Eradikasi TBC: Perang Panjang Tak Kunjung Usai | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 11.06.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Kesehatan

Eradikasi TBC: Perang Panjang Tak Kunjung Usai

Eradikasi bakteri TBC yang mematikan perlu waktu beberapa dekade lebih lama dari target WHO. Untuk mempercepat perogram para ahli kedokteran kembangkan vaksin baru untuk melawan penyakit klasik itu.

Tonton video 03:56

Perang Berkepanjangan Melawan Bakteri TBC

Dokter di rumah sakit Vigo di Spanyol Utara berjuang mengobati penyakit lama yang hampir terlupakan, yang membuat hidup seseorang  seolah berada di neraka, yakni penyakit TBC

Alfredo Cabaleiro Besada, seorang pasien pengidap Tuberkulosismengisahkan:"Setelah didiagnosis tuberkulosis, saya punya dua pilihan: pertama, tinggal dalam jangka waktu lama di kamar rumah sakit di mana tidak ada yang bisa mengunjungi saya tanpa memakai masker khusus.  Kedua, tinggal di rumah dan datang ke rumah sakit setiap hari untuk pengobatan, suntik dan minum  22 pil perhari. Saya memilih opsi kedua. Jika saya harus pergi ke luar, ke toko roti atau tempat lain, saya selalu harus memakai masker."

TBC membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya di seluruh dunia dan di Eropa yang tergolong bagus sistem kesehatannya, sekitar 100.000 kasus baru didiagnosis setiap tahunnya. "Penyakit ini secara bertahap membuat lubang di paru-paru, hingga terlihat seperti keju Swiss. Dan setelah infeksi tuberkulosis merambah paru-paru, infeksinya menyebar melalui darah ke organ lain, otak, tulang - setiap organ manusia yang dialiri oleh darah", ujar pakar penyakit paru-paru, Rafael Vázquez.

Perjuangan panjang eradikasi TBC

Di laboratorium bioteknologi dekat rumah sakit Vigo, para ilmuwan dari proyek penelitian Uni Eropa mencoba menemukan jawaban atas tantangan kompleks dan dramatis yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Ini adalah upaya besar jangka panjang.

Carlos Martín, Pakar Mikrobiologi, Universitas Zaragoza mengungkapkan: "Saat saya masih mahasiswa di sekolah kedokteran, pada awal tahun 80-an, Organisasi Kesehatan Dunia WHO menarget eradikasi TBC tahun 2000. Kini para pakar menyebut tahun  2050 sebagai kemungkinan tahun eradikasi penyakit itu. Tapi itu hanya dimungkinkan, jika kita memiliki alat diagnostik yang lebih cepat, obat baru yang lebih ampuh untuk melawan strain baru yang kebal dan vaksin baru."

Hasil pertama proyek tersebut  adalah kandidat vaksin baru, yang diproduksi di fasilitas penelitian ini. Berbeda dengan vaksin tuberkulosis yang sudah ada sejak 100 tahun, ini adalah vaksin hidup berbasis versi bakteri yang dilemahkan pemicu penyakit. Para peneliti berharap, hal ini akan membuat vaksin lebih aman dan lebih efektif.

"Budidaya bakteri tuberkulosis hidup pada skala industri sangat rumit. Kami berbicara tentang mikro-organisme yang tumbuh sangat lambat. Kami perlu menunggu antara 1 dan 2 bulan sebelum dapat bekerja dengan vaksin ini. Dan iniVaksin  hidup. Agar benar-benar efisien, kami harus memastikan kelangsungan hidup bakteri dan stabilitasnya di seluruh proses manufaktur", ujar ahli farmakologi María Eugenia Puentes.

Uji vaksin jangka panjang

Di kota Lausanne di Swiss, sekitar 1.800 kilometer dari Vigo. dimulai uji klinis fase pertama dengan menggunakan sukarelawan. Para peneliti sedang mengevaluasi keamanan kandidat vaksin. Juga meneliti  efisiensinya dalam merangsang molekul yang dianggap melindungi tubuh manusia terhadap penyakit tersebut.

Pakar Immunologi  François Spertini menjelaskan: "Akan sangat bagus, jika pada tahap pertama uji klinis, kami dapat menunjukkan bahwa Molekul  pelindung ini ada di tubuh para sukarelawan. Itu berarti bahwa pada pasien nyata, mereka yang memiliki molekul akan lebih terlindungi daripada mereka yang tidak. Ini yang akan kami coba verifikasi. "

Jika berhasil melewati tiga tahap uji klinis yang diperlukan untuk validasi ilmiah, para peneliti berharap produksi industrial vaksin baru bisa mulai sekitar sepuluh tahun lagi. Jadi eradikasi TBC harus menunggu cukup lama. Juga keampuhan vaksin amat tergantung dari kecepatan mutasi bakteri Tubercolosis yang berlangsung amat cepat, karena di banyak wilayah masih dilakukan pemberian obat secara tidak rasional.

as/vlz (DW Inovator)

 

Audio dan Video Terkait