1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
IptekJepang

Expo 2025 di Osaka: Keren tapi "Lebay"?

11 April 2025

Expo atau Pameran Dunia bertujuan untuk menghadirkan inovasi yang menarik dan menawarkan solusi bagi masalah mendesak di masa depan. Pameran memukau ini memang mengesankan, tetapi apakah masih relevan di zaman sekarang?

https://p.dw.com/p/4svcH
Uji coba terakhir sebelum upacara pembukaan besar telah berhasil diselesaikan.
Uji coba terakhir sebelum upacara pembukaan besar telah berhasil diselesaikan – sekitar 30 juta pengunjung diperkirakan akan hadir di Osaka.Foto: Takuya Yoshino/AP/picture alliance

Dalam Pameran Dunia atau Eksposisi Dunia (Ekspo/Expo) pertama di London tahun 1851, tujuan utamanya adalah untuk memperkenalkan inovasi teknologi dan hal-hal keren yang belum pernah terungkap sebelumnya.

Menara Eiffel, yang dibangun untuk Pameran Dunia di Paris, Prancis pada tahun 1889, bagi banyak warga saat itu adalah sebuah hal yang menjengkelkan, tetapi bagi sebagian besar pengunjung, menara itu dipandang sebagai sebuah sensasi yang menakjubkan.

Sama halnya dengan Atomium di Brussels yang dibangun untuk Expo tahun 1958. Hingga kini, monumen-monumen ini terus jadi magnet bagi turis, menarik jiwa-jiwa yang ingin menyaksikan keajaiban dunia yang diciptakan oleh manusia.

Namun, kini era semacam itu sudah lewat, ibaratnya sudah terbenam seiring berlalunya sang waktu. Inovasi global yang paling memukau, yang dulunya hanya bisa ditemukan dengan perjalanan melintasi samudra, kini hanya berjarak "beberapa kali klik" dari ujung jari-jemari kita pada laptop atau telepon genggam.

Dalam dunia yang terhubung oleh jaringan digital ini, tak lagi diperlukan perjalanan ribuan kilometer hanya untuk menyaksikan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang menyentuh batas-batas baru.

Pameran Dunia yang terakhir, yang diselenggarakan di Hannover, Milan, dan Dubai, berusaha menjadi lebih dari sekadar tontonan yang memukau mata, merangsang jiwa dan pikiran kita untuk merenung.

Di balik gemerlap cahaya dan hiruk-pikuk, sejak dekade 1990-an, Pameran Dunia berusaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang menggantung di udara: Bagaimana kita akan hidup bersama di masa depan? Bagaimana kita menciptakan kehidupan perkotaan yang lebih layak dihuni? Bagaimana kita bisa mengatasi ketidakadilan sosial yang membelenggu? Apa saja alternatif untuk sistem transportasi, energi, dan ekonomi yang berkelanjutan? Bagaimana kita dapat melindungi lingkungan kita dengan lebih bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan itu memerlukan jawaban bersama, jawaban yang melampaui batas negara dan benua.

Menyulap Kawasan Urban Jadi Lebih Ramah Kehidupan

Kesenangan mewah: Tak diperlukan, namun mengagumkan

Meskipun pertanyaan-pertanyaan itu seakan menjadi benang merah yang menyatukan seluruh Pameran Dunia, pada kenyataannya, pameran-pameran terakhir lebih banyak berfungsi sebagai pertunjukan megah yang mengundang decak kagum.

Tak ada satu pun negara yang ingin atau mampu melewatkan kesempatan untuk tampil dalam perayaan global ini. Maka, pada Pameran Dunia yang digelar tahun ini di Osaka, Jepang, sekitar 160 negara dan organisasi internasional akan ikut berpartisipasi, masing-masing memamerkan kemajuan teknologi dan budaya mereka dalam perjalanan enam bulan penuh.

Sebuah cincin atap yang membentang sepanjang dua kilometer, salah satu konstruksi kayu terbesar yang pernah ada, mobil terbang, panel surya transparan, batuan dari Mars, bangunan-bangunan futuristik, serta pertunjukan-pertunjukan spektakuler—semua ini bisa disaksikan hanya dengan tiket masuk yang berkisar antara Rp450 ribu hingga Rp780 ribu.

Expo 2025 memiliki banyak sekali keajaiban untuk ditawarkan. Di luar pusat Kota Osaka, sekitar sepuluh kilometer jauhnya, sebuah pulau buatan bernama Yumeshima Island telah disiapkan sebagai lokasi Ekspo atau Expo yang megah ini.

Expo 2025
Untuk Expo di Osaka, sebuah pulau buatan khusus dibangun di laut, dengan di tengahnya sebuah konstruksi cincin raksasa dari kayu.Foto: Takumi Harada/AP/picture alliance

Jerman mempersembahkan konsep ekonomi berkelanjutan

"Merancang masyarakat masa depan dan membayangkan kehidupan kita di hari esok," begitulah tema tahun ini di Osaka.

Berbagai ide mengenai bagaimana kita akan hidup bersama di masa depan dan alternatif untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan, adil, dan saling terhubung akan dipresentasikan.

Begitu pula dengan inovasi-inovasi di bidang kesehatan dan ketahanan pangan, kecerdasan buatan, robotika, serta energi terbarukan.

Pameran ini dengan tegas akan menempatkan perlindungan lingkungan sebagai fokus utama, sebuah isu yang semakin terabaikan di tengah berbagai krisis dan konflik yang membara di berbagai penjuru dunia.

Paviliun Jerman, yang menjadi pusat perhatian pada 2025, akan mengusung tema ekonomi sirkular. Meskipun terdengar tidak menarik, hal ini sejatinya sangatlah penting. Ekonomi sirkular yang bebas dari sampah, yang netral terhadap iklim, merupakan kunci dari kelangsungan hidup ekonomi yang berkelanjutan.

Paviliun-paviliun yang paling mencolok mendapatkan perhatian terbanyak.
Menonjol dengan segala cara: Paviliun-paviliun yang paling mencolok mendapatkan perhatian terbanyak.Foto: Takumi Harada/AP/picture alliance

Pertarungan paviliun

Dalam setiap Ekspo atau Expo, paviliun negara-negara peserta selalu menjadi sorotan utama. Untuk memastikan bahwa pengunjung terpesona dan mengingatnya lama setelah mereka pergi, diperlukan paviliun yang mencolok dan memikat.

Negara-negara yang mampu berinvestasi besar tidak segan-segan mengeluarkan dana yang luar biasa untuk ini.

Namun, meski demikian, banyak paviliun yang lebih menyerupai brosur perjalanan yang dapat dimasuki, di mana keindahan alam atau bahkan pemerintah negara tersebut dipuji, sementara pramuwisata yang ramah menawarkan hidangan khas negara mereka.

Sering kali, paviliun-paviliun ini mencerminkan kekuatan ekonomi suatu negara. Negara-negara dengan ekonomi lebih lemah meskipun mendapat dukungan dari penyelenggara dalam bentuk ruang yang lebih murah dan fasilitas sederhana, tetap saja hanya dapat menyajikan paviliun yang sederhana, dihiasi poster-poster alih-alih proyeksi video yang menakjubkan. Akibatnya, perhatian pengunjung pun menjadi terbatas.

Pameran Dunia: Sebuah tanggung jawab keuangan yang besar

Dulu, mengadakan Ekspo/Expo atau Pameran Dunia adalah sebuah proyek prestisius yang menjanjikan keuntungan besar. Pameran ini seakan menjadi simbol dari pertumbuhan ekonomi, investasi besar dalam infrastruktur, serta reputasi internasional yang tiada tara.

Namun kini, bahkan bagi negara-negara "sultan" yang menjadi tuan rumah, Pameran Dunia tak lagi sekadar sebuah proyek prestisius, melainkan sebuah beban finansial yang berat, yang menyebalkan rakyatnya.

Expo 2020 yang tertunda di Dubai gara-gara pandemi COVID-19, akhirnya diselenggarakan pada 2021/22, dengan menghabiskan biaya sekitar tujuh miliar dolar AS, dengan lebih dari 24 juta pengunjung yang penasaran.

Sementara Expo 2025 di Osaka, yang dibuka 13 April hingga hinnga 13 Oktober diperkirakan akan menyedot sekitar 28 juta pengunjung ke kota itu.

Meskipun demikian, semangat di Jepang sempat meredup, dan penjualan tiket pun stagnan. Biaya yang terus meningkat, inflasi, dan kekurangan tenaga kerja telah membuat anggaran untuk pembangunan Expo ini melonjak 27 persen dibandingkan perkiraan awal pada tahun 2020, menjadi sekitar 1,5 miliar euro.

Immersive Art: Karya Seni yang Bisa Dialami

Seberapa berkelanjutan Expo atau Pameran Dunia?

Di setiap Expo atau Pameran Dunia, banyak untaian kata yang diucapkan tentang perlindungan lingkungan dan keberlanjutan, terutama oleh para penyelenggara.

Namun kenyataannya, Pameran Dunia itu sendiri jauh dari keberlanjutan, mengingat setiap lima tahun sekali, jutaan orang datang untuk menonton, kebanyakan dengan pesawat terbang, yang menyumbang tingkat emisi karbon dioksida yang gila-gilaan.

Banyak paviliun yang dibangun dengan biaya tinggi akan dihancurkan begitu pameran usai. Di atas tanah yang pernah digunakan sebagai lokasi pameran, biasanya bakal dibangun kawasan perumahan baru, taman, atau zona ekonomi.

Secara ekologis, tentu saja, cuan yang dibelanjakan untuk membangun semua ini, seharusnya bisa digunakan untuk tujuan yang lebih bijaksana.

Renungkanlah: Apakah Expo atau Pameran Dunia benar-benar dapat berkontribusi nyata dalam menyelesaikan segudang permasalahan yang kita hadapi di masa depan? 

Mereka yang datang untuk merasakan kegembiraan dalam dunia gemerlap futuristik mungkin akan mendapatkan sedikit inspirasi. Namun, kita tak boleh melupakan bahwa tantangan-tantangan yang ada, baik di masa kini maupun masa depan, meskipun dunia terpecah dan terisolasi, hanya bisa dihadapi bersama, dengan kekuatan kolektif.

*Artikel ini diterbitkan pertama kali dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi oleh: Ayu Purwaningsih

Editor: Agus Setiawan