Eksil GAM Jejakan Kaki Kembali di Aceh | Fokus | DW | 20.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Eksil GAM Jejakan Kaki Kembali di Aceh

Setelah tiga puluh tahun bermukim di pengasingan akhirnya para bekas petinggi GAM dapat melepas kerinduan mereka di tanah leluhur, Aceh.

default

Tepat pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat, Rabu 20 April 2006 sejumlah tokoh GAM dari Swedia dan Malaysia mendarat di bandara Iskandar Muda di Aceh. Setelah lebih dari 30 tahun inilah pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya di Aceh. Kedatangan mereka disambut dengan penuh keharuan sekaligus gegap gempita rakyat Aceh.

Seorang bekas anggota GAM berkata: "Kami bahagia sekali dengan kepulangan beliau. Ini merupakan suatu pertanda bahwa MOU itu memang akan dilaksankan seperti yang kita harapkan.“

Di Banda Aceh, jalan-jalan yang dilalui para pemimpin Aceh macet dimana-mana. Namun tak tampak aparat kepolisian Indonesia berseragam. Yang tampak hanya pengamanan swadaya pihak GAM sendiri dengan kemeja putih berdasi.

Dalam kesempatan ini, Malik Mahmud, bekas perdana menteri GAM menyatakan: “Dalam kesempatan ini saya ingin melihat bagaimana nasib bangsa Aceh, kehidupan ekonomi bangsa Aceh dalam pasca konflik dan tsunami.

Selain bekas Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, hadir pula bekas Menteri Luar Negeri GAM, Zaini Abdullah, dan tak ketinggalan sang juru bicara Bakhtiar Abdullah. Meski kehadiran mereka tanpa disertai pemimpin Hasan Tiro, kepulangan mereka membuat suasana di Aceh begitu meriah. Namun kedatangan para pemimpin GAM ini menjadi jalan kepulangan Tiro nantinya ke Aceh.

Selain rindu kampung halaman, beberapa agenda penting menjadi tujuan kehadiran mereka kali ini. Diantaranya memonitor proses rekontruksi dan rehabilitasi Aceh pasca tsunami, dan tak ketinggalan memantau di lapangan hasil perundingan damai Helsinki, mencari informasi seputar pembahasan RUU Pemerintahan Aceh. Malik Mahmud mengungkapkan: "Saya lihat memang ada juga suatu keresahan, karena itu sudah dibahas dan sudah lambat daripada jadwal semulanya, Cuma karena itu menjadi dasar dari Aceh Masa depan saya harap apa yang tercapai dalam MOU itu tidak ada lagi halangannya, supaya tetap jangan ada perubahan.“

Bertepatan dengan kedatangan para pemimpin eks GAM, berkunjung pula ke Aceh, Pejabat Uni Eropa untuk Urusan Luar negeri, Javier Solana. Kamis (20/4) ini, digelar pertemuan penting antara Solana, petinggi GAM dan Misi Monitoring Aceh AMM. Menurut Faye Belnis dari AMM pertemuan itu menjadi penting sebab meski kondisi Aceh semakin kondusif, pemantauan masih perlu dilakukan semua pihak.

Kedatangan para pemimpin GAM ini sebenarnya diikuti oleh penasehat GAM, William Nessen. Ia dulu merupakan wartawan yang pernah tinggal di markas GAM, saat hubungan GAM dan RI masih tegang. Namun kehadirannya kali ini dicekal di Bandara Polonia Medan. Nessen sendiri merasa heran dengan pencekalannya, beserta dua penasehat GAM lainnya, Damien Kingsbury dan Edward Aspinall, dari Australian National University. Padahal mereka berjasa membujuk GAM untuk mau merundingkan perdamaian dengan Indonesia.

Panitia penyambutan mengagendakan serangkaian kegiatan 15 hari bagi para pemimpin GAM. Namun sangat terbuka peluang bagi para pemimpin GAM untuk pulang selamanya ke bumi Serambi Mekah itu.