Eropa Coba Tengahi Konflik Timur Tengah | Fokus | DW | 06.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Eropa Coba Tengahi Konflik Timur Tengah

Situasi politik di Timur Tengah dan usaha Eropa untuk menjadi juru penengah menjadi sorotan berbagai harian internasional.

default

Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung berkomentar:

"Perang saudara di Palestina tentu saja hanya merupakan salah satu konflik yang saat ini sedang mengguncang kawasan Timur Tengah. Seperti kekerasan di Irak dan di Libanon, perang saudara ini juga merupakan sebuah pukulan dalam pergulatan antara Amerika Serikat dan Iran, yang dua-duanya mencari sekutu di negara-negara Arab. Ketika para petinggi kelompok Hamas mengangkut koper penuh dengan uang dari para pendukung mereka di Teheran dan berbagai tempat lainnya melewati perbatasan, Washington mengirim uang dan senjata kepada Abbas untuk meningkatkan kekuatannya.

Dengan memboikot pemerintahan kelompok Hamas, Eropa turut serta membuat Palestina menjadi bola permainan dalam adu gulat Amerika Serikat-Iran dan menggiring kelompok Hamas ke Teheran yang miskin. Dengan ini mereka sama sekali tidak memperbaiki kesempatan bagi dihidupkannya kembali proses perdamaian.“

Sementara itu Harian Jerman Märkische Allgemeine mengomentari kunjungan Kanslir Jerman Merkel ke Timur Tengah. Harian yang terbit di Berlin ini menulis:

"Terlepas dari semua ambisi politik dan rasa tanggung jawabnya, Merkel merupakan sosok yang cukup realistis untuk mengenal keterbatasan pengaruh Eropa di Timur Tengah. Karena Merkel tergolong sebagai salah satu mitra Amerika Serikat yang dihormati, prakarsanya ini dapat memberikan dorongan positif. Setelah diplomasi bolak balik selama puluhan tahun, orang tidak boleh melupakan satu hal, yaitu bahwa sebuah kesepakatan hanya dapat didorong dan didukung oleh pihak luar. Pada akhirnya kunci perdamaian terletak pada pihak-pihak yang bertikai sendiri. Cara rakyat Palestina menyelesaikan perselisihan internal antara kelompok Hamas dan Fatah sekarang ini hanya menyisakan ruang kecil bagi kesepakatan dalam waktu cepat.”

Tema lain yang menjadi sorotan berbagai harian internasional adalah politik Irak Amerika Serikat. Harian Prancis Ouest-France berkomentar:

"George Bush salah jika ia berpikir, bahwa perang melawan teror memperbolehkan segala cara, segala tindakan dari pemerintahannya. Untuk menangkis kecaman bahwa ia tidak kompeten, dalam politik Iraknya, presiden Amerika Serikat ini mencoba melarikan diri ke depan. Orang bisa menerima, bahwa serangan teror terhadap Amerika Serikat telah membuat orang Amerika mengerti, bahwa mereka merupakan bagian dari dunia yang rumit dan mereka tidak berdiri sendirian diatas panggung. Tetapi kejadian 11 September 2001 terlihat memperkuat sebuah mentalitas yang tidak ingin mengerti hubungan yang rumit ini, dan tidak mampu menempatkan diri pada posisi pihak lain. Politik tidak dapat dijalankan sendiri, melainkan bersama-sama dengan pihak lain.“

Sementara itu harian Prancis lainnya La Tribune mengomentari tentang rancangan anggaran belanja Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dinaikkan secara dramatis.

"Semua untuk serdadu Amerika Serikat di Irak dan tidak ada atau hampir tiada anggaran untuk sektor yang lainnya. Rancangan anggaran rumah tangga pemerintahan Bush untuk tahun 2008 memperlihatkan prioritasnya dengan jelas. Prioritas belanja persenjataan meningkatkan anggaran militer Amerika Serikat ke jumlah yang tidak pernah dicapai semenjak Perang Korea 50 tahun lalu. Hasil dari pertempuran yang sekarang dilancarkan Bush melawan Kongres terlihat sama meragukannya dan sama tidak pastinya seperti hasil Perang Salib yang ia lancarkan untuk melawan terorisme internasional.”