Enam Negara Berembuk Soal Program Atom Korut | Fokus | DW | 19.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Enam Negara Berembuk Soal Program Atom Korut

Korea Utara butuh sekolah, jalan dan rumah sakit, bukan senjata atom

Rudal-rudal milik Korea Utara

Rudal-rudal milik Korea Utara

Juru runding Amerika Serikat, Christopher Hill, terlihat kurang optimis ketika memasuki bagian kedua perundingan hari Selasa kemarin. Ia menginginkan kesepakatan dengan Korea Utara, tetapi tidak dengan segala cara.

„Kami ingin sekali berunding. Tetapi keinginan kami untuk berunding seharusnya tidak lebih besar dari keinginan pihak lain. Kalau kami tidak mencapai suatu hasil, ya berarti memang tidak bisa.“

Hill menegaskan, bahwa Amerika Serikat sama sekali tidak akan menerima kekuatan atom Korea Utara.

„Korea Utara membutuhkan sekolah, klinik, jalan dan pelabuhan udara. Mereka butuh banyak hal, seperti bahan pangan dan listrik. Namun tidak membutuhkan senjata atom. Mereka serba kekuarangan, tetapi kelihatannya tetap ingin mengembangkan sendiri senjata atom. Dan hal ini harus dihentikan.“

Senin lalu para juru runding dari enam negara bertemu untuk kembali mengadakan pembicaraan setelah lebih dari satu tahun. Juru runding Korea Utara, Kim Kye Gwan, mengajukan sejumlah tuntutan. Menurut para anggota delegasi, ia juga mengatakan bahwa setelah uji coba atom Oktober lalu, Korea Utara menjadi sebuah kekuatan nuklir dan juga harus diperlakukan seperti itu. Semua sanksi terhadap Korea Utara harus dicabut, sebelum Pyong Yang bersedia untk berunding tentang penghentian program atomnya, lanjut Kim.

Negara-negara peserta pertemuan, termasuk Cina, Korea Selatam, Jepang dan Rusia menuntut rezim Kim Yong Il untuk merealisasikan persetujuan bersama bulan September lalu. Dalam hal ini Korea utara pada dasarnya telah menyatakan bersedia menjelaskan program atomnya, dan sebagai imbalannya, Korea Utara seharusnya mendapatkan bantuan energi dan ekonomi serta jaminan keamanan.

Juru runding Christopher Hill dengan jelas melihat tanggung jawab dari pihak Korea Utara untuk keberhasilan pembicaraan ini.

„Dalam beberapa hari mendatang kami akan mendapat kesan apakah dapat membuat kemajuan atau tidak. Menurut saya, setiap anggota delegasi kami, yang telah bekerja keras untuk datang kesini, ingin sekali melihat suatu kemajuan. Tetapi ini semua tidak tergantung dari kami atau dari tuan rumah Cina. Sekarang semua terutama tergantung dari Korea Utara, apakah akan dicapai kemajuan.“

Selasa kemarin Amerika Serikat antara lain ingin mengadakan pembicaraan bilateral dengan Korea Utara. Sebuah utusan khusus dari kementrian ekonomi Amerika Serikat ditunggu kedatangannya untuk berunding dengan Kora Utara tentang sanksi-sanksi ekonomi dari Amerika Serikat. Lebih dari setahun yang lalu Washington membekukan rekening Korea Utara di Makau karena ada dugaan bahwa Pyong Yang menggunakan rekening tersebut untuk mencuci uang dan mengedarkan uang palsu.