Ekspor RI 2019 Turun Tajam, Neraca Dagang Masih Tekor US$ 3,2 Miliar | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 15.01.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Ekonomi

Ekspor RI 2019 Turun Tajam, Neraca Dagang Masih Tekor US$ 3,2 Miliar

Sejumlah sektor mengalami penurunan ekspor di tahun 2019, seperti ekspor migas, industri pengolahan dan tambang. Hanya ekspor pertanian yang naik dibanding tahun 2018. Sementara, neraca dagang masih minus US$ 3,2 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia sepanjang 2019 sebesar US$ 167,53 miliar. Angka ini tercatat jauh lebih rendah dibandingkan kinerja ekspor tahun sebelumnya yang mencapai US$ 180,01 miliar.

"Ada penurunan yang lumayan tajam, turun 6,94% dari tahun sebelumnya," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (15/1).

Pada bulan Desember 2019, ekspor migas Indonesia tercatat turun 31,9% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara ekspor non migas naik 5,7%. Sedangkan dalam setahun penuh, total ekspor non migas Indonesia di 2019 turun 4,8% dari US$ 162,8 miliar ke US$ 154,99 miliar.

Baca juga: Jokowi Ingin Duta Besar RI Berperan sebagai Duta Ekspor

Berikut sejumlah sektor yang mengalami penurunan pada ekspor 2019.

Ekspor migas 2019 turun 27% dibandingkan 2018, ekspor industri pengolahan turun 2,7%, dan ekspor tambang dan lainnya turun 15%. Hanya ekspor pertanian yang naik 5,3% dibandingkan 2018.

"Kita harap kontribusi dari sektor pertanian akan meningkat dan bisa dorong ekspor kita," kata Suhariyanto.

Pangsa ekspor non migas terbesar Indonesia adalah Cina, Amerika Serikat, dan Jepang. Kemudian disusul India, Singapura, dan Malaysia.

"Pangsa tidak berubah, masih ke Cina, AS, dan Jepang. Ke Asean 23% share-nya dan Uni Eropa 9,24%," kata Suhariyanto.

Baca juga: RI Kebanjiran Impor Produk Cina, dari Laptop hingga Jeruk

Neraca Dagang RI tekor

Neraca dagang Indonesia sepanjang 2019 tercatat defisit US$ 3,2 miliar. Angka ini berasal dari ekspor setahun penuh sebesar US$ 167,5 miliar dan impornya sebesar US$ 170,72 miliar. Defisit ini memang terbilang lebih kecil dibanding tekor neraca dagang 2018, namun terhitung masih cukup tinggi.

"Defisit 2019 lebih kecil dibanding defisit 2018," kata Suhariyanto.

Defisit neraca dagang berhasil ditekan lewat penurunan impor yang cukup dalam. Impor berhasil ditekan dari US$ 188,7 miliar menjadi US$ 170,7 miliar.

Baca juga: Jokowi Minta Ekspor Mobil 1 Juta di 2024, Cuma Gembar-Gembor atau Realistis?

Amerika Serikat, India, dan Belanda menjadi tiga negara yang paling defisit sepanjang 2019 neraca dagangnya terhadap Indonesia. Artinya Indonesia lebih banyak ekspor dibandingkan impor terhadap negara-negara tersebut.

Sementara negara-negara yang neraca dagangnya paling surplus terhadap Indonesia di 2019 adalah Australia, Thailand, dan Cina. Indonesia lebih banyak impornya dibanding ekspor terhadap ketiga negara tersebut.

Berikut data neraca perdagangan RI selama 2019:

Januari: defisit US$ 1,16 miliar
Februari: surplus US$ 330 juta
Maret: surplus US$ 540 juta
April: defisit US$ 2,5 miliar
Mei: surplus US$ 210 juta
Juni: surplus US$ 200 juta
Juli: defisit US$ 60 juta
Agustus: surplus US$ 85 juta
September: defisit US$ 160 juta
Oktober: surplus US$ 161,3 juta
November: defisit US$ 1,33 miliar
Desember: defisit US$ 30 juta

(pkp/gtp)

Baca selengkapnya: detiknews

Ekspor Lesu, Neraca Dagang RI 2019 Masih Tekor US$ 3,2 Miliar

Banyak Sektor Lesu, Ekspor RI 2019 Turun Tajam