1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi permusuhan Arab Saudi dan Iran
Ilustrasi permusuhan Arab Saudi dan IranFoto: Zoonar/picture alliance
KonflikArab Saudi

Buntut Eksekusi Mati, Iran Hentikan Dialog dengan Saudi

14 Maret 2022

Perundingan rahasia yang dimediasi pemerintah Irak di Baghdad sedianya diadakan untuk meredakan krisis di Yaman. Eksekusi massal terhadap minoritas Syiah oleh Saudi akhir pekan silam memicu eskalasi baru.

https://www.dw.com/id/eksekusi-minoritas-syiah-iran-hentikan-dialog-dengan-saudi/a-61116100

Reaksi Iran datang pada Minggu (13/3), sehari setelah Arab Saudi mengumumkan eksekusi mati terhadap 81 narapidana. Situs berita Iran, Nournews, melaporkan pemerintah secara sepihak menunda perundingan dengan Arab Saudi di Baghdad.

Sejak setahun terakhir kedua negara berunding secara diam-diam untuk memulihkan hubungan diplomasi. Beberapa hari silam, Kementerian Luar Negeri di Teheran masih mengumumkan putaran kelima perundingan dengan Arab Saudi dijadwalkan berlanjut pada Rabu (16/3).

Pada Sabtu (12/3) malam, sebanyak 81 narapidana di Arab Saudi menjemput ajal di tangan algojo sebagai ganjaran atas beragam tindak kriminal, mulai dari pembunuhan hingga afiliasi dengan kelompok militan. 

Dewan HAM Saudi di Eropa (ESOHR) mencatat puluhan terpidana berasal dari kelompok minoritas Syiah. Sejumlah kasus tergolong sebagai delik ringan, seperti paritispasi dalam aksi demonstrasi terlarang. Kendati begitu semua terpidana mendapat vonis yang sama.

Minoritas Syiah sejak lama mengeluhkan perlakuan sebagai warga kelas dua di Arab Saudi. Kebanyakan bermukim di wilayah timur, berbatasan dengan Bahrain yang juga bermayoritaskan Syiah. Riyadh selama ini tidak ragu menggunakan hukuman mati untuk mendamaikan paksa penduduk di kawasan kaya minyak tersebut.

Ketegangan baru di Timur Tengah

Strategi serupa sebenarnya juga dijalankan rezim di Teheran hingga kini. Tapi pada Minggu, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam eksekusi oleh Saudi sebagai "tindak tidak manusiawi yang melanggar prinsip dasar hak asasi manusia dan hukum international,” kutip media-media nasional Iran.

Perundingan di Baghdad dimulai secara diam-diam tahun lalu untuk mencari jalan keluar dari situasi pelik di Yaman. Di negeri miskin itu, Riyadh menggalang koalisi yang melancarkan serangan udara brutal untuk menyokong pemerintahan resmi Yaman. Sebaliknya Iran bahu membahu dengan pemberontak Houthi melawan Khartoum.

Tertundanya perundingan di Baghdad diputuskan ketika ketegangan baru menyapu kawasan Timur Tengah. Minggu (13/3) kemarin, Iran menyerang kantor konsuler Amerika Serikar di Irbil, Irak, sebagai balasan atas serangan Israel di utara Suriah yang menewaskan dua komandan Garda Revolusi pekan lalu. 

Reaksi Teheran terhadap eksekusi massal oleh Saudi dikhawatirkan akan memicu eskalasi konflik di Timur Tengah, serupa tahun 2016 silam.

Saat itu, Arab Saudi mengeksekusi mati ulama Syiah, Sheikh Nimr al Nimr. Buntutnya warga Iran mengamuk dan merusak dua kantor perwakilan Saudi di Teheran. Sebagai reaksi, Riyadh memutus hubungan diplomasi dengan Iran. 

Eksekusi massal kali ini juga memicu aksi demonstrasi sporadis warga Syiah di Bahrain pada Sabtu (12/3) tengah malam. Bahrain merupakan negara mayoritas Islam Syiah, namun dipimpin oleh monarki Sunni. Penduduk di negara kepulauan itu tergolong yang paling sering menggugat nasib minoritas Syiah di Arab Saudi.

rzn/hp (ap, rtr)