1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

El Nino Diprediksi Ancam Pangan dan Ekonomi Asia Tenggara

16 Juni 2026

Cuaca yang lebih panas dan kering di Asia Tenggara berpotensi menghambat produksi padi dan minyak sawit, terlebih ketika masyarakat masih bergulat dengan kenaikan biaya bahan bakar, pangan, dan transportasi.

https://p.dw.com/p/5FTgI
Seorang lelaki membawa kantong-kantong es menyeberangi jalan saat gelombang panas melanda Bangkok, Tailan, Kamis (02/05/2024)
Prediksi terjadinya El Nino dengan intensitas parah kini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan pangan di Asia Tenggara, yang merupakan kawasan berpenduduk terbesar di duniaFoto: Andre Malerba/ZUMA/picture alliance

Asia Tenggara tengah bersiap menghadapi pola cuaca El Nino ekstrem pada momen yang kurang tepat. Pasalnya, banyak negara di kawasan ini masih kesulitan merespons lonjakan biaya energi, transportasi, dan pangan yang dipicu oleh perang Iran.

World Meteorological Organization (WMO) atau Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan kondisi El Nino akan mulai terbentuk sebelum Agustus 2026 dan berlangsung setidaknya hingga November 2026. Artinya, suhu permukaan laut di sebagian besar Samudra Pasifik akan menghangat lebih tinggi dari biasanya. Gangguan terhadap pola angin timur-barat yang lazim terjadi juga diperkirakan akan membawa cuaca yang lebih panas ke kawasan Pasifik tengah dan timur.

Dalam periode tersebut, hujan monsun di Asia Tenggara biasanya mengisi kembali cadangan air, mendinginkan kota-kota yang mengalami suhu tinggi, serta menggenangi lahan pertanian menjelang musim tanam berikutnya. Namun, jika hujan datang terlambat atau intensitasnya lebih rendah dari normal, petani berpotensi menunda masa tanam, mengurangi luas lahan yang ditanami, atau bahkan beralih dari tanaman yang membutuhkan banyak air.

"Sektor pertanian Asia Tenggara sangat rentan terhadap guncangan El Nino yang baru karena dua komoditas utamanya, yaitu padi dan minyak sawit, sangat terkonsentrasi dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap anomali iklim," ujar Jason Lee, Ketua Southeast Asia Hub di Global Heat Health Information Network.

"Paparan risiko yang sangat besar ini membuat guncangan yang awalnya hanya terjadi di tingkat pertanian lokal dan dapat meluas dengan cepat menjadi krisis harga pangan dan inflasi yang bersifat sistemik di seluruh kawasan."

Seorang lelaki berusaha mendinginkan tubuhnya di pinggir jalan di Manila, Filipina, Jumat (26/04/2024)
El Nino juga pernah terjadi di kawasan Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir. Meski begitu, dengan guncangan politik di kawasan serta ketegangan geopolitik imbas perang Iran, dampak El Nino tahun 2026 dikhawatirkan menjadi lebih signifikanFoto: Aaron Favila/AP Photo/picture alliance

Padi, minyak sawit, dan ancaman inflasi

Bagi negara-negara Asia Tenggara, tanaman padi merupakan risiko politik terbesar. Padi adalah makanan pokok masyarakat yang sangat berkaitan dengan mata pencaharian penduduk pedesaan dan berpotensi memicu kemarahan publik apabila harganya melonjak.

Paul Teng, peneliti senior Program Perubahan Iklim Asia Tenggara di ISEAS–Yusof Ishak Institute, mengatakan kepada DW bahwa padi bisa menjadi tanaman pangan yang paling terdampak akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya tekanan panas.

"Di wilayah pertanian padi yang bergantung pada hujan, kemungkinan akan terjadi lebih banyak kekeringan lokal. Sementara itu, di wilayah sawah beririgasi, tekanan terhadap ketersediaan air kemungkinan meningkat akibat menurunnya kapasitas waduk dan sistem irigasi," kata Teng.

Ia menambahkan bahwa negara-negara yang paling rentan adalah Tailan, Filipina, Indonesia, dan Kamboja.

Menurutnya, kawasan Asia Tenggara dapat mengalami penurunan produksi beras sekitar 2% hingga 8% dibandingkan tahun normal, dengan kerugian yang lebih besar di daerah-daerah yang rawan kekeringan.

Minyak sawit menjadi perhatian besar lainnya, terutama di Indonesia dan Malaysia yang bersama-sama menyumbang sekitar 85% pasokan dunia.

"Minyak sawit sensitif terhadap kenaikan suhu yang diperkirakan terjadi. Namun, berbeda dengan padi, dampaknya mungkin baru akan terasa 6 hingga 12 bulan kemudian akibat menurunnya pembentukan tandan buah segar dan tingkat ekstraksi minyak," ujar Teng.

Para pengamat juga memperingatkan bahwa biaya pupuk dan gas telah meningkat tajam akibat perang Iran yang masih berlangsung. Jika El Nino ekstrem terjadi, harga-harga tersebut diperkirakan akan naik lebih tinggi lagi. Kondisi ini juga telah mendorong kenaikan harga pangan di seluruh kawasan tersebut.

Lee menuturkan bahwa pasar sering kali tidak hanya bereaksi terhadap kelangkaan barang, tetapi juga terhadap kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan. Akibatnya, harga dapat melonjak bahkan sebelum kerugian panen benar-benar diketahui.

"Kondisi ini membuat bank sentral berada dalam posisi siaga tinggi dan memaksa mereka mempertahankan suku bunga yang tinggi untuk mengendalikan inflasi yang dipicu oleh harga pangan. Hal itu terjadi pada saat dunia usaha di kawasan menghadapi biaya pinjaman yang lebih mahal dan anggaran pemerintah sudah terbebani oleh kebutuhan subsidi serta melonjaknya biaya energi," tambahnya.

Tekanan ekonomi di banyak negara

Sejumlah pemerintah di Asia Tenggara telah kembali mengandalkan batu bara untuk mengatasi kekurangan pasokan energi. Mereka juga memperluas subsidi untuk pangan dan layanan dasar.

Asian Development Bank (ADB) pun memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia dan Pasifik yang sedang berkembang pada 2026 dari 5,1% menjadi 4,7%. Sebagian besar penyebabnya dikaitkan dengan perang Iran.

Inflasi di Filipina pada Mei tetap berada di atas target, yakni sebesar 6,8%. Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Vietnam naik menjadi 5,6%. Tingkat inflasi utama Indonesia memang lebih rendah, tetapi kenaikan harga sebagian bahan bakar nonsubsidi hingga 32% telah meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup dan menambah tekanan terhadap kebijakan subsidi.

Dampak ekonomi tersebut juga diperkirakan tidak berhenti di sektor pertanian atau kebutuhan pangan rumah tangga. Suhu yang melampaui 40 derajat Celsius juga dapat memukul sektor pariwisata yang menjadi salah satu penopang penting ekonomi kawasan.

Musim kering juga berpotensi memicu kebakaran lahan pertanian dan lahan gambut di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi titik panas penghasil kabut asap, seperti Tailan bagian utara serta wilayah Sumatra dan Kalimantan di Indonesia.

"El Nino besar akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kabut asap lintas batas yang serius. Kondisi ini akan memperberat beban masyarakat karena risiko terhadap kesehatan publik meningkat, di samping berbagai persoalan sosial lainnya," jelas Helena Varkkey, profesor bidang ekologi politik di Universiti Malaya.

Kabut asap juga kerap menjadi ujian bagi diplomasi regional. Pemerintah sering kali enggan membatasi aktivitas perkebunan secara agresif ketika petani dan perusahaan sudah menghadapi tekanan akibat tingginya biaya produksi.

"Sama seperti ketika pandemi COVID-19 bertepatan dengan peristiwa kabut asap, pemerintah kemungkinan akan kesulitan menyeimbangkan prioritas ekonomi dan sosial," tambah Varkkey.

Dari guncangan iklim menuju ketegangan politik?

Bagi pemerintah di Asia Tenggara yang masih berupaya mengendalikan inflasi, "kombinasi antara guncangan iklim dan perang geopolitik ini menghapus ruang fiskal yang mereka miliki," kata Lee.

"Secara historis, di Asia Tenggara, ketika harga beras dan bahan bakar melampaui ambang tertentu, keputusasaan masyarakat dapat dengan cepat berubah menjadi ketidakstabilan politik," ujarnya.

Terlebih, kawasan ini telah melewati berbagai aksi protes yang dipimpin anak muda serta demonstrasi antikorupsi selama satu tahun terakhir.

Di Indonesia, mahasiswa kembali turun ke jalan di Jakarta pada Jumat (12/06) untuk memprotes rencana belanja Presiden Prabowo Subianto dan kenaikan harga bahan bakar. Mereka menuntut harga bahan bakar dan pangan yang lebih terjangkau.

Indonesia Tahan Harga BBM Subsidi di Tengah Lonjakan Global

Di Filipina, ketegangan yang sudah berlangsung antara dua faksi politik utama semakin memanas akibat kemarahan publik terhadap skandal korupsi besar. Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga mengemukakan kemungkinan penyelenggaraan pemilihan umum lebih awal apabila ketegangan di dalam koalisi pemerintahannya semakin memburuk.

"Pemerintah menghadapi ancaman nyata berupa demonstrasi massal, aksi mogok buruh di pusat-pusat industri manufaktur, serta gejolak domestik yang dapat mengguncang stabilitas pemerintahan dan mengganggu perjanjian perdagangan regional," kata Lee.

Proyeksi cuaca masih dapat berubah, dan pemerintah masih memiliki waktu untuk mengamankan pasokan air, mengelola cadangan pangan, menyalurkan subsidi secara lebih tepat sasaran, serta memberikan peringatan kepada petani sebelum keputusan musim tanam ditetapkan.

Namun, ruang untuk melakukan kesalahan kini kian sempit. El Nino kuat yang datang bersamaan dengan mahalnya harga bahan bakar dan pupuk, kini berpotensi mengubah tekanan biaya hidup di Asia Tenggara menjadi ujian politik besar berikutnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Adelia Dinda Sani

Editor: Muhammad Hanafi

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait