Eropa Bersiap Hadapi Serbuan Obat-Obatan Terlarang | Seri Uni Jerman | DW | 16.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Eropa Bersiap Hadapi Serbuan Obat-Obatan Terlarang

Belasan LSM anti obat-obatan terlarang Eropa dan Internasional berkumpul di Berlin. Dari strategi sampai kordinasi menjadi agenda pembahasan.

Pengguna Kokain di Swiss

Pengguna Kokain di Swiss

Seusai pertemuan, utusan khusus masalah obat-obatan pemerintah Jerman, Sabine Bätzung langsung membeberkan kepada pers soal agenda pembahasan dalam pertemuan antara kordinator obat-obatan negara anggota Uni Eropa.

"Agenda utama pertemuan antara lain perbaikan kerjasama antara organisasi internasional yang aktif di bidang obat-obatan. Di satu sisi kami memang menyadari, bahwa terdapat perbedaan yang besar antara organisasi-organisasi itu menyangkut cara kerja, determinasi dan jangkauan kerja mereka. Tapi di sisi lain semua organisasi itu memiliki tujuan yang sama, yakni mencari solusi atas masalah obat-obatan terlarang di seluruh dunia."

Sebagaimana tahun lalu, upaya memangkas jumlah pengguna obat-obatan terlarang masih menunjukkan trend yang positif. Misalnya saja jumlah kematian akibat obat-obatan terlarang anjlok menjadi hanya 1.200 kasus. Meskipun demikian, Sabine Bätzing mewanti-wanti, agar semua pihak tidak terburu-buru puas atas hasil yang telah dicapai,

"Kita hanya bisa melanjutkan trend positif ini kalau kiita mampu mempererat kerjasama dengan organisasi internsional. Dengan kerjasama semacam itu kami bersama organisasi lainnya bisa meneliti penyebab ketergantungan dan konsumsi yang berlebihan dari obat-obatan terlarang."

Kerjasama yang diinginkan Bätzung memang baru sebatas wacana. Tapi kini kerja sama dan koordinasi antara organisasi internasional menjadi fokus utama dalam pemberantasan obat-obatan terlarang.

Wofgang Götz, Direktur Lembaga Pengawas Ketergantungan Obat-obatan Eropa mengaku, institusinya memiliki pernanan penting untuk mendukung kebijakan pemerintah dengan informasi yang objektif. Baginya, pertemuan dengan sesama pemerhati konsumsi obat-obatan terlarang merupakan wadah yang tepat, apalagi ketika pembahasan memasuki tema mariyuana.

"Kalau kita berbicara soal mariyuana, maka kita juga harus menyadari, bahwa mariyuana merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi diantara obat-obatan terlarang yang lain. Tapi kita juga tidak boleh lupa, bahwa mariyuana juga merupakan jenis yang paling sedikit menimbulkan kerusakan pada masyrakat. Karena yang paling parah tetaplah heroin."

Eropa memang menjadi salah satu tujuan utama penyeludupan obat-obatan terlarang. Bayangkan saja, 90 persen heroin yang diproduksi di Afghanistan laris dijual di Eropa. Tak berbeda dengan Mariyuana asal Maroko yang menjadikan Eropa sebagai pangsa pasar terbesarnya.

Bukan cuma itu, Eropa juga didaulat sebagai produsen obat-obatan kimia terbesar dengan Ecstasy dan Amphetamine sebagai produk unggulan. Tak ayal, fakta tersebut membuat Uni Eropa gelagapan. Carel Edwards, kepala badan kordinasi perang melawan obat-obatan di Komisi Eropa mendesak agar semua negara anggota merumuskan kebijakan bersama.

"Uni Eropa harus mengkoordinasikan sendiri dana 700 juta Euro yang ditujukan untuk memerangi penyeludupan dan konsumsi obat-obatan terlarang. Supaya uang itu yang sebagian besar digunakan dalam kerjasama dengan PBB menjadi model perang ala Eropa sendiri dan akhirnya menimbulkan perhatian yang cukup."