Eropa ′Tulang Punggung′ Pasukan PBB untuk Libanon | Fokus | DW | 26.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Eropa 'Tulang Punggung' Pasukan PBB untuk Libanon

UE akan mengirim 6900 tentara, demikian hasil pertemuan di Brussel Jumat malam (25/08).

Menlu Jerman Steinmeier dan Sekjen Kofi Annan.

Menlu Jerman Steinmeier dan Sekjen Kofi Annan.

Seusai sidang istimewa para Menlu UE di Brussel, Sekjen PBB Kofi Annan memperkirakan dalam waktu beberapa hari, dan bukan minggu, 4000 tentara pertama dari perluasan pasukan helm biru untuk Libanon, akan diberangkatkan. Di luar dugaan, negara-negara Eropa menjanjikan sampai 6.900 tentara dan satuan marinir tambahan bagi misi PBB di Libanon, UNIFIL. Kofi Annan menyatakan puas.

Kofi Annan: "Jumlah pasukan Eropa yang dijanjikan kini mencapai separuh dari total pasukan yang dibutuhkan. Ini berarti Eropa memenuhi tanggungjawabnya, menjadi tulang punggung pasukan. Dan kita bisa yakin membentuk pasukan yang bisa diandalkan, yang akan membantu masyarakat internasional untuk mencapai tujuannya di wilayah tersebut."

Italia memberi kontribusi terbesar dengan 3000 tentara dan akan mengambil alih kepemimpinan pasukan helm biru di Libanon, mulai Maret 2007. Perancis menjanjikan 2000 tentara dan untuk sementara memegang komando UNIFIL. Spanyol akan mengirim 1200, Polandia 500, Belgia 400 dan Finlandia 250 orang.

Lalu, seberapa besar keikutsertaan Jerman dalam bentuk satuan marinir untuk pengawasan wilayah pantai Libanon? Menlu Jerman Frank Walter Steinmeier belum mau menyebut angka. Tapi ia menandaskan, setelah sempat maju mundur, hari terakhir sidang istimewa para Menlu UE berjalan dengan sangat positif.

Frank Walter Steinmeier: "Sebuah keberhasilan bagi Eropa. Saya pikir, berlawanan dari yang diperkirakan, pertemuan para menlu ini menghasilkan banyak kejelasan, lebih banyak dari yang diperkirakan."

Sekjen PBB Kofi Annan bisa menyodorkan peraturan yang jelas bagi pasukan helm biru dan menghilangkan keraguan negara-negara Eropa. Tentara PBB boleh membela diri dan dalam situasi pertempuran boleh menggunakan senjata. Namun Menlu Jerman Steinmeier menegaskan, pasukan PBB tidak bertugas untuk secara aktif melucuti senjata milisi Hisbullah.

Steinmeier: "Yang berwenang melucuti Hisbullah adalah negara Libanon, jika diperlukan dengan bantuan tentaranya. Sekjen PBB sekali lagi menegaskan, bahwa bagaimanapun juga, pelucutan senjata Hisbullah adalah sebuah proses politik."

Annan mengatakan, Hisbullah tak akan bisa didekati dengan cara kekerasan. Karena itulah ia mendesak semua pihak yang bertikai, Israel dan terutama Libanon, agar sekarang memulai proses politik guna mencapai gencatan senjata abadi dan penyelesaian konflik.

Kofi Annan: "Masyarakat interanasional harus menyadari tanggungjawabnya dan melaksanakannya. Libanon juga harus memikul tanggungjawabnya dan menemukan sebuah solusi nasional tentang bagaimana melangkah maju dan mengimplementasikan resolusi 1701."

Resolusi PBB tersebut menetapkan pelucutan senjata terhadap seluruh milisi. Kata Kofi Annan, penempatan tentara Libanon di selatan negara itu merupakan langkah yang penting dan berani. Ia menyebutkan pula janji Indonesia,Turki, Bangladesh dan Malaysia untuk ikut mengirim pasukan. Dalam beberapa hari ke depan Annan akan bertolak ke Timur tengah untuk bersama-sama dengan pihak yang bertikai, mencari solusi politik bagi konflik Libanon.

Penempatan pasukan UNIFIL di perbatasan ke Suriah, untuk sementara ini tidak direncanakan. Hanya jika pemerintah Libanon mengajukan permohonan untuk itu, kata Annan. Suriah menolak dengan tegas tuntutan Israel untuk mengawasi perbatasannya dengan Libanon.