Ekkard Brinkmeier, Peneliti Baja dan Intan | Iptek | DW | 17.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Ekkard Brinkmeier, Peneliti Baja dan Intan

Sejak muda Ekkard Brinkmeier tertarik pada baja dan intan, material keras yang sering digunakan untuk peralatan teknik presisi tinggi.

Intan tidak hanya digunakan sebagai perhiasan, melainkan juga untuk peralatan industri

Intan tidak hanya digunakan sebagai perhiasan, melainkan juga untuk peralatan industri

Di Jerman tenaga insinyur sangat dibutuhkan. Di negeri teknologi tinggi ini lowongan kerja untuk insinyur lebih tinggi dari jumlah insinyur yang ada. Walau pun menarik, anehnya minat orang Jerman untuk menekuni studi teknik makin hari makin menurun. Mereka menganggap kehidupan sebagai ahli teknik membosankan dan kuno. Saat ini yang sangat dicari adalah insinyur bidang teknik material, mesin, konstruksi, teknologi, matematik, kimia dan fisika. Salah satu bidang studi yang langka peminat adalah teknik manufaktur. Ekkard Brinksmeier, insinyur teknik manufaktur bekerja di sebuah laboratorium teknik presisi tinggi. Alat kerjanya adalah intan.

Asah, potong dan putar, giling, bor dan gosok, begitulah kegiatan sehari-hari Brinksmeier. Perkakas kerjanya memiliki tingkat presisi tinggi, sangat keras, dan tahan pecah. Hanya saja alat itu tidak berkilau. Perkakas kerja intan tak menarik mata, tembus pandang, dan lebih tajam dari segala pisau cukur. „Intan adalah abadi“, tapi bila disandingkan dengan baja menjadi tak berarti. Ekkard Brinksmeier, profesor teknik manufaktur Universitas Bremen menjelaskan sebabnya:

Ekkard Brinksmeier: "Intan merupakan materi terkeras yang kita kenal. Intan sebenarnya dapat mengolah segalanya. Namun unsur dasar intan adalah karbon dan baja memiliki unsur besi yang besar. Besi memiliki afinitas tinggi terhadap unsur karbon pada intan. Jika orang memakai intan sebagai perkakas kerja, alat pengasah atau penghancur, dan digunakan untuk mengolah besi atau baja, maka baja akan menghisap unsur karbon pada intan. Akibatnya mata intan tersebut mengecil dan terkikis dengan cepat.“

Hal itu tidak dapat diterima Brinksmeier. Dia ingin bekerja dengan baja dan intan karena baja merupakan material yang digunakan dalam pembuatan bagian dengan presisi tinggi. Baja tahan kikis, banyak kegunaannya dan mempunyai permukaan yang sangat halus. Bahkan ada yang tingkat kekasarannya hanya beberapa nanometer. Artinya, baja lebih halus dari sekedar halus. Apa yang disebut kasar sebenarnya gundukan kecil yang tediri dari 20 atom. Mata dan jari tak dapat melihat dan menyentuh. Untuk menghasilkan permuklaan ekstra halus, perkakas intan digunakan. Alat dengan batu mulia ini sekarang sudah dapat digunakan pada baja, setelah penelitian dan industri mengadakan percobaan bertahun-tahun:

Ekkard Brinksmeier: "Percobaan banyak menggunakan nitrogen cair dan dengan berbagai macam teknik pengolahan. Namun tak pernah berhasil. Kami menemukan suatu proses, dimana kami bekerja dengan ilmuwan teknik material. Kami berhasil memodifikasi permukaan baja secara kimiawi. Dengan cara itu unsur karbon pada intan tidak menyebar ke dalam baja. Kami sekarang dapat membuka peluang besar dengan penggunaan baru ini.“

Apa yang dibuat para ilmuwan dalam modifikasi dan bagaimana menyusun kembali struktur baja, tak mau disebutkan Ekkard Brinksmeier. Proses ini sudah didaftarkan hak patennya. Industri optik sangat tertarik dengan proses itu. Lensa optik diproduksi dengan cor atau pres gelas, dan untuk itu dibutuhkan alat cetakan. Gelas atau plastik cair disuntikkan ke dalam cetakan tersebut, dengan proses itulah terbentuk lensa. Jika proses itu diterapkan dalam produksi massal maka tidak menjadi masalah. Namun jika proses itu diterapkan untuk memproduksi lensa presisi maka cara itu tidak cocok. Ukuran alat cetak seharusnya benar-benar pas dengan lensa yang akan di produksi. Kesalahan kecil seperti ketidak tepatan dalam pengukuran mengakibatkan ketidakpresisian lensa. Namun itu bukan berarti lensa rumit dengan pres gelas ultra presisi memerlukan biaya tinggi:

Ekkard Brinksmeier: "Lensa proyektor sangat rumit. Lensa itu bukan lensa biasa melainkan lensa asperis yang memiliki bentuk rumit. Saat ini lensa tersebut merupakan begian termahal di dalan alat proyektor. Itu berarti jika orang memiliki teknologi murah dalam produksi lensa dengan perkakas yang tidak mudah terkikis, maka akan menjadi keuuntunga besar bagi perusahaan optik Jerman.“

Istilah „produksi Jerman“ sangat berkesan bagi Ekkard Brinksmeier. Institut Teknik Alat Bantu Kerja Bremer Stiftung di mana Brinksmeier menjadi kepala teknik manufaktur, mendapatkan dana 85 persen dari kontrak kerja industri. Pembangunan laboratorium teknik presisi tinggi dibiayai Brinksmeier dari hadiah penghargaan Leibniz yang didapatkannya tujuh tahun lalu dari Perhimpunan Peneliti Jerman. Brinksmeier sangat menyayangkan langkanya insinyur penerus dan sulitnya mencari orang untuk mengisi enam posisi di lab tersebut. Brinksmeier juga sangat geram dengan birokrasi universitas:

Ekkard Brinksmeier: "Sekarang masalahnya ide bagus saja tak cukup dalam menghasilkan uang. Orang baru akan berpenghasilan jika idenya bernilai positif. Penghargaan Leibniz memiliki prinsip ide bagus akan dibayar mahal. Saya ingin menekankan bahwa saya punya pekerja yang bekerja khusus di bidang publikasi yang bertugas untuk memberi pengertian pada masyarakat, apa yang sebenarnya kami lakukan.“

Publikasi tentang unversitas dan jurusan yang kekurangan peminat memang belum banyak dilakukan. Juga tentang hasil-hasil penelitian di universitas, masih kurang publikasi yang menggunakan bahasa yang mudahg dicerna kaum awam. Seahrusnya, publikasi itu lebih banyak dilakukan di Jerman. Sebab, sebagian besar dana untuk universitas berasal dari uang publik. Masyarakat dan pembayar pajak berhak tahu, penelitian apa saja yang mereka biayai dan apa saja yang bermanfaat bagi mereka.