentuk kerusakan dunia nyata, termasuk klaim baru-baru ini bahwa kebakaran hutan Pantai Barat dimulai oleh kelompok tertentu, yang mengalihkan perhatian pejabat lokal dari memerangi kebakaran dan melindungi publik."

Kelompok QAnon juga telah menyebarkan informasi palsu tentang virus corona dan tentang pemungutan suara jelang pemilihan presiden AS 3 November.

Sebelumnya, Facebook kerap dikritik karena menyediakan platform untuk berita palsu dan penyebaran teori konspirasi, terutama menjelang pemilihan presiden 2016 di AS, yang membuat Trump menang.

rap/pkp (AP, dpa, Reuters, AFP)

Laporan Pilihan