Jerman: Kandidat Neo-Nazi Gagal, Ekstremisme Tetap Mengakar
11 Juni 2026
Kota kecil Aue-Bad Schlema jarang menjadi tajuk utama berita. Terletak di Pegunungan Ore dekat perbatasan Jerman-Ceko di tenggara Sachsen, kota ini dikelilingi oleh hutan yang indah dan jauh dari hiruk pikuk kota besar.
Di kawasan bekas penambangan ini, masyarakatnya sangat terikat dengan akar budaya mereka dan bangga melestarikan tradisi moyang, seperti musik marching band, boneka pemecah kacang (nutcracker), serta hiasan piramida Natal yang terkenal.
Namun, kemenangan yang nyaris diraih seorang kandidat dari partai, yang secara resmi diklasifikasikan sebagai ekstremis sayap kanan, telah menyisakan awan gelap di langit Aue-Bad Schlema.
"Saat Anda berjalan melewati kota ini hari ini, Anda akan melihat orang-orang yang ceria. Namun, itu bisa menyesatkan," kata Jürgen Freitag kepada DW.
Freitag adalah seorang editor di Freie Presse, sebuah surat kabar yang meliput wilayah Pegunungan Ore.
"Penampilan luar bisa menipu," ujar Freitag. "Saya melihat suasana hati kota ini sedang terbelah."
Tradisi Panjang Nazisme di Sachsen
Stefan Hartung, seorang politisi sayap kanan dari partai Freie Sachsen (Sachsen Bebas), hampir saja terpilih sebagai wali kota. Ia meraih sekitar 47% suara dalam pemilihan putaran kedua pada tanggal 7 Juni. Ia kalah tipis dari Marcus Hoffmann dari partai beraliran konservatif Uni Kristen Demokrat (CDU), yang meraup 53% suara.
Hartung berasal dari Bad Schlema dan telah aktif dalam politik lokal selama bertahun-tahun. Sebelumnya, ia merupakan anggota partai neo-Nazi, Partai Demokrat Nasional Jerman (NPD), yang dinilai memiliki ideologi serupa dengan Nazisme oleh pengadilan tingkat tinggi Jerman.
Ia menjabat sebagai wakil ketua partai Freie Sachsen, partai yang dianggap lebih radikal daripada partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) di Jerman. Partai ini secara resmi juga diklasifikasikan sebagai kelompok ekstremis di Sachsen. Badan intelijen domestik negara bagian mencatat: "Freie Sachsen adalah sebuah kelompok neo-Sosialis Nasional yang terorganisasi sebagai sebuah partai politik."
Kampanye partai terhadap imigran di Jerman tergolong bertaraf radikal. Secara rutin, akun media sosial Freie Sachsen dipenuhi hasutan permusuhan terhadap pengungsi dan imigran. Mereka secara umum menyalahkan warga asing atas meningkatnya angka kriminalitas, dan secara resmi menyerukan deportasi massal.
Sejauh ini, Freie Sachsen belum banyak mendulang kepercayaan. Rintangan politik untuk jabatan eksekutif seperti perdana menteri atau walikota pun dipandang terlalu tinggi buat partai berideologi ekstrem ini. Dalam pemilihan umum terbaru negara bagian Sachsen, mereka hanya meraih sekitar 2% suara. Dalam pemilihan umum daerah tahun 2024, perolehan suara mereka secara keseluruhan tetap berada di bawah 5%.
Kondisi demokrasi tetap mengkhawatirkan
Namun, Partai Freie Sachsen kini menarik perhatian nasional setelah berhasil mencapai putaran kedua pemilihan wali kota di Aue-Bad Schlema. Pencapaian ini diyakini diraih berkat investasi besar-besaran.
"Situasinya lebih buruk daripada saat pemilihan umum federal," kata Felix Sell kepada DW. Ia bekerja di tingkat lokal untuk Competence Center for Community Work, yang mempromosikan kohesi sosial di Aue-Bad Schlema. "Ada kampanye besar-besaran untuk Stefan Hartung," ujarnya dan menambahkan bahwa hal itu jelas membuat banyak orang terkesan. "Itu membuat kami takut."
Sell merasa lega karena Hoffmann memenangkan pemilihan tersebut, sebagian karena ia bukanlah "politisi karier pada umumnya." Harapan kini tertumpu padanya, "Kita harus bersatu, dan semua orang harus melakukan bagiannya."
Kondisi demokrasi di Jerman secara keseluruhan masih menjadi perhatian. Sell mengatakan bahwa masyarakat di Aue-Bad Schlema semakin tidak peduli dengan siapa yang mereka pilih, bahkan ketika kandidatnya adalah seorang ekstremis sayap kanan. "Warga sangat kecewa dengan politik."
Freitag sependapat dengan pandangan ini. Baginya, hasil pemilu tersebut mencerminkan tren nasional bahwa ekstremis sayap kanan mendapatkan dukungan di seluruh Jerman, tidak hanya di Aue-Bad Schlema. "Tidak semua pemilih Hartung dapat digambarkan sebagai ekstremis sayap kanan, tetapi pemilu ini juga tidak boleh diremehkan," ia memperingatkan.
Partai Freie Sachsen mungkin akan berhasil mengembangkan struktur sayap kanan yang sudah mapan di kota ini dan di seluruh wilayah Pegunungan Ore.
Bukan hanya nutcracker dan brass band yang memiliki tradisi panjang di wilayah ini, tetapi juga gerakan antidemokrasi dan ekstremis sayap kanan. Tak lama setelah reunifikasi Jerman pada awal tahun 1990-an, kelompok neo-Nazi terbentuk di wilayah tersebut. Anggota gerakan antidemokrasi Reichsbürger juga mulai menetap di sana. Gerakan ini tidak mengakui negara Jerman saat ini dan menyebutnya negara yang tidak sah. Mereka lebih mendukung berdirinya Reich Jerman.
Kelompok sayap kanan Nationalsozialistischer Untergrund (NSU), yang membunuh 10 orang di Jerman dalam serangkaian pembunuhan teroris yang lama tak diselidiki, juga menemukan lahan subur di sana. Gerakan yang didukung Andre Eminger ini mengusung satu motif: rasisme.
Meskipun populasinya hanya sekitar 19.000 jiwa, Pegunungan Ore dikenal dengan masyarakat sipil yang dinamis. Aue-Bad Schlema memiliki lebih dari 300 asosiasi. Felix Sell mengatakan bahwa pemilu tersebut telah memicu perubahan. Berbagai perkumpulan di kota itu menjadi lebih dekat satu sama lain demi demokrasi dan keberagaman. "Dulu, jaringannya lemah," kata Sell. "Tidak benar-benar berfungsi. Namun, sekarang, sesuatu mulai terbentuk."
Artikel ini diadaptasi dari artikel bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Rizki Nugraha