Energi, Tema Utama di Masa Datang? | dunia | DW | 12.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Energi, Tema Utama di Masa Datang?

Pertikaian antara Rusia dan Belarusia terkait masalah energi membuat risau negara tetangga.

Saluran pipa minyak di Belarusia

Saluran pipa minyak di Belarusia

Secara politis dan militer Rusia mengalami kerugian besar. Namun sebagai pemasok minyak dan gas, negara itu bisa berlagak sebagai penguasa pasar dunia.

Jerman saja yang hanya mampu memenuhi 3% kebutuhan minyaknya dari cadangannya sendiri, dan untuk gas 16%, sangat tergantung pada negara beruang merah itu. 35% kebutuhan minyaknya berasal dari Rusia.

Terutama negara-negara Uni Eropa tergolong sangat tergantung pada energi minyak dan gas, sekarang ini semakin menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan kedua sumber energi itu. Sebagian besar minyak dan gas yang mereka butuhkan berasal dari luar Eropa.

Sementara, kebanyakan disuplei oleh satu negara distributor saja. Apalagi dampak aksi pemutusan pasokan energi dari Rusia ke Eropa, yang beberapa hari lalu dilancarkan Belarusia, terutama dirasakan oleh Jerman.

Rusia sebagai salah satu pemilik cadangan gas alam terbesar di dunia, membuat Presiden Rusia, Vladimir Putin boleh berlagak sombong saat KTT G8 bulan Juli tahun lalu, yang diselenggarakan di Saint Petersburg.

Untuk pertama kali tema „Penyediaan Energi Global“ diangkat sebagai pokok agenda konferensi. Sebuah aksi pamer yang hendak menunjukkan pada dunia, bahwa Rusia adalah salah distributor penting energi dunia.

Pada awalnya Kanselir Jerman Angela Merkel tidak tergubris oleh penghentian pasokan minyak yang dilakukan Belarusia. Karena selama ini, demikian tutur Angela Merkel dalam KTT G8 tadi, selama 40 tahun Rusia adalah pemasok yang dapat dipercaya. Bahkan selama perang dingin.

Meski Uni Eropa pada awalnya mengatakan, terhentinya ekspor minyak itu belum mengancam suplei minyak ke wilayah Uni Eropa, sekarang ini ada ketidakjelasan haluan politik Rusia. Menteri Perekonomian Jerman Michael Glos mengatakan:

„Penghentian pasokan minyak itu sangat merisaukan. Insiden itu menunjukkan bahwa ketergantungan kepada satu pihak seharusnya tidak boleh dikembangkan.“

Demikian juga negara pemasok minyak lainnya seperti Nigeria dan Iran yang dianggap kurang dapat dipercayai dipantau kritis oleh Uni Eropa. Namun, Uni Eropa belum menemukan solusi terbaik untuk mengikat kedua negara itu.

Pembukaan saluran minyak pipa baru lewat Turki, yang menghubungkan saluran energi yang aman dan murah dari timur ke barat, diharapkan dapat mendobrak monopoli Rusia. Disamping itu, negara-negara Uni Eropa merencanakan mengurangi kebutuhan energinya hingga 13% sampai tahun 2020.

Untuk jangka panjang, Uni Eropa akan memesan secara kolektif untuk negara anggotanya. Sebuah strategi baru untuk menekan harga sekaligus mendemonstrasikan kuasa dan kesatuan Uni Eropa.

Langkah Uni Eropa itu sangat lihai, mengingat Cina dan India memiliki pertumbuhan industri sangat tinggi, juga akan tampil sebagai pembeli energi massal di pasar dunia nanti.

Iklan